Ratusan Mahasiswa Pulang  ke  Papua,  AMP Minta Buka Posko Darurat Bagi Mereka

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

9 Hari yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Logo Aliansi Mahasiswa Papua. Ist

 

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Komite  Pusat Aliansi Mahasiswa Papua (KP-AMP) serukan kepada kepada rakyat dan Mahasiswa Papua, BEM se-Tanah Papua, Gereja-Gereja serta gerakan pemebebasan Nasional Papua:  Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Serikat Perjuangan Mahasiswa atau Sepaham Papua,  Gerakan Rakyat Demokratik Papua (GARDA-P), Parlemen Nasional West Papua (PNWP), Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB), West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) yang ada di Papua maupun Papua Barat  untuk membuka posko darurat kepulangan mahasiswa dari luar Papua.

 

Hal tersebut dikatakan oleh Pimpinan Pusat AMP, Jhon Gobai kepada kabarmapegaa.com melalui pesan electronik, Jumat (6/9/19) setelah melihat dan mematau situasi yang menimpa mahasiswa Papua di luar Papua.

 

“Sejak perlakukan diskriminasi rasial dan represif di Malang dan Surabaya pada 15,16-71 Agustus 2019 oleh TNI, Ormas Reaksioner, Pol PP dan Polisi Indonesia, tentu dirangkai dengan gelombang intimidasi kepada mahasiswa Papua yang berada di luar Papua. Pelaku intimidasi adalah TNI/Polisi, Ormas Reaksioner, dan Intelijen,” katanya.

 

Jhon menjelaskan, tindikan intimidatif oleh aparat yang disertai dengan pengiriman militer dalam jumlah yang banyak, lebih dari 8 ribu prajurit ke Papua, pasca pemblokiran internet di Papua, tentu membuat semakin tak aman bagi aktivitas mahasiswa Papua.  “Ttak hanya perkuliahan, tapi juga terbentang ketakutan dalam aktivitas sosial. Semakin memperburuk ketakutan dengan sikap dan tindakan petinggi negara yang sangat rasis dan diskriminatif soal menanggapi gejolak di West Papua.”

 

Oleh karena situasi itu, kata Jhon,  sejak akhir Agustus 2019 hingga saat ini banyak mahasiswa yang pulang ke Papua. Meninggalkan kuliah dan memilih ke Papua merupakan keputusan yang datang sejak Negara melalui aparatur reaksionernya memperlakukan diskriminasi secara rasial.

 

Katanya, Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua (KP AMP) menerima kondisi terakhir keberadaan mahasiswa Papua di luar Papua. Berdasarkan data kasar yang kami himpun, banyak mahasiswa yang pulang dalam dua bentuk koordinasi. Pertama, pulang setelah didiskusikan di organisasi kedaerahannya masing-masing dan mendata bagi yang tinggal dan pulang;  dan kedua adalah pulang tanpa koordinasi karena takut dengan situasi tersebut.

 

“Jumlah keseluruhan, terhitung sejak akhir Agustus hingga tanggal 5 September 2019, sudah mencapai lebih dari 1.000 mahasiswa. Itu data kasarnya. Hingga hari ini dan besok masih banyak yang akan pulang ke Papua,” katanya.

 

Oleh karena itu, Kata Jhon, tentu tercipta kondisi tidak aman bagi mahasiswa Papua di luar Papua tentu karena adanya kolonialisme di Papua. “Bentuk-bentuk wacana rasisme tentu berakar dari kolonialisme. Dalam pendiskusian panjang di sejumlah kota, kami telah menarik kesimpulan bahwa pulang dan tinggal, sama-sama berjuang. Penindasan dan penjajahan harus dihapuskan.”

 

“Dari kami yang sisah-sisah di luar Papua, yang terus berjuang melawan penindasan di sini, menyerukan kepada seluruh organisasi pergerakan yang berada di West Papua, mohon pantauan dari sana. Tanpa mengurangi pertahanan Anda sekalian dalam situasi darurat, kami sampaikan permohonan membuka “Posko Darurat kepulangan Mahasiswa Papua” di kota-kota Besar: Sorong, Manokwari, Jayapura dan tempat lainnya,” kata Jhon tegas.

 

Jhon menambahkan, prinsipnya kami pulang karena penjajahan, dan kami pulang untuk berjuang. “Bagi kawan-kawan Mahasiswa yang masih tinggal di Jawa, dan sedang bersiap-siap untuk pulang, segera saling koordinasi kepada organisasi kedaerahan, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua, serta Aliansi Mahasiswa Papua. Koordinasi untuk saling menjaga keamanan, persatuan, dan tentu kita sedang melawan. Tinggal di Jawa bukan untuk menyerah! Polda Metro Jaya sudah buka jalan penampungan, terali bagi pejuang, untuk kita!”

 

Sementara itu, berita terkait kepulangan mahasiswa Papua sebelumnya ditayang di Jubi edisi (5/9/2019) mengatakan hampir seratus mahasiswa dan pelajar di Manado memilih pulang ke Papua.

 

“Kami akan berangkatkan adik-adik ke Papua karena kami sudah tidak nyaman sekolah di SMA Lokon maupun SMP Lokon,” kata Magal ketika ditemui jubi di Bandara Internasional Sam Ratulagi Manado, Di Sulawesi Utara, pada Kamis (05/09/2019) kepada Jubi.

 

Dari Kota Makassar , sekitar 50 mahasiswa Papua yang tengah studi di sana, memilih pulang. Anton ketua mahasiswa Papua di Makassar kepada Jubi melalui sambungan telepon mengatakan, situasi mahasiswa yang studi di sana mulai tidak nyaman.

 

Kemudian untuk di Pulau  Jawa-Bali dan Sumatera sesuai informasi yang dihimpun media ini, dalam waktu dekat beberapa mahasiswa dan pelajar mahasiswa Papua akan pulang ke tanah Papua. Bahkan satu per satu telah meninggalkan kota studi mereka.  Jumlah yang pasti sementara redaksi belum dapat  sampaikan.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Jumpa Pers

Baca Juga, Artikel Terkait