Sebuah Jejak Catatan di Ilalang Kebebasan

Cinque Terre
Frans Pigai

15 Hari yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Redaktur Artikel Media Online Kabar Mapegaa (KM)
Ilst. Jejak Catatan di Ilalang Kebebasan/KM

 

 

Oleh, Frans P*)

 

OPINI. KABARMAPEGAA.com – Sejatinya manusia punya rindu yang terpupuk di jiwa merana di setiap hembusan nafas di kalbu hari. Mengapa sang revolusi pergi meninggalkan dunia yang usang?

 

Kepergian, hanya tersita hamparan debu di liang kubur. Tak jua, cinta akan berpadu dibalik jeruji ini.

 

Seberkas cinta sejarah suci akan terpancar di balik jendela  dunia, sinar itu akan tercatat sepanjang masa.

 

Ketika mentari pagi terbit, bahkan ketika matahari terbenam akan meninggalkan kami, seakan kau pergi jauh tanpa pamit pada insan manusia di bumi sejati.

 

Aku kira kau akan kembali, namun burung pun bersiul ketika matahari terbenam menyambut kegelapan malam hari. Aku kira kau akan kembali, namun waktu pun semakin berlalu dan waktu tak akan menunggu bagimu.

 

Kau telah hilang sekian lama. Kau akan pergi sekian lama. Kau tak akan kembali lagi pada hidupku ini. Sekali lagi, pasti kau tak akan kembali lagi menemani hidupku.

 

Selama ini aku relakan bahwa cintaku adalah hanya untukmu [revolusionerku]. Tapi mengapa kau ingkari janji cinta kita antara kau dan aku dalam perjuangan sejati ini. Hanya tinggal kenangan janji palsumu, namun sadarku memuncak akan perjuangan suci ini.

 

Ketika aku sedang berjalan di atas semak duri, telusuri berbagai lorong badai penderitaan. Kenapa penderitaan ini muncul lagi? Apa lagi telah menggangu konsentrasi garis pergerakan bagi hidupku.

 

Sungguh aku tak terduga, mengapa hari demi hari terjadi peperangan dan penindasan kehidupan manusia Papua. Beling-beling kekejaman, kau telah menanamkan di dalam jiwa pergerakan hidupku.

 

Kebebasan hidupku, kau telah menelusuri terlebih dahulu, tapi aku bukan mundur dengan pemikiran mustilihat yang kau ukirkan dalam hidupku.

 

Kisah pahit membekas di tanah penuh debu penjajahan [rasisme]. Hanya bayang wajah sejarah bangsaku terpapar di belantara zaman ini, kini perjuanganku menggema di seantero pusara Papuaku.

 

Rindu Membela Rupa di Medan Juang

 

Kerinduan itu pun tersilip melambai belahan jiwa bocah mungil yang melawan. Kawan perlawanan itu milik kita karena sejarah itu murni bagi perlawanan rakyat yang tertindas dibawah konsep penjajahan kolonial, namun merdeka itu akan tercipta dari pembantaian ini, karena persatuan rakyat itu perlawan murni.

 

Di kala itu, kesunyian membelah rupa atas kepergian para pahlawan-pahlawan yang gugur di medan pertempuran pun menjadi cerita dikelak nanti, atas insiden di bumi Papuaku.

 

Hanya tercacat sejarah seni kejamnya hidup bersama kolonialisme, atas penjajah yang bertahun-tahun hidup bersama kami. Kerinduan kebebasan hidup dari rangkaian penindasan, hidup terbawah gemuruh ombak.

 

Penghanyut belahan jiwa anak bangsa Papua. Hati terasa derita, terbayang pula canda tawa yang kau ciptakan untuk menggiring opini publik ini.

 

1) Kami tahu, kau sudah gagal membangun pemahaman dengan isu pengalihan, pengkondisian, pendekatan dan beberapa nilai isu-isu yang kau ciptakan untuk membunuh psikologi kami.

 

2) Kami tak mau dengan penggiringan isu horizontal yang kau praktekkan, kami hanya sadar, bersatu dan lawa.

 

3) Kami tahu, negara sudah gagal karena atas pemblokiran Internetan bahkan jaringan komunikasi di Papua beberapa waktu lalu. Jangan kau kembiri atas pembungkaman isu Papua yang (hoax).

 

4) Kami hanya minta hak kebebasan hidup diatas bumi yang kami cintai, Papua.

 

Medan Juang, 23 September 2019

Baca Juga, Artikel Terkait