Selamat Berpesta Adat di Timida Paniai: Pesta Adat Pesta Kebesaran Tungku Api Keluarga

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

14 Hari yang lalu
SOSIAL DAN BUDAYA

Tentang Penulis
Yoseph Bunai,Mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura-Papua.

 

 

“Gaidai Wainai” menari nari Di Saat Pesta Adat “Yuwo Nai”. Selamat berpesta Adat Di Timida-Paniai pada 4 September 2020 dan Selamat Nari-Menari Serta Selamat menjaling Hubungan Kekerabatan guna menghidupkan Tungku Api”

 

Oleh Yoseph Bunai

 

OPINI, KABARMAPEGAA.COM—Saya sebagai adat  yang berasal dari Paniai yang perna mengikuti acara pesta adat “yuwo nai” di beberapa tempat, salah satunya di kampung saya Wopa. Di saat itu saya merasa bahagia dan senang akan nilai budaya yang di berikan orang tua kepada kami generasi penerus.

 

Pesta adat “Yuwo Nai” seperti itu terjadi di salah satu kampung di Paniai Yaitu di Timida. Pesta adatnya  sebagai ucapan syukur akan leluhur di Timida pada tanggal 4 September 2020 di Timida Paniai Papua. Saya sebagai adat adat dan perna merasakan pesta adat mengucapkan selamat merayakan pesta adat “Yuwo Nai”. Semoga harapan di berkati manusia, tanah dan budaya orang Paniai dan terus gali nilai nilai budaya kedepan.

 

Gaidai Wainai” adalah (menari). Dalam kehidupan suku Mee sudah mengenal dengan beberapa tari dari sejak moyang hingga kini. Tarian suku Mee yang masih hidup dan ditradisikan hingga kini dalam berbagai kegiatan seperti: “Nari Ama Wainai” atau disebut tari susu, “Ida Gaidai” disebut menari anak panah, “Tune Wainai” disebut menari buluh cendrahwasi, “Kidu Wainai” disebut menari baling-baling, “Moge Wainai” disebut nari jawat, “Gapa Muto Wainai” disebut menari telingga, “Tapaga Wainai” disebut menari buluh kasuwari adalah suatu tradisi historis suku pegunungan tengah umumnya dan lebih khusunya orang Mee Paniai Papua.

 

Nari-menari dan bergerak tubuh dengan mengunakan benda-benda tersebut merupakan satu ungkapan kegembiraan dengan maksud membangkitkan sprit tertentu yang ingin dicapai. Tarian adat ini selalu saja digunakan di dalam banyak bentuk kegiatan. Entah itu kegiatan secara keluargaan maupun kegiatan bersama misalnya pada saat “Yuwo Nai” pesta adat.

 

Kedua kegiatan ini enta kegiatan adat secara kekeluargaan maupun kegiatan adat secara umum, selalu dihiasi dan diwarnai dengan kegitan menari sesuai dengan tari apa yang cocok didalamnya. Manfaat dari “gaida” atau “wainai tune moge” pada dasarnya betujuan baik, sehingga kegiatan apa saja bisa dilakukan dengan tarian adat tersebu.

 

Yuwo Nai” adalah pesta adat secara umum. Pesta itu juga merupakan pesta syukuran atas hasil panen atau pesta hasil panen Tungku Api seperti piyaraan Babi, petatas, sayur, keladi, tembakau yang pada dasarnya mengunkapkan berupa permohonan kepada Sang Pencipta untuk menghidupkan kembali dikemudian hari yang lebih baik.

 

Pada puncak kegiatannya, hubungan kekerabatan dari tempat jauh juga datang ikut memeriahkan pesta dengan menyumbangkan berupa hasil tanaman dan piaraan. Saat itu juga, Setiap keluarga dekat yang membuat pesta selalu siap menjemput dengan tarian yang dimaksud tersebut. Maka itu “Yuwo Nai” juga merupakan menghidupkan kembali tali persaudarahan yang sudah lupa misalnya karena jarak kampung yang tidak bisa dijangkau dan lainya. Saat itulah mereka bertemu dan memeriahkan pesta sambil memohon berkat panen atas usaha mereka.

 

Selamat berpesta “Yuwo” di Timida-Paniai pada hari ini 4 september 2020 dan Selamat ber “gaidai wainai” serta selamat berkekrabatan.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura-Papua

#Budaya

Baca Juga, Artikel Terkait