SAMAN, Novel Ayu Utami yang Mendobrak Tabu

Cinque Terre
Aprila Wayar

5 Bulan yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Freelance Journalist
Poster Diskusi Novel SAMAN oleh Fawawi Club. (Dok. Fawawi Club)

 

Yogyakarta, KABARMAPEGAA.comKomunitas Sastra Fawawi Club kembali menggelar diskusi novel bulanan yang kali ini masih diselenggarakan secara daring melalui aku Instagramnya, Sabtu (30/05/2020). Novel SAMAN karya Ayu Utami dibedah Shinta Maharani, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dengan dimoderatori Maria Insoraki Komboy dari Fawawi Club.  

“Sebagai pemula dalam dunia membaca sastra, ini adalah novel karya Ayu Utami yang pertama saya baca,” kata Maria Komboy membuka jalannya diskusi.

Bagi Komboy, ketertarikannya terhadap dunia sastra dirasa semakin meningkat setelah bergabung dengan Fawawi Club beberapa bulan lalu dimana novel-novel yang dibaca kemudian dibahas. Apalagi SAMAN, baginya, novel ini sangat menarik.

Sementara Shinta Maharani dalam membuka diskusi ini menyebut Saman sebagai sebuah novel kompleks dan mengganggu pembaca. Kisah ini dimulai dengan percintaan sepasang kekasih, Sihar dan Laila. Sihar seorang yang beristri, sedangkan Laila seorang perawan. Keduanya jatuh cinta saat bertemu di kilang minyak. Mereka bercinta. Tak ada yang perlu ditangisi. Tak ada dosa. Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong.

“Cinta seringkali datang tak terduga. Di sana ada keindahan, kegetiran, dan berbagai kompleksitasnya. Ayu mendeskripsikan kejujuran hubungan seksual Sihar dan Laila. Bau pelukannya, hangat lidahnya yang harum tembakau skoal. Dada besar, bibir indah. Ayu berani menyuguhkan sesuatu yang tabu, yaitu seksualitas,” kata Shinta.    

Lanjut Shinta, Ayu menggambarkan kisah asmara yang rumit antar-tokoh dan persahabatan empat perempuan. Shakuntala yang unik dengan jiwa pemberontaknya, Cok yang sering bergonta ganti pacar, Laila yang labil dan bercinta dengan suami orang, serta Yasmin pengacara yang jatuh cinta dengan mantan Pater, Saman. Yasmin berhubungan dengan Saman ketika dia sudah menikah dengan Lukas.

“Saya tertarik dengan tokoh Shakuntala yang disebut sundal oleh ayah dan kakak perempuannya. Ayu membongkar sesuatu yang tabu. Shakuntala digambarkan tidur dengan beberapa laki-laki dan perempuan. Hidup baginya adalah menari dengan tubuhnya. Ia menuruti gairah, bukan nafsu,” ujar Shinta lagi.

Dari tokoh Shakuntala orang diajak untuk berimajinasi, lanjutnya. Sebagai peri yang jatuh cinta dengan raksasa yang di pewayangan dikenal dengan buta cakil, buto ijo. Shakuntala punya pemikiran yang radikal. Dia menganggap perkawinan sebagai persundalan yang hipokrit. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas, dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya.

 “Beranjak ke percintaan Saman, tokoh utama novel dan Yasmin pengacara HAM yang telah bersuami. Ayu lagi-lagi menggambarkan kejujuran percintaan keduanya. Sesuatu yang tabu dibicarakan dalam agama dan masyarakat dengan nilai-nilai konvensional. Itu terlihat dari penggambaran adegan seksual, seperti masturbasi, bersetubuh, orgasme,” kata Shinta.

Menurut Shinta, tokoh utama, Saman, seorang Katolik digambarkan menerapkan nilai-nilai agama Katolik sebagai jalan pembebasan. Saman yang memiliki nama asli Wisanggeni semula menjadi rohaniwan yang mengabdikan diri di gereja lalu memikirkan kondisi warga Perabumulih, Sumatera Selatan yang tertindas. Dia menolong gadis gila yang diperkosa, Upi. Dia menyelami kesengsaraan dan berdiri bersama buruh-buruh perkebunan.

“Saman, seorang Pater yang kemudian menjadi aktivis dan buronan aparat karena melawan penindasan perusahaan dalam konflik lahan warga Sei Kumbang ketika rezim Orde Baru berkuasa. Saman teguh membela keadilan hukum,” ujarnya lagi.

Saman, menurut Shinta melewati penderitaan, menjadi buronan, lalu melarikan diri ke New York atas bantuan Yasmin. Saman kemudian bekerja di lembaga Human Rights Watch New York.  Ayu menulis Saman dalam suasana yang mencekam ketika rezim Orde Baru berkuasa. Tragedi Mei 1998, kerusuhan, pemerkosaan massal. Aktivis ditangkap karena mengkritik pemerintahan Presiden Soeharto. Media massa seperti Majalah Tempo, Majalah Editor, dan Tabloid Detik dibredel. Tak ada kebebasan.

“Ayu kehilangan pekerjaan karena memperjuangkan kebebasan pers, dia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dipecat dari kantornya, Majalah Forum. Media massa tak menerima pendiri AJI. Ketika pers dibungkam, sastra bicara. Lahirlah Saman yang diluncurkan pada 12 Mei 1998. Sepuluh hari kemudian, Soeharto lengser,” katanya.

Dari situasi yang gelap itu, pembaca bisa belajar dari novel Saman bahwa kebebasan dan kemerdekaan tidak datang begitu saja. Tokoh Saman memperjuangkannya dengan penuh penderitaan dan kesengsaraan, pungkasnya.

Total jumlah peserta yang ikut berpartisipasi dalam LIVE di IG Fawawi Club berjumlah kurang lebih 20 orang. Bagi pecinta sastra yang tidak sempat mengikuti diskusi menarik ini pada Sabtu lalu, dapat melihatnya kembali melalui IGTV Fawawi Club atau juga di Channel Youtube Fawawi Club. (*)

#Mahasiswa dan Pemuda

#Papua Bisa

#Pers Dibatasi

Baca Juga, Artikel Terkait