Sebuah Refleksi: Relung Nestapa Tumbuh Subur di Akal Bangsa Papua, Siapa yang Salah?

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
RENUNGAN

Tentang Penulis
ilustrasi .ist

Oleh, Kadepa Agust)*

 

Jangankan manusia, hewan pun dapat didik entahlah menjadi apa sesuai kebutuhannya. Bicara tetang akal, berarti bicara tentang cara berpikir manusia dan kejadian-kejadiannya merupakan hasil pada kelompok atau bangsa pada suatu tatanana hidup. Tentu akal manusia dibentuk karena didik oleh suatu peradaban manusia dan pengaruhnya sebagaimana apa yang kita (papua) alami

 

Saking pintarnya manusia, sama halnya saking bodohnya manusia keduanya tidak beda jauh karena dengan kepintaran yang dihasilkan di situpun juga ada jurang kebodohan bagi manusia lain yang tidak cakap menerima dan mengaplikasikannyan.

 

Simulasi ini terjadi di Papua, manusia yang di anggap cakap di bangsa Indonesia adalah manusia yang paling dungu untuk mengatur bangsa Papua bengitupun sebaliknya manusia yang paling cakap di Papua adalah manusia yang paling dungu untuk mengatur bangsa Indonesia. Kedua perbedaan argumen ini bertolak belakan dari yang seharusnya namum memilik sumber peranannya masing-masing pada objek kekarakteristikannya. Dan selama ini sudah dan berjalan dari pemimpin ke pemimpin.

 

Argumen diatas tersebut menggambarkan posisi kepapuaan di Indonesia dan keindonesiaan di mata Papua. Ketidakcocokan itu terjadi di berbagai aspek sosial-ekonomi sehingga di situ menjadi sumber konflik antara Papua dan Indonesia dan akan selalu ada conflik (sustainable conflict). Perbedaan tersebut ditunjukkan melalui kontak verbal maupun nonverbal di masyarakat di Papua dan Indonesia.

 

Selain korban pembangunan yang di indahkan oleh Negara, Papua juga memiliki pandangan politik dengan versinya tersendiri. Sehingga Papua harus dikaji tersendiri melalu perbedaan-perbedaan realistis baik secara historis maupun adminiteratif begitupun sebaliknya jika tidak di kaji maka tadak ada solusi penawar perbedaan.

 

Bukti sejarah memperlihatkan bahwa Papua ada di kekuasaan Indonesia sejak 1962, Indonesia merdeka pada 1945 dalam 17 tahun perjuangan Indonesia berusaha mengokupasikan Papua di tangan NKRI dengan dasar yang cacat. Artinya sejarah mencacat bahwa sejak aneksasi Papua ke tangan NKRI menjadi alasan untuk mendapatkan hasil kekayaan alam Papua tidak mencakup manusianya. Buktinya sampai sekarang konflik perbedaan itu bermunculan di berbagai rana kehidupan sosial di Papua dan di luar Papua yang memicu terjadinya penderitaan sepanjang massa khususunya bangsa yang diphobiakan.

 

Stagnanan ini berlangeng memanja artinya di pelihara secara masif dengan extensitas formulasi yang dibentuk formatif. Setidaknya jatuhya korban menjadi bumbu bagi para perancang adudomba konflik Itulah selama ini menjadi cerita bahak-bahakan bagi moster berhati dua di Menja Hijau dan menikmati pembohongan public dikala semua sudah dipaksakan menjadi miliknya. Hal ini yang disebut dengan karakter genoside, akal diubahkan secara masif, terstruktur dan tersistematis. Dan benar terbukti jiwa kepapuan hilang di akal manusia Papua.

 

Raung jiwa rumpung melanesia sedang kehilangan akal sehat. Dalam kodisi seperti itu sampai detik ini kita sudah masuk di dunia android, zaman di mana manusia menikmati polarisasi hidup yang bersantun hingga mencekik leher dengan kegiatan manusia yang bermultidemensi dalam penerapannya. Tentu memiliki uraian cerita tersendiri yang berhikma bagi perancang dan pelaku untuk menjawab kebutuhan sebagai bagian dari tanggung jawab atau beban moral dengan alasan tertentu sepanjang pekerjaan tersebut berkenan dalam kehidupan seseorang.

 

Namun dalam sejarahnya bangsa Papua yang hidup di beberapa kelas kekuasaan dengan bangsa lain di Papua memiliki peranan penting mayatukan polarisasi tersebut. Sayangnya ketika bangsa Belanda, Jerman, Portugis dan diikuti ole Amerika melalui kesepakatan penanamana modal asing untuk melakukan pengerutan sumber daya alam wilaya Papua atas otoritas Indonesia di situ terjadi luka derita sepanjag massa. Dapat disimpulkan bahwa Indonesia mepertahankan Papua atas nama sumber daya alam melalui operasi penanaman coorporasi asing di wilayah teritorial bangsa Papua. Indikasi ini memperlihatkan Geo-Eko politik dunia menjadi destinasi utama di Papua.

 

Keberhasilan ini menjadi nalar kita mulai membalik fakta yang sebenarnya bahwa kita disadap oleh faktor kepentingan, dan kita juga korban dari kepentingan yang menyesatkan generasi itu sendiri dan menunjukkan bahwa kemurkaan terhadap diri kita mulai bertumbuh subur dari pelbagai aspek fundamental hidup yang seharusnya kita pelihara bersama sebagai panutan yang saling menghidupkan antara sesama dan untuk alam semesta (Papua).

 

Dari perbedaan dan perubahan ini mencerminkan peradaban manusia Papua secara historis dan realistis di masa kini di mana orang pribumi dijadikan sebagai orang lain di atas tanahnya sendiri. Refleksi ini menjadi pekerjaan rumah setiap orang atau bangsa Papua sebagai saksi hidup dan sebagai pelaku dan korban penetrasi geopolitik yang mematika karakter sebagai sebuah bangsa dan sampai sekarang ini masih berlanjut mata rantainya. (BERSAMBUNG)

 

 (Pengembara Hutan)

#Lingkungan dan Hutan

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait