SDA yang Melimpah kembali Dihancurkan oleh Mereka!

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

7 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Oktovianus Yogi-IST

 

 

Oleh, Oktovianus Yogi

 

OPINI, (KABARMAPEGAA.com)--Rasa bangga ketika melihat orang yang peka dan peduli terhadap Sumber Daya Alam ( SDA) di Papua. Sebab Papua adalah surga kecil jatu ke numi dan papua adalah dapur dunia menurut edi kondologit ,nah berarti Papua butu perlindungan pertolongan hilangnya hutan dan tanah dan jaga Sagu dan Ubi yang di unkap oleh  Mgr.  Jhon Plip Saklil, Pr  saat itu dalam program Tungku Api.

 

“Ini yang kita khawatirkan dalam waktu 10-20 tahun ke depan masyarakat pribumi tidak lagi terlihat karena ditutupi oleh pendatang yang mengetahui ada tungku api, artinya ada peluang dan kesempatan mencari nafkah disini. “Jangan sampai kita masyarakat asli terpinggirkan, harus di dekat tungku api agar tidak lapar dan mati.” Uskup Timika, Mgr. Jhon Philip Saklil, Pr.

 

Uskup Saklil kepada para lurah, kepala-kepala kampung,RT, tokoh adat, pemuda, gereja dan tokoh perempuan, memaparkan tentang konsep perlindungan terhadap dusun dan tanah adat dengan gerakan tungku api. Uskup Saklil menegaskan saat ini umat Katolik di sleuruh dunia termasuk di Timika berada pada masa prapaskah yang mengetengahkan 2 hal utama, yaitu tentang hidup keluarga sejahtera dan berbicara tentang dusun. Kata Uskup, alam Papua ini sangat kaya akan potensinya, maka memaknai tentang tanah dan dusun harus jadi pokok renungan masyarakat adat pemilik hak ulayat.

 

Namun, belakangan ini, kesan yang disampaikan itu belum terlaksana setelah Yang Mulia Mgr. Jhon Wafat. Beliau mengatakan keadaan Papua sat ini. Maka melihat secara menyeluru di Papua banyak perusahan penambangan lokal, Perusahan kelapa Sawit dan Penebangan pohon secara liar oleh oknum tak bertanggungjawab serta banyak lagi yang belum sebut. Kehadiran perusahan ini menghancurkan hutan dan tanah secara berlahan laha di daerah  Papua.

 

Bicara mengenai penebangan pohon, seperti yang pernah dilaporkan oleh ELSHAM (lembaga hak asasi manusia di Papua Barat) Pada bulan Juli 2002. Pihaknya melaporkan terjadinya serangkaian tindak pelanggaran HAM yang dilakukan anggota pasukan keamanan Indonesia yang ditugaskan di beberapa kecamatan di Jayapura. Pelanggaran tersebut terjadi dalam rentang waktu antara bulan Februari dan Juni 2002. Laporan itu mencatat sejumlah kasus dimana orang-orang Papua dipaksa menyerahkan kayu-kayu tebangan kepada pihak militer. Mereka diancam dengan senjata, dipukuli, dan dalam satu kasus, dipaksa merangkak dan memakan tanah.

 

Kemudian soal penebangan Ilegal di Papua, khususnya di Degeuwo, MANGABAY mencatat, Masyarakat Adat dari Suku Walani, Mee dan Moni yang tinggal di sepanjang Sungai Degeuwo, Kabupaten Paniai, Papua, makin resah dalam beberapa tahun belakangan ini. Operasi tambang emas makin menggila, tanah-tanah adat terampas.

 

Tak hanya itu, kini air sungai keruh, tercemar limbah pengolahan tambang. Kondisi tambah parah kala warga yang menolak dan protes harus berhadapan dengan aparat keamanan yang ketat menjaga tambang. Tambang terus beroperasi, penyebaran penyakit seperti HIV/AIDs tak terhindarkan.

 

Siapa Yang Peduli Malapetaka Hutan dan Tanah Ini?

 

Ketika pertanyaan itu terlontarkan, yang pertama adalah kesadaran setiap individu [saya sebagai orang Papua] untuk menjaga dan  melestarikan adalah tugas utama yang mesti dijunjung. Namun tak dapat dipungkiri bahwa hilangnya hutan dan tamanan sumber pemebri kehidupan adalah ketika para investor menanam modal kemudian bekerjasama denga lembaga bahkan pemerintah. Ya pemerintah mengabaikan hal ini. Pemerintah Papua menganggapnya ha sepele. Sehingga memberikan ijin Cuma-Cuma, bahkan fungsi kontrol tidak merata dengan  baik.

 

Jika semua itu dibiarkan dan tidak meakukan penanganan secara serius maka,  ditulah pondasi hidup orang Papua hilang. Kehilangan Hutan pemberi kehidupan  dan  tanaman akan layu dan tidak subur kemudian hari.

 

Kemana Pemimpian Papua?

 

Papua banyak terlahir pemimpin yang ideal dan teruji apaka kalian melihat sumber daya alam yang sedang menangis ini ? Ataukah masih tidur.

Dalam pengamatan penulis, penambangan tambang baik itu di Paniai ,Yahukimo , Nabire, Kaimana , Timika, Jayapura telah telah melakukan penambangan aluvial artinya penambangan secara ilegal masih saja terjadi. Sebenarnya Papua butu perlindungan secara utuh karena Papua adalah  segalahnya  oleh karena itu  bagimana kelola yang  baik.

 

Ironisnya disetiap penambangan maupun kelapa sawit ,pekerja didatangkan dari luar Papua. Lalu kemana perginya orang asli Papua? Ini  menjadi masalah hari ini karena terakhirnya akan merusak  SDA untuk hilangkan hutan dan tanah di Papua.

 

Pemerintah dibawa pimpinan Gubernur kedua Provinsi, (Papua dan Papua Barat) serta jajaran dibawanya, Bupati-bupat, DPRP DPRD segera menata kembali SDA dan memanfaatkan tenaga kerja orang asli Papua di segala sektor guna meningkatkan SDM yang mapan. Kalian yang dipilih semetinya peduli  lingkungan dan juga manusia yang hidup diatasnya.

 

Penulis adalah mahasiswa Papua, Kuliah di Universitas Cendrawasih (Uncen) Papua.]*

#Mahasiswa dan Pemuda

#Lingkungan dan Hutan

Baca Juga, Artikel Terkait