Pondasi Gereja Katolik Di Papua Terguncang

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

3 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Foto Istimewa.

 

Oleh, Pater Yan Dou, Pr.

 

Selekage Wita

Dasar Gereja Katolik di Papua adalah Orang Asli Papua. Perempuan dan laki - laki asli Papua merupakan satu kesatuan dalam dasar hirarki Gereja Katolik. Kaum awam maupun imam barang tentu bagian dari pondasi Gereja Katolik.

 

Tokoh Gereja Katolik, baik dari kalangan awam maupun imam itu ibarat pondasi atau tiang - tiang Gereja. Jadi, lihat  dan pastikan.

 

Bahwa, jika orang atau  pondasi atau juga tiang - tiang Gereja Katolik itu sakit dan menderita? Maka itu sama halnya pondasi Gereja sakit dan menderita.

 

Kondisi seperti itu bisa dikatakan bahwa, daya tahan struktur penting dalam Gereja mengalami guncangan atau dalam waktu tertentu tidak akan mampu lagi menghadapi daya tekan bangun dari luar, seperti guncangan akibat gempa dan lainnya.

 

Jika pobdasi Gereja Katolik di Papua satu per satu meninggal, kita tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan apapun. Kita tinggal tunggu waktu untuk hancur dan mati dalam bencana besar yang akan merubuhkan Gereja Katolik.

 

Jika kondisi ini berlaku? Sungguh kita tidak bisa menolak kehancuran yang berujung pada kematian. Kematian akan menjemput semua orang.

 

Kita semua akan mati karena pondasi Gereja tidak kuat dan kehilangan daya tahan atau sakit, menderita dan meninggal dunia.

 

Kita semua adalah calon mayat - mayat dalam hirearki Keuskupan masing - masing. Kita semua akan hancur dan mati secara beruntun.

 

Kita semua akan mati. Itu sudah pasti dan harga mati. Karena kematian untuk kita tekah diatur sedemikian rupa. Kematian kita sudah ditargetkan. Kematian kita sudah dirumuskan. Kematian kita sudah menjadi agenda penting.

 

Kita yang awam akan hancur dan mati tak terhormat diatas simbol Gereja Katolik di Papua. Kita akan mati diatas darah yang tumpah diatas pundak ibu segala yang hidup.

 

Kita pasti hancur dan mati laris dalam rencana dan rancangan kematian manusia. Kita tidak bisa bergerak apa - apa. Kita semua akan terjerumus dalam jaring kematian sistematis, terukstruktur, dan berkelanjutan.

 

Kita semua akan mati secara masif. Kita semu akan mati secara tidak wajar. Kita semua akan mati tiba - tiba dan misterius.

 

Jangan kaget. Kematian kita pada usia yang mudah tidak selamanya kehendak Tuhan. Kematian yang begitu cepat memiliki unsur kepaksaannya.

 

Unsur itu dilahirkan oleh manusia dan dijalankan oleh manusia. Tidak perlu bertanya banyak. Lihat saja motif kematian tokoh - tokoh Gereja Katolik kita pada belakangan ini. Semua memiliki motif yang sama. Kita tahu, mereka meninggal karena katanya: "jatuh".

 

Saya mengimani, semua Pater Papua yang meninggal adalah berasal dari buah rencana dan rancangan manusia. Tentu ini punya aroma dengan persaingan ketat dalam hirearki masing - masing Keuskupan di Papua.

 

Kematian ini juga memiliki kaitan dengan misi keutuhan negara. Kita sulit membuktikannya. Tapi tanya kepada hati kecil.

 

Apa suara hati kecil kamu terkait kematian Pater Jack Mote, Pr; Nato Gobai, Pr; Dr. Neles Tebai, Pr; Mgr. Philip Saklil, Pr dan lainnya?

 

Penyebab kematian mereka, salah satunya adalah apa yang dikatakan oleh  suara hati kita masing - masing.

 

Besok selain dari mereka akan menyesul? Oh, iya. Siapa saja? Lihat kondisi kesehatan para Pastor dan tokoh - tokoh awam Orang Asli Papua.

 

Semua mengantongi sakit! Itu pasti!

 

Lihat siapa juru masak di Pastoran. Lihat siapa juru masak di paroki. Lihat siapa juru masak cindios. Lihat siapa juru cuci piring kotor di dapur.

 

Lihat siapa juru cleaning servis di kamar dan ruang makan. Lihat siapa juru kebersihan lingkungan. Lihat juru sopir motor dan mobil. Lihat perawat atau dokter yang tangani mereka. Masih banyak lagi. Silahkan jabarkan sendiri.

 

Banyak benalu kita berakar dalam hirearki. Selamat siap hancur dan mati di dalam hirearki Keuskupan Jayapura, Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Agats, Keuskupan Timika Keuskupan Manokwari - Sorong.

 

Penulis adalah Umat Katolik Keuskupan Jayapura.

 

Benarkah?

 

Kematian yang berawal dari Jatuh tiba-tiba di tempat lalu meninggal :

1. Pater Nato Gobay , jatuh tiba-tiba dikamar mandi lalu meninggal seusai pimpin misa dgn semangat 30 menit sebelumnya.

2). Pater Yulianus Bidau Mote, Jatuh pingsang tiba-tiba di bandar udara wamena saat berangkat dari Jayapura ke Wamena untuk pergi memberikan seminar tentang politik dan kerawam kepada cendekiawan awam katolik. Lalu, sakit berobat dan meninggal.

3) Pater Neles Kebadaby Tebay jatuh tiba-tiba di ruang kuliah di STFT "Fajar Timur" lalu sakit, berobat dan meninggal.

4) Mgr. John Philip Saklil jatuh terpeleset dan meningal tiba-tiba. Pertanyaanya adalah dari suku, budaya dan daerah manakah panah (Racun) yang menjatuhkan dan mematikan ini? Tolong dilacak semua untuk direfleksikannya.

 

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait