Refleksi  Pada Malam Ini Tentang Perkembangan Papua Detik Ini

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

6 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pulau Papua. Ist



Oleh,  Antonius Boma)*


Perkembangan Papua saat ini tidak memungkinkan kepada setiap individualisme yang ada diatas tanah papua, baik itu dikalangan masyarakat, intelektual, birokrasi maupun generasi penerus bangsa west papua yang ada dalam internal papua. Karena setiap elemen yang yang ada diatas tanah Papua, sedang membunuh masyarakat dan  generasi penerus bangsa West Papua.

 


Maka detik ini saya melihat intelektual yang ada diatas tanah Papua yang sedang berjuang tentang pemekaran-pemekaran kabupaten baru diatas tanah Papua khususnya Kabupaten Baru yangdi Paniai Timur dan Kabupaten Mapia Raya dan lain – lain, itu atas dasar apa? kKalau kita meminta pemekaran kabupaten baru, belarti yang mau kerja dalam itu siapa?



Apa lagi kabupaten yang ada diatas tanah Papua pun yang kerja dalamnya itu rata – rata orang indonesia. Perkembangan papua detik ini sangat dikacaukan oleh  militerisme dan politeisme. Karena masyarakat Papua dan generasi penerus yang tidak perna bersalah saja sedang menintimidasi oleh militerisme Indonesia melalui diluar hukum yang ada.



Namun ane tapi nyata juga kaum kapitalisme, imperialisme klonialisme, anda sendiri mencantumkan dalam  dasar negara pada (alinea ke dua dan kelima). Alinea kedua berbunyi bahwa kemanusiaan yang adil dan beradap dan (alinea keliman) adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, tetapi kenapa sampai  Negara kesatuan republik Indonesia (NKRI)  sedang mencari, membunuh, bersinah,  memerkosa, menintimidasi, masyarakat sipil dan generasi penerus bangsa west papua!



Maka dengan itu, kami dari agen perubahan dari bangsa west Papua menolak dengan tegas kepada kaum kanibalisme Indonesia bahwa kedua nomor yang ada diatas ini segera di hapus, karena kami agen perubahan Papua Barat melihat mesti undang - undang dasar (UUD) 1945 itu foto copy dari Negara Belanda. Sebab realitanya yang pernah terjadi dari dulu tahun 1961 sampai detik ini 2018 tidak sesuai dengan undang - undang dasar (UUD) tersebut.



Maka dengan itu,  dasar negara ialah Pancasilah, silah yang kedua sudah jelas bahwa kemanusiaan yang adil dan beradap tetapi detik ini presiden republik Indonesia bernama JOKO WIDODO tidak perna membicarakan tentang kemanusiaan.



Dia selalu membicarakan tentang pembangunan di Papua. Oleh karena itu, presiden  Indonesia bernama JOKO WIDODO bisa saja membicarakan tentang pembangunan tetapi yang mau kerja didalam kantor itu siapa? Karena masyarakat dan generasi penerus yang ada indonesian timur yakni (papua),  sedang dipunah oleh kaum Kapitalisme, militerisme dan klonialisme dari dulu sampai saat ini.



Dan yang ada dibawa kolom langit, Tuhan sudah membagikan tanah dan kekayaan namun lokalisasinya pun sudah jelas bahwa orang Indonesia tempatnya di sabang sampai amboena atau ambon (Indonesia), orang Amerika Serikat (AS)  tempatnya di Amerika Serikat, orang Korea tempatnya di Korea, orang Belanda tempatnya di Belanda dan orang asli Papua tempatnya di Papua.



Maka  segala kejahatan diatas tanah  Papua dan segala perusahaan ilegal yang ada diatas tanah Papua segera tarik kembali ke tempat asalnya sebab tanah Papua ialah tanah punya bersejarah bukan tanah main - main oleh kaum kapitalisme, militerisme, klonialisme  yang ada diatas tanah Papua.



Oleh karena itu, Pada tahun 1967 sampai 1969 Soharto mengatakan pada saat pidato BPUPKI dan PPKI di Meja Bundar Alun -  alun Yogyakarta bahwa, negara Indonesia adalah milik orang melayu bukan dengan orang malanesia, biarlah malanesia dari belakang mereka berjuang atau menentukan nasib sendiri.



Namun Soekarno jadi presiden Republik Indonesia waktu itu dia mengatakan pada saat pidatonya bertempat Malino di Makassar, negara Indonesia adalah milik kulit putih, bukan dengan kulit hitam (Papua melanesia). Maka kami agen perubahan dari Papua, detik mengatakan dengan tegas kepada kaum negara melayu (Indonesia), berikanlah kami kebebasan bagi bangsa west Papua untuk menentukan nasib.



Oleh karena itu, saya merasa kami generasi penerus adalah stafet perjuangan penentuan nasib sendiri bagi bangsa west Papua sebab kalau bukan kami siapa lagi kawan-kawan maka marilah kawan – kkawan perjuangan kita belum berakhir bangkit dan lawan sampai titik darah pun penghabisan, itu adalah solusi demokratis bagi bangsa Papua Barat.

 

Penulis adalah mahasiswa Papua, kuliah Makassar)*

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait