Rasisme Dan Radikalisme Lebih Berbahaya Dari Separatisme

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

21 Hari yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Gembala Dr. Socratez S.Yoman/Duma wene

 

 

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

 

1. PENDAHULUAN

 

Dalam Kompas TV pada 27 Oktober 2019, Mahfud MD, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia mengatakan "

 

"Separatisme lebih berbahaya dari radikalisme.Kita harus tumpas separatisme."

 

Hemat penulis, bayi separatisme itu tidak turun sendiri dari langit. Anak separatisme itu tidak pernah ada di Tanah Melanesia, West Papua. Anak separatisme yang sudah berusia 50 tahun itu ia lahir sebagai hasil kawin paksa atau anak liar yang tidak diterima dan diakui oleh seluruh rakyat dan bangsa Papua, yaitu perkawinan paksa melalui Pepera 1969.

 

Anak yang bernama SEPARATISME itu anaknya ABRI, kini TNI. Separatisme itu ABRI-lah ayah kandungnya. Jadi, pak Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, silahkan tanyakan kepada ayah kandung Separatisme, yaitu TNI.

 

Mereka (TNI) yang selalu memelihara dan melindungi bayi Separatisme. Anak mereka yang bernama Separatisme itu kasih naik pangkat TNI, kasih tebal dompet para jenderal dan anggota TNI dan buat kokoh keberadaan TNI di Tanah West Papua.

 

Bagaimana logikanya, ayah kandungnya TNI sendiri tidak menyadari dan tidak mau mengakui bahwa SEPARATISME sebagai itu selalu digunakan, dimanfaatkan dan diobyekkan untuk membantai atau membasmi rakyat dan bangsa Papua?

 

Separatisme adalah milik TNI dan penguasa pemerintah Indonesia. Karena dalam sejarah dan kebudayaan bangsa West Papua, leluhur dan nenek moyang kami tidak pernah mewariskan namanya SEPARATISME.

 

2. Dalangnya Rasisme Tetapi Wayangnya Separatis

 

Selama ini, rakyat dan bangsa Papua dan rakyat dan bangsa Indonesia dibohongi oleh penguasa Indonesia yang memproduksi HOAX dan menyebarkan dengan memanfaatkan semua media dan kesempatan.

 

Penguasa dan TNI berkampanye, "mari kita tumpas dan lawan separatisme di Papua."

 

Pada kenyataannya penguasa Indonesia dan TNI-Polri menggunakan jurus Perwayangan Jawa, yaitu RASISME menjadi pelakon dan Separatisme menjadi wayang. Watak penguasa dan TNI-Polri yang RASIS berlindung dibalik wayang separatisme sebagai anak haram, anak rumput, anak liar sebagai hasil kawin paksa, yaitu Pepera 1969.

 

Topeng lain yang digunakan oleh penguasa Indonesia, TNI-Polri selama 50 tahun sejak tahun 1969 untuk membantai dan memusnahkan Orang Asli Papua ialah stigma makar dan OPM. Sebenarnya yang diterapkan penguasa Indonesia dan TNI-Polri terhadap Penduduk Asli Papua di Tanah Papua Barat ialah kekuasaan RASISME.

 

Jujur saja, faktanya saat ini, para penguasa Indonesia sudah menjadi musuh Allah dan musuh semua umat manusia, karena mereka semua orang-orang berpura-pura dan manusia-manusia munafik dan anti kemanusiaan, anti kebenaran, anti keadilan, dan anti kedamaian dan anti kebebasan.

 

Penguasa yang berwatak dan jiwa RASIS tapi selalu bersembunyi dibalik stigma separatisme dan makar. Perwayangan Jawa digunakan dalam pendudukan dan penjajahan terhadap rakyat dan bangsa West Papua. Dalangnya adalah RASISME tapi wayangnya stigma Separatisme, OPM dan Makar."

 

3. Rasisme dan Radikalisme

 

Penulis sampaikan secara singkat, RADIKALISME itu nama lain dari Milisi Indonesia, Barisan Merah Putih dan juga Barisan Masyarakat Nusantara.

 

Jadi, sekarang kita hidup dalam Negara yang dikuasai dan dipimpin oleh para pembohong rakyatnya sendiri. Wajah Negara dan pemerintah Indonesia ini sudah dikotori oleh para penguasa munafik.

 

Jadi, pertanyaan kita semua sebagai berikut:

 

2.1. Para penguasa, apakah Anda telah menjadi sahabat Allah, Yesus Kristus dan sahabat semua umat manusia jika Anda bersuara untuk kemanusiaan, keadilan, kedamaian, kesamaan derajat dan martabat manusia serta kebebasan?

 

2.2. Atau sebaliknya, apakah Anda menjadi musuh Allah, Tuhan Yesus Kristus dan musuh semua umat manusia, jika Anda berwatak RASISME, merendahkan martabat umat Tuhan atas nama NKRI dengan stigma separatisme dan makar?

 

Sebenarnya dan faktanya saat ini, para penguasa Indonesia sudah menjadi musuh Allah dan musuh semua umat manusia, karena mereka semua orang-orang berpura-pura dan manusia-manusia munafik dan anti kemanusiaan, anti kebenaran, anti keadilan, dan anti kedamaian dan anti kebebasan.

 

Penguasa yang berwatak dan jiwa RASIS tapi selalu bersembunyi dibalik stigma separatisme, OPM dan makar. Perwayangan Jawa digunakan dalam pendudukan dan penjajahan terhadap rakyat dan bangsa

 

Harapan dan doa penulis supaya tulisan singkat ini menyadarkan kita semua, terutama para penguasa Indonesia dan TNI-Polri.

 

Ita Wakhu Purom, 28 Oktober 2019.

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait