Sekali Papua Tetap Papua

Cinque Terre
Yunus Eki Gobai

5 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Contributor
Yunus Gobai. Foto: Dok/KM

 

Oleh, Yunus Eki Gobai*)

Tulisan Ini adalah catatan refleksi saya yang ke tiga yang pernah saya menulis dengan Judul: "Membangun konsep Ala Papua di Pundak Generasi Muda" dan tulisan kedua: "Saya dan Masa depan Papua". Tulisan sebelumnya di muat dalam media online Kabar Mapegaa. Kali ini hadir dengan judul: "Sekali Papua Tetap Papua". menugulas tentang, Historis tentang bagaimana orang luar memandang kita, sektor Program pendidikan Javanisasi, transmigrasi dan solusi bagai orang papua. Sehingga sedikit saya menyumbangsi lagi agar dibaca dan refleksi untuk generasi Papua pemilik tanah Papua.

 

Historis tentang bagaimana orang luar memandang kita.

Papua sejak dulu sudah dipandang dengan tatapan kolonial: orang Papua itu terbelakang, primitif, tidak beradab, dipandang seakan bukan manusia. Karena itu, misi para penjelajah eropa ke Papua, misi pemerintahan Belanda, dan Indonesia hingga kini, dan misi penyebaran agama dimaksudkan untuk memajukan, memodernkan, membuat beradab suku-suku bangsa di tanah Papua ini. Orang Papua asli yang hitam, keriting, kamu sudah menyandang predikat terbelakang, primitif dan tidak beradab. Narasi-narasi, kajian ilmiah, dan tulisan-tulisan telah ramai-ramai diproduksi mendukung agenda pemerintah Pusat ini.

 

Pada akhirnya semua itu menjadi alat yang melegitimasi penghancuran kearifan, pengetahuan, kebudayaan dan semua perkakas adat yang dianggap perlambang keterbelakangan itu. Peradaban dan eksistensi ke-Papua-an kita justru menjadi bahan tertawaan, direndahkan, dikalahkan secara diskriminatif dan, kadang dipandang tidak sebagai manusia.

 

Program Pendidikan Javanisasi

Tatapan penjajah juga ada di balik kurikulum pendidikan sentralistik yang diterapkan di Papua hingga kini: dimana pendidikan pancasila, pendidikan bela Negara, pendidikan integritas NKRI menjadi yang utama didoktrin dibanding pelajaran yang lain. Lebih-lebih soal kearifan lokal Papua yang tidak boleh ada di dalam kurikulum pendidikan (terutama soal sejarah Papua yang sebenarnya). Kurikulum sentralistik, ditambah memoria passionis orang Papua, menghasilkan generasi Papua dengan mental inverior complex, merasa rendah diri, dan seterusnya.

 

Program Transmigrasi

Tatapan penjajah juga ada di balik program transmigrasi: orang-orang luar Papua didatangkan besar-besaran untuk memberi orang Papua pelajaran bagaimana hidup yang beradab. Para transmigran harus mengajari orang Papua membuat sawah, hidup menurut tata cara dan budaya pendatang, karena menanggap tata cara dan budaya orang Papua mewakili zaman batu yang harus dihapuskan. Oleh karena itu, di awal-awal, orang Papua asli dan atau beberapa suku bangsa Papua diapit oleh banyaknya transmigran, sehingga diharapkan orang asli Papua hidup dan berperilaku laiknya pendatang yang menjadi cermin modernitas.

 

Kesimpulan

Sekian banyak tatapan penjajah terhadap orang Papua disi Histori Papau, Masalah lingkungan, Otsus, Rasis dll. Penulis petik dua tatapan ini menjadi bukti bagaimana dari dulu hingga kini, orang Papua dipandang sebagai orang kelas dua di Indonesia ini, yang selalu, selalu, membutuhkan NKRI untuk menjadi manusia. Namun, sebaik apa pun, sehebat apa pun, usaha, kepintaran, budi, marifat, kita orang Papua dalam hal menjadi seperti Indonesia, kita akan tetap dipandang sebagai Papua yang ada di kelas dua. Karena itu kita harus bebas secara politik dan mandiri secara ekonomi untuk menjadi diri kita sendiri: bangsa Papua. Dan mendoron agenda persatuan Nasioanal menuju Papuanisasi baru yang dinanti-nantikan bagi orang Papua, agar sekali Papua tetap Papua.

 

 

Penulis  adalah kontributor aktif di Media online Kabar Mapegaa yang tinggal di bibir danau Paniai

#Budaya

#Papua Bisa

Baca Juga, Artikel Terkait