Rasisme Dan Otsus

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

19 Hari yang lalu
TULISAN

Tentang Penulis
Alexander Gobai

 

Oleh: Alexander Gobai

 

Pelecehan Harkat dan Martabat Orang Asli Papua ditengah Hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2019, yakni “Monyet, Usir Papua” merupakan sikap Negara yang sudah tidak menghargai  orang asli Papua yang mendiami di bumi Cendrawasih.

 

Ujaran Rasisme secara spontanistas kepada orang asli Papua adalah pertunjukkan Negara kepada orang Papua  setengah  binatang.  Atas dasar itu, Rakyat Papua turun jalan secara spontanitas menuntut sikap Negara menghargai orang asli papua  stengah bintang.

 

Hampir seluruh  daerah dan kota di papua melakukan turun jalan memprotes  intimidasi, persekusi, diskriminasi dan rasisme kepada mahasiswa Papua di Surabaya dan kepada orang Papua di tanah Papua.

 

Protes menuntut keadilan di Negara ini, namun dibelokkan dengan penangkapan masal dengan menjerat pasal MAKAR, Karena diduga protes Rasisme dislipkan dengan rakyat Papua membawa bendera Perlawanan dan Bintang Kejora.

 

Selain itu,  penyebutan Monyet kepada rakyat Papua, sehingga mahasiswa Papua yang kulia di daerah Sejawa bali, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Ambon, NTT, NTB dan lainnya menyatakan sikap untuk meninggalkan pendidikan dan pulang Papua, hingga kini, mahasiswa papua yang kuliah di luar Papua masih di Papua.

 

Persoalan Rasisme masih hangat. Intimidasi, Diskriminasi, Rasisme dan Persekusi di berbagai bidang, bukan hanya di dunia pendidikan masih terus dialami dan dirasakan oleh rakyat Papua.

 

Persoalan yang sama, Persoalan Otonomi Khusus. Berdasarkan UU 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus  merupakan landasan hukum yang terjadi atas dasar rakyat Papua meminta Penentuan nasib sendiri (Referendum). Sebagai Kompromi Politik, Jakarta memberikan Otsus sebagai upaya meredam isu Hak politik bagi rakyat Papua.

 

Otonomi Khusus (Otsus) sudah berjalan selama 20 tahun di atas tanah Papua. Kesejahteraan rakyat Papua dianggap telah terjamin karena Uang Dana Otonomi Khusus. Namun, Rakyat Papua tidak merasakan dana Otsus di atas tanah Papua. Masih saja, rakyat Papua ditindas, Dibunuh, disiksa, ditangkap, dipenjarahkan, Diadili, dan lain sebagainya. Sikap Dana Otsus justru melegetimasi agar Rakyat Papua agar  MATI.

 

Selain itu, Otsus pun juga melahirkan Rasisme. Dana Otsus mengajarkan tentang pembunuhan, Intimidasi, Rasisme, Diskrminasi dan Persekusi. Selama Dana Otsus diberlakukan di atas tanah Papua akan terus tercipta Rasisme antara  Jakarta dan Papua.

 

Nyatanya, Masalah Rasisme, Rakyat Papua turun Jalan. Kini, Masalah Otonomi Khusus pun dari daerah mana-mana pun akan memprotes agar Jakarta memberikan kebebasan tentang Hak Politik  di tanah Papua.

 

Protes Tolak Otsus yang sudah dilakukan dan akan dilakukan rakyat Papua, Negara akan mencari formasi untuk melakukan penangkapan, penahanan, pemenjarahan, dan masuk pada pengadilan dan dikenakan dengan Pasal MAKAR atau Pasar PENGHASUTAN. Hukum pasal itu memang sudah menjadi Pasal untuk Orang Papua.

 

Sebagai solusi dari penulis  ialah Majelis Rakyat Papua, Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan Pemerintah Provinsi Papua agar merespon sikap tuntutan rakyat Papua tentang Otsus. Sebab, kerinduan orang papua merupakan Kajian Ilmiah yang sah,bukan  dipakai dari oraganiasi atau akademik yang ditunjukkan oleh pemerintah Provinsi Papua. Justru itu akan membahayakan dan mengorbankan rakyat Papua.

 

Penulis Eks Tapol Korban Rasisme Tinggal di Jayapura

 

#MRP

#Pemerintahan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait