Rekoleksi Bersama Pater Bernadus dan Federika Korain: Kebudayaan sebagai Kekuatan Menantang Persaingan

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Admin Redaksi Kabar Mapegaa Online
Pater Bernadus Bofiit Wos Baru, OSA dan Ibu Federika Korain bersama mahasiswa/i Aifat, Mare dan Karoon (MIYAH) (AMK) saat melangsungkan rekoleksi bersama di Goa Mari Jati Sriningsih, Sleman Yogyakarta belum lama ini. (Foto. doc. Maximus Sedik.Ist)

 

Oleh, Maximus sedik-Syufi)*

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com--Dalam kehidupan manusia, manusia mengalami berbagai persoalan yang banyak. Dari persoalan itu, manusia mencari jalan mana yang baik untuk menemukan diri yang sebenarnya. Manusia mencari diri melalui suatu renungan (pergumulan) hidup yang bisa menemukan atau mengarahkan pribadi yang sebenarnya. Untuk menemukan ini harus melalui suatu refleksi yang mendalam . Begitu pula apa yang terjadi pada diri kita semua baik secara individu maupun secara kelompok di daerah atau tempat kita. untuk melihat persoalan ini, kita harus meluangkan waktu untuk duduk bersama melihat kembali seluruh persoalan yang terjadi.

 

Untuk menjawab hal ini, telah langsungkan Rekoleksi Iman Mahasiwa-Mahsiswi Aifat, Mare, Dan Karoon (MIYAH-AMK) Yogyakarta bersama Pater Bernadus Bofiit Wos Baru, OSA dan Ibu Federika Korain, SH. Pukul. 06.30- 20.00 WIB, bertempat di Goa Mari Jati Sriningsih, Sleman Yogyakarta belum lama ini.

 

Di kesempatan yang berbahagia ini, hadirlah kedua orang yang memepunyai visi yang jelas terkait persoalan yang terjadi, mereka mengajak kita untuk duduk bersama melihat berbagai persoalan yang terjadi di daerah kita.

 

Dengan ini, mengajak kita untuk melakukan rekoleksi bersama. Rekoleksi berarti melihat kembali kembali ke belakang, pengertian ini mengajak kita untuk mampu melihat kembali ke belakang segala persoalan yang terjadi. Ketika kita melihat kembali dengan tujuan bahwa selama ini banyak persoalan yang terjadi di daerah kita. Tetapi kita tidak sadar bahwa selama ini banyak persoalan baik, persoalan sosial-ekonomi maupun persoalan ekologi yang terjadi di hadapan kita.

 

Dalam perkemabangan yang sekarang terjadi di daerah kita secara khusus Maybarat-Tambrauw dan Papua secara umumnya. Kita sebagi generasi solusi banyak yang belum memahami apa yang terjadi, baik di lingkungan masyarakat maupun di tingkat pemerintahan. Ini terjadi karena kita semua mempunyai alasan yang berbeda dari diri kita, sehingga tidak ada waktu untuk, duduk bersama untuk diskusi atau cerita-cerita tentang semua yang terjadi.

 

Pater Bernadus Bofiit Wos Baru, OSA dan Ibu Federika Korain bersama kita generasi muda Aifat, Mare dan Karoon (MIYAH) (AMK) untuk menyisihkan waktu kita yang begitu padat dengan aktivitsas pribadi kita masing-msasing untuk melihat kembali kejadian-kejadian yang terjadi daerah papua pada umumnya dan secara khusus Maybarat dan Tambarauw.

 

Kegiatan berupa diskusi kelompok yang bentuk dalam tiga kelompok terdiri dari enam  Orang. Kelompok ini membahas enam  pertanyaan yang diberiakan pater berkait dengan suatu kebiasan yang digunakan masyarakat Aifat, Mare, dan Karoon (MIYAH) sesuai dengan nama khas daerah. Dalam diskusi setiap orang menacoba untuk mendiskripsikan apa yang mereka pahami tentang pertanyaan yang dilontarkan. Baik dalam konteks ajaran iman katolik maupun teologi lokal yang hidup dan berkembanga dari moyang kita sampai sekarang ini. Pertanyaan yang diberiakan mencoba untuk membuat kita, mampu merenungkan kembali pentingnya suatu kebiasan yang ada dalam kehidupan kita di kampung halam dan mengkaitan itu dengan ajaran dalam konteks modern.

 

Pater merangkum semua jawaban yang dijelaskan dari setiap kelompok dan ia menjelaskan dengan jelas dan ilmiah. Pater menjelaskan dalam konteks teologi local yang ada di wilayah AMK, penjelasannya berkitan dengan bagaimana orang menghargai keberadaannya dengan menantang perkembangan. Dan bagaimana manusia mempunyai suatu dasar yang kuat untuk menahan diri atau berdiri secara kokoh baik secara kelompok manusi yang hidup dalam satu rumpun maupun seorang. Bagaimana seorang merancang suatu bagunan yang baik atau membangun sebuah rumah dengan bahan dasar yang kuat sehingga angin maupun badai yang datang menimpanya sulit untuk merubuhkan. Begitu pula kehidupan manusia, manusia harus mempunayi suatu landasan yang kuat. Manusi adalah makhluk yang menguasi seluruh makhluk lain baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Dan manusia mempunyai ciri tertentu yang mengambarkan dia sebagai yang sempurana diantara yang lain.

 

“Manusia harus mempunayi suatu landasan yang kuat. Manusi adalah makhluk yang menguasi seluruh makhluk lain baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.”

 

Pater mencoba mengajak kita untuk, merenungkan kembali semuanya yang di ajarkan orang tua kita dalam kehidupan di wilayah (daerah) AMK. Dan bagaimana cara untuk hidup mempertahankan diri. Dan cara orang tua mengahargai lingkunagn atua tempat dimana mereka berada, secara khusus menghargai tempat-tempat yang menjadi sakrala.

 

Berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda AMK maupun papua secara umumya, masalah yang terjadi karena akibat dari beberpa persoalan mendasar yang dilupakan kita semua, sebagai generasi AMK maupun papua secara umumnya. Dalam penjelsan yang dijelaskan oleh pater mencakup beberpa hal pokok yang penting, saya ingat ada tiga hal pokok. Terutama kita generasi di saat ini, suadah mulai melupakan apa yang menjadi dasar sehingga kita disebut sebagi orang yang memiliki suatu nilai tertentu.

 

Kita semua sudah terbawa dengan hal modern, dengan ini kita meninggalkan apa yang menjadi jati diri kita sejak awal kita dilahirkan. Kita semua mengalami kris nilai budaya yang sangat besar sehingga kita tidak mampu untuk menunjukan siapa diri kita. Dan sebagai kaum muda AMK maupun papua secara umumnya melupakan semua yang diteruskan dari orang tua kita baik, itu ajaran-ajaran yang berhubungan dengan bagaimana menghargai alam, menjaga tempat kramt, mendengarkan dan membagun persaudraan yang baik. Semuanya menjadi pudar di hadapan kita, secara tidak sadar kita mulai membagun sikap egoisme yang tinggi dan menerapkan pahanm materialis. Dan penatan kehidupan secar khusus bagaiman membangun hubungan cinta yang antar sesama juga kurang, dan menerapkan gaya berpkir lebih pada negatifnya. Sehingga kita generasi papua terjun dalam dunia itu, sebelum pada saatnya.

 

Semuanya menjadi pudar di hadapan kita, secara tidak sadar kita mulai membagun sikap egoisme yang tinggi dan menerapkan pahanm materialis.”

 

Hal ini diikuti juga dengan iman yang menjadi dasar kita, semakin hari mengalami suatu krisis yang berat dari seluruh kaum muda papua dan secara khusus kaum muda AMK. Hal ini terjadi karena berkembanganya berbagi indeologi modern yang menguasi atau melampaui seluruh samudra berpikir kita. Dengan ini kita juga, dipengaruhi bagiamna penghayatan kita sebagai seorang yang memberikan diri secara penuh dengan sang pencipta. Politik juga sebagai suatu yang menjadi target utama kita sehingga indeks konflik meningakt di Papua secara umum maupun wilayah AMK.

 

Hal ini terjadi karena ambisi untuk memanfaatkan kesempatan untuk menyimpan kekayaan yang secukupnya, melalui jabatan yang diberikan. Ini juga merusak hal-hal yang mendasar orang Papua mapun AMK secara khusunya. Dan jati diri sebagai orang yang memilki latar belakang budaya.

 

Kaum muda atau  kita semua sebagai generasi yang tidak mempunyai diri sebagi manusi yang memilki nilai-nialai kebudyaan yang baik.  Dalam nilai ini, diajarkan setiap orang untuk mampu membagun diri dengan baik, sehingga kita tidak dipermaikan oleh pengusa di negari ini atau Negara ini. Untuk mendapatkan apa yamg menjadi tujuan utama mereka (ekonomi-polotik). Tingkah laku seperti ini, akan menciptakan paham kekeluargaan (primordial) untuk menguasi berbagi aspek kehidupan.

 

Hal ini banyak yang terjadi di tanah Papua di saat ini, bukan karena sesuatu terjadi secara kebetulan. Tetapi semuanya sudah dirancang atau suatu strategai yang dipermaikan secara sistematiak dan berjalan sesuai dengan jalur yang jelas.

 

Bagaimana melihat kaum muda berdasrkan apa yang menajadi potensi kita untuk mengembangkan diri seluruh roda kehidupan. Lebih pada kita sebagai orang muda yang memiliki keungulan tertentu dalam diri terutama yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Terutama kominikasi sosial antara sesama dan apa yang tumbuh dan berkembang dari diri kita, baik intelekutualitas muapun spritualitas. Kita diajak untuk mampu memahami dunia kita maupun dunia disekitar kita, dan menanamkan benih-benih ajaran atau filosofis yang orang tua kita ajarkan. Ajaran yang bersumber pada cara hidup maupun relasi kita dengan ciptaan lain di sekitar. Di seluruh Papua dan secara khusuas AMK, nilai-nilai kehidupan sudah ada sebelum kehidupan modern.

 

Hal ini, disampaikan secara lisan dari turun-temurun, baik melalui pendidikan inisiasi maupun melalui percakapan sehari. Perkemabangan pola kehidupan yang melaju dengan cepat sehingga, membawa kita sebagai generasi Papua maupun AMK yang berlomba-lomba untuk meninggalkan apa yang menajadi dasar berpijakan. Dasar berpijak sebelum mengenal kehidupan lain sesuai dengan perkemabagan zaman. Perkembangan tidak menuntut orang utuk meninggalkan kebisaanya, tetapi perkemangan mengarahkan orang intuk berpikir secara modern sesuai dengan koteksnya. Kita diajak untuk melihat kembali nilai-nilai positif yang diajarkan orang kita, bukan berarti kita dikatakan “orang kampungan”. Menurut saya orang yang menerima pekemabangan dan tidak mentransfer dengan baik orang itulah termasuk sebagai kategari kampungan. Karen zaman modern mengajak kita untuk berpikir, bukan ikuti pengaruhnya, dan tujuannya.

 

Perkembangan tidak menuntut orang utuk meninggalkan kebisaanya, tetapi perkemangan mengarahkan orang intuk berpikir secara modern sesuai dengan koteksnya.”

 

Dengan ini, mari kita sebagai pemberi solusi dan pemecah persoalan kita berpikir dengan baik. Dan merangkum semua hal positif yang dinasihati orang tua kita sebagai suatu yang memperkuat diri untuk menantang persaingan. Kebudayaan sebagai kekuatan untuk menantang semuanya, mengapa karena yang dimilki kita tidak ada di dunia lain. Orang memandang kita sebagai manusi yang sejati karena masih mempertahankan apa yang hidup di tengah-tengah kita.

 

Semuanya sebagai kekuatan untuk menantang apa terjadi dihadapan kita”.

 

Penulis adalah mahasiswa Tambrauw kuliah di Yogyakarta)*

Edit: Admin/KM

#Budaya

#Mahasiswa dan Pemuda

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait