Setitik Jejak Gerakan Mahasiswa Papua

Cinque Terre
Aprila Wayar

9 Hari yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Freelance Journalist
Yason Ngelia bersama Bukunya Gerakan Mahasiswa Papua (Doc. gangsiput.com)

 

TAK banyak yang tahu rekam jejak gerakan mahasiswa Papua. Di tengah ketidaktahuan itu, Yason Ngelia mencoba mendokumentsikannya.

KABARMAPEGAA.com – Menjadi aktivis mahasiswa adalah konsekuensi yang dipilih Yason Ngelia selama berada di bangku kuliah. Bersama sejumlah kawan lintas kampus di Jayapura, Yason mendirikan Gerakan Mahasiswa, Pemuda dan Rakyat Papua (GempaR) di Jayapura. Dia baru saja merampungkan buku pertamanya berjudul Gerakan Mahasiswa Papua. Berikut setitik petikan wawancara Aprila Wayar (AW) dengan Yason Ngelia (YN).

Apa yang membuat anda berpikir untuk menulis, khususnya mengenai Gerakan Mahasiswa Papua?

Sebagai aktivis mahasiswa di Papua, saya terdorong menulisnya karena tidak banyak diketahui. Sekali pun ada, masih sangat terbatas dan tersebar di organisasi gerakan tertentu, baik mahasiswa maupun faksi perjuangan Papua tertentu juga. Saya berharap mahasiswa di kemudian hari dapat membaca sejarah gerakan ini dan memperdebatkannya. Ini akan membangun gerakan lebih baik.

Banyak anggapan gerakan mahasiswa Papua tertutup karena pergerakan mereka pra dan pasca 1998 adalah klandestin. Bagaimana anda melihat hal ini?

Secara umum, memang gerakan mahasiswa Papua tertutup dan tokoh-tokohnya tidak banyak tampil di publik. Jadinya tidak banyak kelompok atau organisasi mahasiswanya yang terlihat. Tapi, mereka nyata adanya. Kondisi berubah pascareformasi. Gerakan mahasiswa Papua mulai lebih terbuka. Sejumlah tokoh pun muncul di publik. Dan dalam buku ini, saya mengulas pergerakannya dan aktivis-aktivisnya.

Gerakan mahasiswa adalah gerakan sipil yang mengandalkan massa mahasiswa. Sehingga jika disebut sebagai gerakan klandestin mungkin sulit. Kecuali menyangkut strategi taktik bukan wujud dan bentuk perlawanannya.

Saya tidak tahu persis gerakan mahasiswa Papua yang bergerak secara klandestin. Di buku saya memang terbatas kajiannya karena sulitnya mengakses data. Jadi data yang saya dapatkan sangat terbatas. Basis datanya adalah kronologis informasi pergerakan mahasiswa di Papua di luar Papua, seperti Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Tetapi ketika saya melihat gerakan mahasiswa Papua sebelum reformasi, memang ada beberapa kelompok klandestin. Angkatan Jacop Hendrik Pray misalnya, atau Arnold Clemens Ap yang walau mati sebagai seorang pegawai negeri, tetapi aktivitasnya telah berlangsung jauh sebelum itu.

Nah, pascareformasi muncul Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Front Nasional Mahasiswa Papua (FNMP), juga Jaringan Independen untuk Aksi Kejora (Jiajora). Untuk Jiajora, Samuel Awom, aktivis Papua di Jawa yang menjadi salah satu pembicara saat peluncuran buku saya, mengonfirmasi kalau gerakan ini tertutup. Sehingga untuk menuliskan gerakannya memerlukan diskusi dan wawancara dengan pengurus dan anggotanya.

Mengapa anda merasa perlu diperdebatkan? Bagaimana respon gerakan di Papua terhadap buku yang anda tulis?

Buku saya ini hanya pancingan kepada para aktivis mahasiswa atau mantan aktivis mahasiswa untuk melihat buku sebagai media menjangkau generasi yang akan datang.

Saya butuh masukan lebih banya untuk menulis lebih baik. Itu sebenarnya tujuan saya.Tapi sejauh ini belum ada respon di dinding facebook saya. Semua memberikan apresiasi dari aktivis mahasiswa baik di Papua maupun Jawa. Entah mereka sudah membaca atau belum tetapi saya ingin mengucapkan terima kasih.

Selain itu aktivis muda di kampus yang saya jumpai di Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura memberi apresiasi karena mereka akhirnya mendapatkan informasi jejak sejarah gerakan mahasiswa Papua. Dan memang itu tujuannya. Saya dulu juga seperti mereka, buta sejarah gerakan mahasiswa Papua.

Banyak aspek lain di Papua yang belum terdokumentasi, tapi mengapa Anda memilih tema gerakan mahasiswa?

Pertama, saya menulis tema ini karena kebutuhan informasi saya secara pribadi, yaitu sejak menjadi aktivis mahasiswa. Dari sana saya yakin bahwa banyak generasi muda atau aktivis bahkan orang awam yang membutuhkan informasi seputar gerakan mahasiswa. Apalagi dinamika gerakan mahasiswa itu dekat dengan kehidupan sosial dan politik di Papua.

Bisa anda jelaskan dinamika sosial politik Papua saat ini seperti apa dalam kacamata anda?

Pascaaksi rasisme, semua pimpinan politik dan mahasiswa ditangkap. Terhitung telah ada 70 tahanan politik baru. Dan seluruh daerah Papua menjadi daerah operasi militer. Semua upaya gerakan menjadi sangat sensitif dan harus lebih berhati-hati karena mungkin saja akan berhadapan dengan kelompok militer non organik yang lebih berbahaya.

Di Papua, semua persoalan kemanusiaan terabaikan dan Jakarta terus mengisukan pemekaran, evaluasi Otonomi Khusus dan lain-lain. Padahal itu adalah hal yang tidak substansial bagi rakyat Papua.

Apa harapan anda terhadap gerakan mahasiswa Papua sendiri setelah mereka membaca buku GMP?

Saya berharap buku ini bermanfaat sebagai sebuah catatan jejak gerakan mahasiswa yang dialektis. Kepada aktivis mahasiswa sendiri maupun siapapun yang ingin memahami perjuangan Papua secara utuh maka sejarah gerakan mahasiswa tidak bisa dlihat sebelah mata. Ini adalah motor gerakan, tempat menempa para pimpinan sipil di Papua.

Aprila Wayar adalah seorang jurnalis freelance yang tergabung di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Aktivitas lainnya adalah sebagai penulis novel dan editor. Sejumlah novel telah dirampungkannya, di antaranya novel berjudul Sentuh Papua.

Repost dari : https://gangsiput.com/2019/12/25/setitik-jejak-gerakan-mahasiswa-papua/

#Papua Bisa

Baca Juga, Artikel Terkait