Seminar dan Pelatihan Budaya Suku Mee "Mapega" dan "Ebai"

Cinque Terre
Ancelmus Gobai

19 Hari yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
"Melayani dengan hati"
Saat pemateri masing masing memberikan arakah kepada peserta untuk membuka pelatihan cara buat "Mapegaa" dan "Ebai". Foto Yuba A Nawipa. Bertempat asrama Dogiyai Yogyakarta. Sabtu (29/05/2021).

 

 

Yogyakarta, kabarmapegaa.com--Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai dan Deiyai “IPMANAPANDODE” Yogyakarta dan Solo melangsungkan seminar dan pelatihan cara membuat panah “Mapegaa” dan jala ikan “Ebai” dengan kedua pemateri Agustinus Goo tentang “Mapegaa” dan Veronika Boma tentang “Ebai”. Bertempat Aula asrama Dogiyai Yogyarta, Sabtu (29/05/2021).

 

Pemateri pertama Agustinus Goo memberikan matari sekaligus mempraktekan tentang cara membuat busur “mapegaa”  budaya suku Mee di papua dengan gunanya agar dapat memahami budaya sebagai identitas diri bagi mahasiswa mahasiswi Mepago papua di Yogyakarta.

 

Alat senjata tradisional “Mapega” itu banyak jenis dan cara membuatnya berbeda beda sesuai kegunaanya.

 

Lanjut Goo, Saat menyiapkan bahan bahan sampai pembutan ada proses yang begitu panjang. Ada rahasia rahasia khusus yang tersembunyi dalam pembuatan. Hal ini saya sampaikan tetapi tidak perlu untuk diberitaukan kepada siapa siapa. Cukup hanya kita disini.

 

Saya berharap teman teman yang mengikuti materi ini semua bisa peraktek dan paham materinya karena ini budaya atau kebiasaan dari dulu hingga sekarang. Kata Goo disela materi.

 

Saya alumni Yogyakarta sangat bangga terhadap adik adik disini. Diskusi dan seminar seperti budaya ini terus tingkatkan karena perkembangan semakin maju dan dipapua orang orang semakin lupa akan budaya semoga saya berharap kedepan terus semangat untuk belajar dan mengenal budaya kita.

 

Budaya kita tidak cukup belajar atau dengar dari cerita orang, tetapi bagaimana keterlibatan diri kita dalam praktek. Tutup Agustinus Goo, alumni kampus Yogyakarta itu.

 

Pemateri kedua Veronika Boma memberikan matari tentang jala ikan “ebai”. Materi ini saya sampaikan atas pengalaman saya, apa yang saya lihat dan dengar dari kedua orang tua sekaligus pengalaman saya.

 

Dulunya  jala ikan atau bahasa daerah “Ebai” dibuat dari tali kayu. Untuk buat “Ebai” proses pembuatan yang begitu panjang, pengambilan kulit kayu, pengeringan dan penganyaman. Tetapi sekarang mereka gunakan dengan tali manila/nelon.

 

Tujuan mereka buat “Ebai” Lanjut Bomo, untuk menangkap ikan, udang, beruduh dan lainnya. Tetapi “Ebai”Paniai Deiyai dan Dogiyai berbeda beda sesuai daerah.

 

Usai materi Veronika mengumpulkan semua perempuan untuk praktek membuat “Ebai” dengan bahan alat yang telah disiapkannya, tutup Boma.

 

Koordinator biro budaya, Paulus Tekege, saya banyak berterimakasih kepada kedua pemateri yang mana telah memberikan materi tentang cara membuat “mapega” dan cara membuat jala ikan “Ebai”. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua peserta pelatihan yang hadir untuk mengikuti pelatihan.

 

Lanjut Paulus, Kami  mengadakan seminar dan pelatihan tujuannya untuk mengenal budaya bagaimana keluarga yang berasal dari kota yang anaknya bisa mengenal budayanya bapanya.

 

Kita dihadapkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang tinggi, perkembangan teknologi yang pesat yang mampu mempengaruhi budaya kami sehingga kami mengadakan seminar dan pelatihan budaya ini untuk mampu mempertahankan jati diri kami.

 

Kegiatan ini kata Paulus, mengingatkan dan mengajak untuk bagaimana kita belajar Kembali kita punya kebiasaan kebiasaan yang di lakukan oleh orang kita terhahulu hingga sekarang.

 

Sebagai bahan pelajaran bagi teman teman yang lahir besar kota dan teman teman yang tidak perna dengar atau lakukan terkait dengan cara buat panah (mapegaa) dan jala ikan atau (Ebai) suku mee di papua tengah.

 

Kita saling memberitahu atau saling mengajari antara yang tidak tau, supaya kita sama sama tau agar kita punya kebudayaan dan adat yang dulu dilakukan bisa terwarisi.

 

Lanjut Paulus, Dari awal kami tentukan tujuan kami kedepan untuk menjalankan program kerja dari biro budaya  Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai dan Deiyai “IPMANAPANDODE” Yogyakarta dan Solo  adalah pertama kami suda melakukan diskusi bebas dan nonton bareng “NOBAR” tentang budaya suku Mee Bunani di Paniai Papua.

 

Isi didalam flim tentang tokoh tokoh bunani tetapi mengajarkan bagaimana cara membuat perahu kayu, rumah rumah adat, panah busur, menjala ikan “Ebai”, berkebung, koteka moge, adalah pengantar menjadi gambaran umum. kata Tekege.

 

Spesifiknya hari ini hari pertama kami adakan cara membuat panah “mapega” untuk laki laki dan cara membuat jala ikan “ebai” untuk perempuan yang dibawakan materi oleh Agustinus Goo, S.Hut tentang Mapega dan Veronika Boma tentang jala ikan “ebai” di asrama Dogiyai Yogyakarta.jelas Paulus.

 

Untuk kedepan kata Tekege, kami sudah merangcang untuk melakukan kegiatan kegiatan yang berkaitan budaya, tetapi kami belum sampaikan karena kami akan menyesuaikan dengan keadaan.

 

Bagaimana tingkatan diskusi, bagaimana niatnya orang yang ingin belajar tentang kebudayaan itu sendiri

 

Karena hari pertama orang  rameh maka kami akan membuat diskusi dan pelatihan selanjutnya tetapi kami ada tunggu waktu yang pas.kata Paulus Tekege, biro budaya, mantan badan pengurus Ipmanapandode periode 2020 itu saat wawancara di asrama Dogiyai saat usai materi kepada wartawan www,kabarmapegaa.com. Sabtu 30 Mei 2021.

 

Aberaham Magai pengurus organisasai IPMANAPANDODE mengatakan sangat luar biasa atas kegiatan kegiatan yang di buat dari koodinator masing masing. Lebih kususnya biro budaya untuk hari ini. Kami badan pengurus siap sport dan dukung. Semua kegiatan terus maju dan terus sangat untuk berkarya.

 

Saya mewakili pengurus mengucapkan banyak terima kasih kepada kedua pemateri dan peserta yang hadir.tutup magai yang muda senyum itu.

 

Peserta yang hadir Emanuel Mote merasa bahagia atas ilmu budaya tentang cara buat “Mapega”. Mote mengatakan, mama dulu mengajarkan saya tetapi saya lupa, kesempatan ini memberika saya belajar lagi tentang Mapega.

 

Nada yang sama, Karowardus Dogopia mengaku sambil menunjuk hasil kerjanya “mapega". Demi saya tidak tau buat Mapega tapi saya bangga dan bisa belajar saya punya budaya.

 

Saya tida tau buat  anak panah “uka” dan busur“mapegaa”, proses awal jadi saya belajar terus. Saya bangga dan terima kasih kepada kedua materi, materi ini sangat bermanfaat.

 

Pewarta: Anselmus Gobai/KM

 

#Budaya

#Mahasiswa dan Pemuda

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait