Sebuah Prosa: Surga Kecil "Bumi Manusia" Di Nodai Darah Manusia Berhati Iblis !!

Cinque Terre
Alexander Gobai

1 Tahun yang lalu
TULISAN

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh : Rudhy Pravda

 

1.

Lembah-lembah hitam, berkumpul manusia yang pernah hidup dalam kurun sejarah panjang penuh perjuangan dan pengorbanan. Mereka dinamakan perkumpulan iblis, yang haus darah dan suka membunuh. Terdiri dari kelompok yang sadar sejarah, dan mengerti sebenarnya kebudayaan welas-asih. Penamaan itu adalah ulah dari skenario dan program politik rezim yang suka memfitnah, menjarah, dan membunuh.

 

II.

Sabit diayun, menghilangkan terang menyinari pohon-pohon dalam lembah yang bersih dan indah kelihatan. Manusia tergolong dalam laki dan perempuan, anak dan dewasa, belajar saling cinta dan saling menerima kasisayang meskipun setengah mati waktu dijerat ketakutan, sedikitpun mereka akan memberi dengan sesak napas dan mata tak kelihatan diam-redup menelusup kemana-mana. Mereka adalah sekumpulan manusia yang tak pernah dihargai jerih-payah hasil karya jemari yang tulus, takzim menjaganya alam semesta hidupnya, dan gagasan yang membebaskan, untuk bangsanya, untuk keadilan negerinya, tanpa lagi ada yang memakan dan menjarah hidup bergelimang kekayaan diatas orang-orang dimiskinkan menderita, melarat, dan meminta-minta belas kasih untuk disapa dan diberi makan.

 

III.

Sedang diluar sana, ada Iblis maut mengokang senapan. jantan dan gagah perkasa, memegang cambuk, merangkul rantai maut kebinasaan dan pemburuan. Mereka rajin berpesta -- bahagia,  gelora-menggila dengan pengagum anggur darah. Menunggu manusia dari lembah-lembah hitam yang berkawan dengan alam, tanah, hujan, pohon-pohon, juga langit dan bintang-bintang (alam semesta Bumi Manusia). Sabit diayun untuk bisa menyelinap bayang-bayang, bersiaga layaknya serigala sedang lapar, singa sedang lapar, dan anjing menunggu pesta menjamu hidangan tuannya. Mereka, melihat banyaknya siap menjadi mangsa, mereka dikarunia hukum haus darah, kegembiraan menjadi pahlawan bila dapat menumpas jiwa-ragawi orang-orang baik didalam lembah hitam itu. Iblis maut, punya modal menghasut dan membunuh tak kurangnya dari sejam puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Karena punya senjata, juga punya cambuk yang bisa dipakai sebagi alat kekuasaan. Kendaraan yang dinahkodai syarat dengan pembohongan dan nyawa bangkai manusia yang sayang bangsa, dan weles-asih hidupnya. 

 

IV.

Burung-burung liar yang bebas merdeka berhati-hati terbang keluar, karena si-pemburuh masih hidup, dan merantai nyawa dengan senapan--masih sama seperti sediakala. wajahnya, perannya, karakternya, pendidikannya, dan juga kekuasaannya yang dibingkai dengan segemunung buta sejarah, buta politik, buta demokrasi, buta akan pentingnya menjadi manusia sang pembebas, dinodai dengan  darah kebiadaban. kita, adalah burung dari lembah, seindahnya hidup harus merdeka, selayaknya hujan membasahi dedaunan, sabit diayun untuk sewaktu bersiap diri, kita menyelam dalam mimpi indahnya kasih, sebelum iblis maut merenggut nyawa dengan senapan, karena mereka sedang merangkul senjata menerobos dan mengambil nyawa kita. Dilembah-lembah ini, punya kita--rumah tempat kita hidup, berteduhnya perempuan dan laki, anak-anak harus selamat sampai mereka dewasa mengetahui sejarah kita yang sebenarnya. Kita harus hidup lebih bermakna, dari lembah hitam-gelap ini akan ku ceritakan apa arti hidup bermakna. Sebelum semua itu dapat didengar dengan bijaksana dan penuh perhatian takzim kasisayang, yang namanya durjana dan tirani harus ditumbangkan.

 

Catatan:

 

Dalam menjalankan tugas,  lembah-hitam, sebuah lirik lagu dari suara orang berlawan, terkurung dalam pelukan mimpi untuk bebas dan merdeka, dari penistaan-penghinaan-penghianatan-dan-korban dari ulah propaganda hitam politik rezim diktator. Aku, rangkum menjadi sebuah tulisan pendek.

 

Manado, 17 September ranta

Baca Juga, Artikel Terkait