Rakyat Papua Perlu Lestarikan Pangan Lokal Papua

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

17 Hari yang lalu
EKONOMI DAN BISNIS

Tentang Penulis
Melsedik Magai Yogi/KM

 

 

Oleh Melsedik Magai Yogi

 

OPINI, KABARMAPEGA.COM - Sistem ekonomi orang Papua (rakyat Papua) hidup bergantung pada makanan pokok negara Indonesia seperti beras, kue, jagung, tempe dll, dibandingkan makanan pokok sendiri seperti ubi, sagu, keladi, singkong sehingga semakin hari semakin menghilang pangan asli orang Papua.

 

Dulu potensi pangan lokal berkembang pesat masing-masing wilayah di tanah Papua. Rakyat Papua tidak mendorong dengan beras tetapi mereka mengambil dan menikmati hasil kebun yang di sediakan oleh alam Papua untuk kebutuhan hidupnya.

 

Tahun 2000-an pedalaman Papua menanam berbagai macam petatas dan keladi makanan pokok untuk memenuhi kehidupan. Mereka tidak mengalami kekurangan dalam hidupnya. Tetapi ketika JPS masuk di setiap pelosok pangan lokal asli Papua sudah mulai hilang (habis), seperti contoh di kab Paniai bibit umbi umbian bawah dari kabupaten Malang sehingga pangan lokal mulai punah berlahan-lahan.

 

Tanah Papua tanah kaya, sehingga sudah menyediakan  pangan local Papua. Sudah sediakan di tanah ini dan pemetaan potensi 7 wilayah adat Papua dengan makanan pokok seperti:

 

1. Sagu

 

Sagu merupakan salah satu sumber pangan lokal Papua terpopuler di bagian Selatan Papua, alam Papua sudah sediakan rakyat tinggal kelola dan menikmati sesuai dengan potensi wilayah tersebut, tidak perlu tanam lagi, hanya kita bersihkan pohon sagu sendirinya akan berkembang biak.

 

2. Petatas/Ubi Jalar

 

Petatas merupakan makanan pokok utama penduduk di pedalaman pegunungan tengah Papua dan mempunyai peranan penting dalam penyediaan bahan pangan lokal, makanan pokok sehari - hari. Termasuk keladi, pisang dan singkong komsumsi 100% rakyat Papua khusus penduduk pegunungan tengah Papua.

 

Setelah Indonesia masuk wilayah Papua, tatanan hidup orang Papua mulai berantakan, karena hutan satu di gundul oleh alat berat, hak-hak dasar di rampas, tempat berkebun di exploitasi, sehinga rakyat Papua menjadi penonton setia di tanahnya sendiri.

 

Secara ringkas Konvensi ILO 169 tahun 1989 memberi definisi ekonomi kerakyatan ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat local dalam mempertahan kehidupannnya. Ekonomi kerakyatan ini dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat local dalam mengelola lingkungan dan tanah mereka secara turun temurun.

 

Menurut Guru Besar, FE UGM ( alm ) Prof. Dr. Mubyarto, sistem Ekonomi kerakyatan adalah system ekonomi yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, dan menunjukkan pemihakan sungguh – sungguh pada ekonomi rakyat Dalam praktiknya, ekonomi kerakyatan dapat dijelaskan juga sebagai ekonomi jejaring ( network ) yang menghubung – hubungkan

 

Akibat dari pada tersebarnya beras JPS di seluruh tanah papua, rakyat tinggalkan berkebun, piara ternak dan sudah hebit budaya malas kerja dalam diri kita, hanya harap pada beras sehingga tempat berkebun di kuasai oleh kapitalisme.

 

Maka itu, dulu orang tua kita ketika komsumsi petatas, sagu, keladi, pisang dan singkon kesehatan tubuh kita sangat walafiat, oleh karena itu kami ajak kita semua kembali ke abitatnya masing-masing.

 

Kita tergantung pada beras, belum tentu kedepan terjadi krisis ekonomi rakyat Papua akan korban sebab tidak lestarikan pangan lokal Papua, maka kami ajak kita budayakan berkebun antisipasi sebelum terjadi dan petatas dan sagu merupakan makanan pokok kita.

 

Dengan demikian rakyat Papua jangan ikut ikutan dengan perkembangan globalisasi, rakyat fokus pada pangan lokal asli. Beras bukan warisan nenek moyang kita.

 

Penulis adalah Pemerhati Ekonomi dan Sosial. Tinggal di Timika Papua.

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait