Puisi-puisi Bertus Dogomo

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

3 Bulan yang lalu
PUISI

Tentang Penulis
Bertus Dogomo. Ist

 

#1. Ko Ibarat Roko

(Puisi ala Papua)

 

Ko seperti asap…

Yang sa hisap…

Hingga bersarang di dada dan mengendap…

 

Ko seperti nikmatnya roko…

Sekali hisap makin ketagian…

 

ko manis...

seperti manisnya kapas pada roko…

saat bibir menyentu...

rasa manis menjemput…

 

sa adalah pemadat roko…

jika tanpa roko rasanya sebagian dari sa hilang…

 

ko sudah seperti roko…

 

sa lupa…

kalau hisap roko itu kadang membawa penyakit…

ada penyakit kanker…

ada juga penyakit paru-paru...

 

tapi sa tidak pernah berhenti meroko…

karna roko ajarkanku arti setia…

setia untuk nikmatnya hisapan…

stia untuk sakit yang akan sa rasa…

 

karna roko suda jadi sa…

dan ko  bagi sa suda seperti roko…

maka tong dau adalah satu dalam suka…

maka tong adalah satu dalan luka…

 

Bertus Dogomo

Jogja, 21 Desember 2018

 

 

#2. Aku Bingung

 

Entah...

Kadang aku berpikir…

Jika angin datang…

Pertanda udara akan sejuk…

Namun tidak selamanya begitu…

Bisa saja angin menjemput awan sehingga menjatukan hujan…

Aku telah salah berpikir...

 

Kadang aku berpikir…

Yang manis adalah yang terbaik…

Namun salah…

Kadang manis dapat  melahirkan penyakit…

Aku salah lagi…

 

Kadang aku berpikir…

Pertemua adalah kebahagiaan…

Gilanya aku…

Aku salah…

Bahkan pertemuan pun menyimpan serpihan duri…

Salah lagi aku…

 

Aku lela dengan tabak-tebakan…

Sebenarnya apa yang jujur…

Jika realitas kehidupan hanyalah dua…

Adalah baik dan buruk…

Itu saja…

 

apa yang telah aku pikir…

sehingga sejati hidup tenggelam dalam pandangan…

aku kelebihan ambisi…

sehingga yang gila aku anggap waras…

sehingga yang wajar aku anggap gila…

aku yang gila atau mereka…

aku tak tau…

aku pun bingung…

 

Bertus Dogomo

Jogja, 18 Desember 2018

 

#3. Maju Berbakti

 

Tak usa kau ungkit

Nanti kau yang sakit

Mari bangkit

Bersemangat membukit

 

Jangan seperti badut

Menutup mulut

Hingga yang terjadi pun tersangkut

Marilah ikut

Tak perlu takut

 

Pada akhirnya kita akan mati

Akan di masukan kedalam peti

Sungguh tak punya hati

bila penindasan membuatmu lupa sejati

kau adalah sejati mempunyai bukti

dan kau adalah sakti

maka marila berbakti

mari dengan tekat kuta maju untuk tak terganti

 

Bertus Dogomo

Jogja, 07 Desember 2018

 

 

#4. Maju Berbakti

 

Tak usa kau ungkit

Nanti kau yang sakit

Mari bangkit

Bersemangat membukit

 

Jangan seperti badut

Menutup mulut

Hingga yang terjadi pun tersangkut

Marilah ikut

Tak perlu takut

 

Pada akhirnya kita akan mati

Akan di masukan kedalam peti

Sungguh tak punya hati

bila penindasan membuatmu lupa sejati

kau adalah sejati mempunyai bukti

dan kau adalah sakti

maka marila berbakti

mari dengan tekat kuta maju untuk tak terganti

 

Bertus Dogomo

Jogja, 07 Desember 2018

 

#5. Hadir Tanpa Diundang

 

Kami yakin…

Kau mengetahuinya…

Dari apa yang kau lihat…

Kau dengar…

Dan kau baca…

 

Setidaknya ada telinga untuk kami…

Yaa…kami…

Kami yang ada ini…

Bukan mereka yang di sana…

Tapi kami yang kau wakili…

Yaa.. kami…

 

Untuk apa kau duduk di tenga kami…

Sedangkan kami menjerit duka…

Sedangkan kami meminta keadilan…

Sedangkan kami yang harus tertindas…

 

Apakah ini watak dari wakil rakyat…

Manis hari kita bersma…

Tetapi pahit hari kau lepas tangan…

Bahkan kau tuli dan mono…

 

Janji politik busuk…

Janji hanya mulut buaya…

Janji hanya kata tanpa hati…

Janjimu tela makan kepercayaan kami…

Seprti pagar makan tanaman…

Kau adalah pagar..

Dan tanaman adalah kami…

 

Kamila korban dari janji busukmu…

Kamilah yang merasa sakitnya hingga dasar hati…

 

Entah apa yang harus kami jelaskan…

Jika mata kami harus menyaksikan pembunuhan…

Jika hari kami hanya bertugas menggali kuburan…

 

Mungkin kehadiran kami adalah noda…

Dan mungkin saja kami adalah manusia yang hadir tanpa diundang…

 

Bertus Dogomo

Jogja, 07 Desember 2018

 

#6.Tinggal Tangisan

 

Tangisan...

Pagi itu di sebela rumahku…

Anak bayi meminta makan…

Padahal banyak makanan di market…

Tapi bukan untuk para gelandangan…

 

Mengelu…

Pagi itu didepan beranda tetangga…

Anak berusia dini meminta sekola…

Padahal banyak sekolah…

Tapi bukan untuk para pengemis…

 

Bertengkar…

Pagi itu di tetanggaku juga…

Ibu mengelu uang makan…

Tapi ayah marah…

Karena penghasilan harian cuma gope…

 

Tiap hari tanpa lepas…

Selalu sambut pagi dengan ricuhnya kebutuhan…

Belum lagi uang kos-annya akan habis…

Walah….

 

Kasihan nasib mereka…

Bertahan di keramayan kota…

Sebenarnya mereka pribumi…

Entah apa dosa yang mereka perbuat…

Sehingga nasib mereka diperas…

 

Entah…

Dulu sawa yang tumbu subur…

Tapi sekarang pabrik yang tumbuh subur…

Dulu perumahan desa…

Sekarang berdiri gedung para penguasa…

 

Nasib tinggal ratapan…

Mimpi tinggal tangisan…

 

Bertus Dogomo

Jogja, 6 Desember 2018

Untuk : ( Untuk kaum Yang Tertindas dan Dirampas Haknya)

 

#7. Kasih Ibu

 

Sembilan bulan lamanya…

Melewati derasnya kehidupan…

Dengan sabar dan penuh iklas…

Engkau melindungiku…

 

Berjuang antara hidup dan matimu…

Engkau melahirkanku…

Hingga aku dapat melihat indahnya dunia…

 

Lima tahun…

Engkau membesarkanku…

Engkau mendidikku…

Dan masih menjagaku…

 

Ibu…

Waktu telah berlalu…

Usiaku pun kian bertambah…

Dan kini aku sudah dewasa…

Aku pun sudah duduk di banggku pendidikan…

Utuk mengejar cita-citaku…

 

Ibu…

Kuharap doamu selalu menyertaiku…

Dalam pendidikanku…

 

Ibu…

Dikejauhan jarak kita…

AKu harap engkau baik-baik saja disana…

 

Ibu…

Aku tak lelah juga untuk mengucap maafku padamu…

Untuk kataku yang kasar padamu…

Untuk kelakuanku yang tak baik padamu…

 

Ibu…

Bagiku kau adalah pahlawan…

 

Karya : Bertus Dogomo

Jogja, 02 Desember 2018

 

 

Penyair adalah mahasiswa Papua, kuliah di Yogyakarta

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait