Saksikan Pembukaan Pameran Seni Rupa “Mairi” Hari Ini Di Jogja

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Bulan yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Brosure. Ist

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com— Kegiatan pameran seni rupa  dengan thema “Mairi” akan dilaksanakan hari ini pukul 19.00 WIB  di Sangkring Art Project, No.88 Sanggrahan, Kasihan, Bantul, DIY. Pameran ini diselenggarakan oleh Kelompok Seni Rupa Udeido, bersama  Ignasius Dicky Takndare, dkk.

 

Ignasius Dicky Takndare, perupa asal Papua ini mengatakan pameran tersebut sedia akan dilaksanakan 3 – 10 Oktober 2019.

 

Dalam press release Kelompok Seni Rupa Udeido menceritakan tentang tema besar yang diangkat dalam pameran ini serta perjelasan singkat tentang arti/makna kata Udeido.

 

Mairi

 

Mairi adalah sebuah nama tempat dalam kisah rakyat Bintuni yang diceritakan turun temurun dari generasi ke generasi, Mairi adalah sebuah negeri yang indah, sejahtera dan damai, tempat tidak ada lagi air mata dan kedukaan. Untuk menuju Mairi siapapun harus melewati belantara raya di mana apa saja bisa terjadi. Dengan segala tantangan dan rintangannya, ada yang lalu terhilang dan ada yang akhirnya tiba di sana.

 

Demikianlah kami mencoba melihat kondisi Papua dengan jiwa kisah Mairi ini. Papua juga sedang dalam perjalanan ke Mairi-nya sendiri. Ada begitu banyak masalah dan rintangan yang menghadang di jalan ini. Banyak yang tergoda oleh kenikmatan duniawi, harta, jabatan, dan akhirnya melupakan tujuan awal perjalanan.

 

Namun sebagaimana dikisahkan dalam dongeng tersebut, kelak kita akan tiba di sana dengan berbagai didikan dan pelajaran, Tanah Papua yang damai dan sejahtera akan terwujud. Pameran seni rupa Mairi adalah wujud pengharapan dan doa untuk Tanah Papua yang lebihbaik. Lewat karya-karya kami apresiator akan diajak untuk merenungkan tiap babak dari perjalanan Papua menuju Mairi yang bisa saja merefleksikan perjalanan tiap individu yang mengkontemplasikan dirinya kedalam kisah ini.

 

Udeido

Udeido merupakan kumpulan seniman-seniman muda Papua yang aktif berkarya meski ditengah kesibukannya akan studi dan urusan lainnya. Beberapa dari mereka tengah berdomisili dan menimbah ilmu di Yogyakarta dan beberapa menetap di beberapa kota di Papua, seperti Jayapura, dan Fak-Fak.

 

Kelompok ini dibentuk pada awal tahun 2018 oleh beberapa pemuda dan pemudi Papua yang merasa perlu adanya sebuah komunitas anak-anak Papua yang khusus berkarya dan bereksplorasi di bidang seni rupa. Tidak semua anak-anak muda ini mengenyam pendidikan seni rupa, beberapa diantaranya berkuliah di jurusan lain namun menaruh minat dan aktif berkesenian meski dalam skala yang lebih kecil.

 

Udeido sendiri adalah sebuah kata dari bahasa Deiyai, yang merupakan rumpun wilayah adat Mee Pago. Akar  katanya adalah UDE yang merujuk pada nama sejenis daun, dalam bentuk jamak Ude akan disebut Udeido. Daun ini biasanya digunakan masyarakat Deiyai untuk membalut dan menutup luka, biasanya setelah dibalut dengan daun tersebut, pendarahan yang terjadi akan segera berhenti.

 

Demikianlah kami memandang kesenian dengan spirit Udeido, yaitu sesuatu yang menyembuhkan, yang menutup luka, yang menghentikan darah. Kita terlampau masuk dalam segala permasalahan dan problema sehari-hari yang membuat kita semua menjadi lelah dan letih, sehingga kami berharap suara-suara yang kami bawa lewatkarya-karya kami memiliki energi  dan semangat penyembuh, pemulihan, dan pengharapan akan yang baik.

 

 

Kemudian, dalam pameran ini, akan ada karya-karya terbaik dari perupa dan pelukis asal Papua. Menurut pantauan kabarmapegaa.com, terdapat  kuarang lebih 21 orang. 10 orang ditangkan dari Papua, sisanya masih menempuh studi di tanah Jawa. Karya-karya mereka akan di pamerkan selam kurang lebih satu minggu ini terhitung sejak pembukaan pada tanggal 3 -10 Oktober 2019.

 

Berikut adalah nama-nama perupa dan pelukis: Nelson Natkime, Mikael Yan Devis, Yanto Gombo, Brian Suebu, Syam Terrajan, Constantinus Raharusun, Ignasius Dicky Takndare, Betty Adii, Ina Wossiry, Andre Takimai, Lajar Daniartana Hukubun, Freddy Monim, Lutse Lambert, Daniel Morin, Ervance Havefun, Markus Rumbino, Pikonane, Wiliam Kalengkongan,  Widya Amir, Loudry Garfield Samnaikubun.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Papua Bisa

Baca Juga, Artikel Terkait