Rasisme dan Tuduhan

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Keterangan Foto: Foto Bersama MRP, Koalisi Pengacara Papua dan 7 Tahanan Papua di Kaltim. (Foto: Dok)

Oleh : Herog

Peristiwa besar telah kita lalui bersama, peristiwa sebutan monyet terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada tanggal 15 dan 17 Agustus 2019, yang jatuh tempo pada hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Peristiwa itu membuat rakyat Papua terpukul dan  berbeban berat di dalam lubuk hati yang mendalam. Mengigat peristiwa dalam suasana ulang tahun RI, Gabungan Rakyat Papua turun jalan menuntut agar mencabut Kalimat Monyet dan menghargai Rakyat Papua sebagaimana manusia utuh yang diciptakan Tuhan. 

Tanggal 19 Agustus 2019 adalah moment dimana seluruh rakyat di Jayapura turun aksi menuntut kepada Negara melalui Pemerintah Papua untuk menarik kalimat monyet yang disebut kepada mahasiswa Papua pada umumnya Rakyat Papua.  "Stop Intimidasi,  Persekusi, Diskriminasi dan Rasisme terhadap Mahasiswa dan Rakyat Papua".

Peristiwa yang sama terjadi di setiap daerah di Provinsi Papua Barat dan Provinai Papua. Rasisme tidak boleh terjadi terhadap Rakyat Papua. 

Persoalanya, sebutan monyet bukan baru kali didengar oleh manusia Papua. Namun, berkali-kali didengar, baik di dunia sepak bola,  di dunia Pemerintahan,  Swasta, Kesehatan, Pendidikan dan sebagainya. Keberatan akan kalimat itu, tidak diterima oleh seluruh Rakyat Papua. hingga akhirnya gelar turun jalan. 

Rakyat Papua sudah dianggap sebagai setengah manusia, sebut saja Monyet. Pendidikan monyet menjadi  fokus rakyat Papua untuk menuntut keadilan,  yakni kebebasan bagi rakyat Papua.  Sehingga tidak ada Rasisme terhadap Rakyat Papua. 

Persoalan Rasisme,  Mahasiswa dan Rakyat Papua ditangkap dan ditahan di mana-mana, baik di Polda Papua, Jakarta,  Sulawesi, Papua Barat,  Kalimantan. Mereka ditangkap karena merasa Rasis tidak boleh dibiarkan. Persoalan Rasis harus dituntaskan oleh Nagara.  Negara harus bertanggungjawab atas Sikap dan Perilaku Sebutan Rasisme terhadap Rakyat Papua. 

Penangkapan Mahasiswa dan Rakyat Papua dituduh dengan Pasal 160 dan Pasal 106. Pasal penghasutan dan Makar. sejak penangkapan, pihak keamanan sudah membangun isu besar-besar di media,  baik TV,  Cetak, Online bahkan Media Sosial. Dan membangun isu, kalau yang ditangkap adalah pelaku atau Aktor Intelektual. Hingga, semua pemimpin Papua khawatir untuk menangani kasus tersebut. 

Lebih mengerikan lagi, sudah membangun isu bahwa Penahanan Rasisme terancam Hukuman Mati.  Kelebihan pernyataan yang dibuat akan membakar semangat Rakyat Papua. Padahal sidang belum diputuskan oleh hakim tentang persoalan tersangka Rasisme.  

Sesungguhnya,  perlu ada ketelitian sebelum membuat pernyataan di media,  sebab Rakyat Papua dan keluarga tidak merasa kecewa dan khawatir. Persoalannya adalah Rakyat Papua adalah pendoa dari alam dan dari Tuhan. 

Seribu peluruh akan melihat siapa yang bekerja benar di atas tanah Papua, maka akan diselematkan,  jika tidak, tidak akan diselematkan. 

Mahasiswa Papua.

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Mahasiswa Papua

#LBH Papua

Baca Juga, Artikel Terkait