Saat Saat Natal Umat Kristiani Papua Merindukan Ketenangan Batin

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Yoseph Bunai/KM

 

Oleh Yoseph Bunai*

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di bagian timur, yang disebut-sebut dengan Papua adalah mereka yang hidup dalam kepercayaan mayoritas Kristiani, yang beriman kepada Yesus Kristus.Yesus Kristus, tentu diyakini sebagai penyelamat umat manusia bagi umat Kristiani dan Juga beberapa agama yang lain seperti Islam, Budha, dan Hindu yang mengimani kepercayaan mereka tanpa adanya gangguan oleh siapapun. Di Pulau Papua sudah sekian lama hadir apa yang disebut dengan  ke-lima Agama tersebut. Agama-agama yang sudah datang dan ada di Papua ini telah menerima penghormatan dan penghargaan sekian tahun lamanya dalam keadaan aman secara signifikan dan menyeluruh. Tentu, mereka juga merayakan hari raya besar  dan kegiatan iman mereka dalam keadaan dan suasana yang aman dan damai.

 

Hampir semua orang mengetahui bahwa, hari besar agama Islam selalu merayakan hari raya Idul-Fitri yang berlangsung selama 3 hari. Sesudah Ramadan dan ditambahkan dengan beberapa hari mudik lebaran umat muslim. Bagi agama Kristen Katolik dan Prostestan, Desember merupakan bulan berrahmat. Dalam bulan itu Karya Penyelamatan Allah telah terwujud nyata dalam dunia. Allah hadir dalam diri manusia secara utuh melalui Yesus Kristus yang adalah putra Allah. Dalam bulan Desember ini juga diagungkan oleh kedua agama tersebut, karena sang Sabda mempolakan manusia Yesus di dalam cara yang sedemikian rupa. Sehingga dapat membentuk pribadi tunggal di dalam-Nya yakni Penyelamat Manusia, yang lahir dikandang Bethlehem. Hal ini tidak hanya membuat kehadiran-Nya menjadi tanda yang terang-benderang tetapi juga tanda kekal dari penyingkapan kasih Allah (Trin IV 20.28).

 

Memperingati Hari kelahiran Yesus sebagai penyelamat dunia, yang telah diingkarnasi dalam putra-Nya, secara khusus agama Katolik selalu mengawalinya dengan masa Adven. Adven berarti kedatangan atau masa penantian sehingga mulai dari tanggal 1 Desember sampai 24 desember adalah masa penantian Yesus Kristus yang dalam kebiasaan dan tradisi dirayakan setiap tahun dalam bulan tersebut. Kedua agama Kristen katolik dan Prostestan mulai tanggal 1 Desember berarti juga dimulai pada masa Adven dan kegiatan natal, maka umat Allah yang sedang mengimani Yesus Kristus mulai mempersiapkan jiwa serta batin untuk merefleksikan diri dalam menyambut kelahiran Yesus Kristus sebagai puncak dari pada iman tersebut.

 

1. Pentingnya Keamanan Papua memahami tradisi Natal bagi Umat Kristiani di Papua Demi Keamanan dan Ketenangan bersama,

 

Sekian tahun, Natal dirayakan di Papua. Sekian tahun pula kegiatan iman dibuat dan dirayakan bersama dengan aparat keamanaan dan para pengaman lainya, namun sangat disayangkan sekian tahun itu belum menyadarkan mereka. Pihak keamanan belum melihat dan belum belajar memahami kondisi Papua dan tradisi Natal umat Kristiani di Papua.

 

Belajar dari pangalaman nyata bahwa, aparat keamanan dan militer dalam hal ini mengganggu iman umat kedua Agama tersebut. Di akhir-akhir bulan ini suasana aparat keamanan mulai dalam kondisi siap-siaga seakan-akan mau perang. Pertanyaannya, sebenarnya apa tugas para pengaman yang ditugaskan di Papua?, apakah tugas untuk mengganggu kegiatan perayaan hari besarnya Umat Kristen Katolik dan Prostetan?

 

Tanggal 1 desember adalah hari minggu Adven pertama bagi umat Katolik. Tanggal 1 desember adalah awal bulan hari raya penantian kelahiran Yesus sehingga bagi umat prostetan dirayakan pembukaan Natal. Pada tahun ini juga terulang kembali sikap para keamanan yang kurang etis di dalam gereja.

 

1 Desember di Gereja Gembala Baik Abepura-Jayapura Papua, para rombongan Polri dan TNI yang datang secara tidak beraturan menangkap 4 Umat Allah yang sedang ikut perayaan Ekaristi dalam bentuk busana lain. Apa tugas utama kalian sebagai petugas keamanan masyarakat tersebut? Apakah kalian TNI dan PORLI bukan Umat Allah sehingga mengganggu anggota tubuh Kristus lain yang sedang memuji dan memuliakan Tuhan dalam hari minggu Adven pertama, yang jatuh pada 1 Desember tersebut?. Tindakan ini merupakan tugas keamanan Negara, namun tindakan terhadap Umat Allah adalah tindakan yang tidak beraturan. Sebab, penangkapan dilakukan dalam suasana perayaan misa sedang berlangsung. Perlakuan tersebut akan mempengaruhi umat lain yang telah ikut berpartisipasi dalam perayaan pembukaan masa Adven.

 

Minggu ini adalah minggu pembukaan masa adven di mana umat Katolik mengawali Natal dengan empat minggu sebagai masa penantian. Pada minggu Adven pertama terlihat 4 umat yang datang ikut kebaktian dalam bentuk lain artinya membawa dengan atribut-atribut bintang kejora dan berbusana adat. Bintang Kejora merupakan sebuah atribut anti-militer Indonesia dan juga sebagai anti Negara RI, jadi sudah pasti umat merasa tidak tenang melihatnya. Atribut tersebut tidak menjadi soal ketika digunakan di dalam Gereja, tetapi ada pihak lain yang menggukan pakaian preman dan menangkap umat Allah. Sehingga, hal tersebut justru memperkeruh situasi perayaan tersebut.

 

Umat yang datang dan mengikuti misa dengan busana adat dan menggunakan atribut bintang kejora serta menggosok muka dengan cat berwarna bintang kejora ialah umat Allah yang membawa harapan mereka dihadapan Allah. Mereka juga tahu bahwa, gereja adalah tempat di mana Umat Allah berdoa, umat Allah bersatu memuliakan Tuhan. Dengan demikian penulis menggaris bawahi, hari minggu Adven yang bertepatan pada tanggal 1 Desember sebagai hari kemerdekaan Papua, sehingga ke-empat umat datang dalam busana adat dan membawa bintang kejora dalam gereja. Dalam hal ini, mereka membawa intensi atau permohonan mereka dan datang menghadap diri kepada Tuhan untuk didengarkan.

 

Kemudian empat umat yang datang ikut perayan misa yang membawa bintang kejora juga tahu akan gereja. Gereja bukanlah tempat pengaduan untuk menentukan nasib sendiri Negara Papua. Mereka juga mengetahuinya dan juga kapasitas pastornya sebagai gembala umat Allah. Maka itu sebagai Umat Allah yang datang dalam bentuk busana lain di gereja, yang membawa dengan bintang kejora adalah inisiatif sendiri, karena umat tahu dan mau  untuk menghadapi resiko. Sehingga tidak perlu mencurigakan siapapun atau gereja tersebut. Karena, semua orang Papua pasti merayakan hari ini sebagai hari kemerdekan West Papua, dalam bentuk doa entah doa pribadi maupun doa bersama pada minggu pertama masa Adven sebagai minggu yang bertepatan dengan tanggal satu desember.

 

Dengan demikian keempat umat yang berani datang mengikuti perayaan misa di Gembala Baik, kerena lantaran gereja adalah tempat doa, tempat peribadatan, tempat memuji dan memulikan Tuhan. Maka itu, Kapolda Papua yang juga sebagai Umat Allah yang mengimani Kristus mesti memaklumi hal tersebut sebagai perayaan fakta sejarah Bangsa Papua dan Masa Adven. Dengan ini sebaiknya tindakan yang diambil terhadap masyarakat semestinya dibuat sesuai dengan kaidah etis yang ada.

 

2.Gereja adalah Simbol Keberadaan Allah,

 

Gereja dimengerti dalam dua kata “Gereja dan gereja”, keduanya memiliki perbedaan secara harafiah. “Gereja” dengan huruf kapital di depan menunjukan pada semua orang yang percaya kepada Kristus dan telah dibabtis dan juga bisa disebut Umat Allah. Sedangkan yang dimaksud dengan gereja yang di depannya menggunakan huruf kecil “gereja” menunjukan sebuah tempat, ruang atau bangunan di mana orang Kristiani berkumpul bersama merayakan Ekaristi dan melakukan kegiatan-kegiatan rohani.

 

Dalam pengertian yang lebih luas, Gereja adalah tempat di mana umat Kristiani memuji dan memuliakan Tuhan. Selain itu Gereja juga tempat di mana seorang gembala megajarkan umatnya, bagaimana umat Tuhan berlaku adil dan damai. Di sini merupakan tempat umat menyembah Allah sebagai pencipta dan sebagai penyelamat. Kemudian, Gereja juga merupakan persekutuhan umat Allah. Persekutuhan Umat Allah yang merayakan Ekaristi bersama dengan mengenang kebangkitan Kristus, yang adalah penyelamat Dunia. Selain itu, Gereja juga sebagai pribadi orang yang percaya akan Kristus. Umat Allah disebut Gereja, karena Allah yang menghendaki manusia untuk disucikan dan diselamatkan, tetapi dengan menjadikan mereka satu keluarga yang dikumpulkan bersama oleh Bapa, Putra, dan Roh Kudus (KGK Art 151).

 

Gereja bukan tempat pengacau, gereja bukan tempat berpolitik, gereja bukan untuk tempat hal-hal yang tidak diinginkan oleh Ajarang Kristiani. Sehingga gereja mengajarkan siapa saja yang datang sebagai Umat Allah untuk berdoa. Gereja mengajarkan siapa saja yang datang memuji dan memuliakan Tuhan tanpa terkecuali, tak akan diusir. Kitab Suci “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu(Mat 11:28)

 

Ajarang Gereja dan dalam kepercayaan Kristiani tidak melarang orang datang untuk berdoa dalam bentuk apapun. Entah dia dalam bentuk busana adat, pakaian tidak rapih, miskin dan kaya, sehat dan sakit, semua berhak untuk datang ke gereja, karena dia juga termasuk anggota Tubuh Mistik Yesus Kristus yang adalah kepala Gereja. Yesus pun dilahirkan di kandang Betlehem yang disebut dengan kandang binatang. Kandang binatang itu pasti busuk dan tidak bersih maka siapapun berhak mengikuti perayaan misa kebaktian di gereja dengan cara apapun tidak terlepas dari Iman kepercayaannya.

 

3.Papua  Tanah  Injil,

 

Sementara aparat keamana boleh dihentikan menggangu umat yang bersifat menakut-nakuti umat Kristiani karena mereka lagi akan dalam situaisi persiapan Natal. Stop menangkap-nankap orang Papua saat bulan desember karena bulan tersebut adalah masa kesiapan diri. Bulan itu juga adalah masa pemeriksaan batin dan pertobatan. Masa itu juga adalah masa untuk memurnikan diri menerima Yesus dalam diri setiap pribadinya dan dalam keluarga. Umat Allah datang di gereja dalam bentuk apapun bukan datang berdemonstari atau berorasi tentang Papua Merdeka namun datang berdoa dan ikut perayaan dalm bentuk busana yang lain itu. Hari raya Kelahiran Yesus tersebut akan dibuat dan dilakuakn sepanjang tahun dan tidak akan berhenti sehingga aparat hargai tanah Papua itu sebagi Tanah Injil.

 

Jelang Natal tidak hanya terjadi di Gereja Gembala Baik, tetapi beberapa media telah menceritakan tindakan yang bersifat mengganggu Umat Tuhan. Seperti pemeriksaan barang-barang bawaan umat Tuhan di setiap jalan raya. Salah satunya pemeriksaan ketat terhadap umat Tuhan di KM 100 Nabire-Paniai (https//:Kabarmapegaa.com/Artikel/baca/jelang manifesto politik Papua ke 58 sweeping ketat di KM 100.html).

 

Perlakuan tersebut amat menggangu kesiapan Umat Kristiani karena umat kristiani harus mempersiapkan diri sebelum puncak perayan Natal yang disebut masa natal tersebut. Kebiasaan Natal umat Papua juga tidak hanya sekedar perayaan tetapi perayaan mereka selalu dengan acara bakar batu/barapen meriah dan lainya. Barapen bukanlah sekedar pesta tetapi mengungkapkan imannya dalam bentuk apapun. Seperti umat Papua menerima Yesus dalam adat tradisional seperti tarian adat berbusana “Koteka” dan juga dengan tindakan nyata yang dibuat yakni mengorbankan binatang piarahan sebagai persembahannya. Maka itu sweeping berarti pasti akan menemukan banyak persiapan yang disiapkan untuk natal, tidak perlu dibuat secara ketat. Hargai umat Tuhan yang  memeriahkan perayan besar dalam bentuk apapun.

 

Kemudian hal lain juga, para pengaman Papua melakukan demonstarasi penerjunan pasukan  di Timika  pada kamis pagi 28/11/2019 (https://seputarpapua.com/view/9547/-tiga pejabat Negara dan warga timika saksikan 156 prajurit terjun paying.html). Kewajiban yang telah dibuat oleh para militer dapat dibenarkan tetapi hal ini akan berdampak pada umat Tuhan yang sedang masuk pada masa pertobatan dan penyesalan. Kegiatan yang bersifat menakut-nakuti ini akan berdampak pada umat Allah, karena umat sudah dan sedang mengalami pengalaman pahit saat-saat natal maupun saat biasa sebelumnya.

 

Pengalaman pahit seperti 8 desember 2014 lalu di Paniai mengalami pengalaman sadis terhadap siswa dan masyarakat. Natal yang sebagai hari raya besar bagi umat Kristen belum mendapat tempatnya sepenuhnya. Pengalaman semacam itu akan teringat dan terrekam. Apalagi peristiwa penangkapan 1 Desember 2019 di Gereja Gembala Baik Abepura. Sebab, situasi hari ini kurang kondusif dan aman dengan keadaan Papua yang dipenuhi Aparat Gabungan. Yang mana dikirim langsung ke Papua untuk pengamanan. Perlakuan yang meragukan dan mengganggu Psikis umat Allah. Masyarakat tidak ingin mengulangi pengalaman pahit dalam bulan desember ini.

 

Hadia natal bagi warga papua selalu saja diwarnai dengan situasi genting dan tidak aman. Umat Tuhan belum lagi merasakan dan menghayati masa natal dengan tenang dan nyaman sebagaimana keluarga Kudus di kandang Natal, yang menantikan bayi Yesus melalui Yoseph dan Bunda Maria. Yosep dan Maria serta para gembala menantikan kelahiran Yesus dengan suasana tenang dalam pengharapan. Keadaan situasi Papua semacam ini mesti dikoreksi dan dibenahi oleh pihak keamanan sebagaimana mestinya. Umat Allah tidak akan bertahan dengan suasana batin yang tidak tenang, karena selalu saja diganggu oleh perlakuan aparat keamanan terhadap Umatnya. Kewajiban Negara yang dibuat aparat, perlu mengurangi tindakan yang berlebihan karena, kami umat Allah juga ingin memuji, memuliakan, dan menerima Yesus dalam diri dan dalam setiap keluarga dalam suasana yang damai dan tenang.

 

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana STFT Fajar Timur Jayapura-Papua.

                  

#Pemerintahan

#Politik

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait