Siaran Pers Aksi 16-an Udin: Berdiri untuk Keadilan Jurnalis Udin

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin adalah wartawan Bernas di era Orde Baru

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin adalah wartawan Bernas di era Orde Baru. Tulisan-tulisannya kerap kali berisi kritikan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Para petinggi di pemerintahan seringkali dibuat geram oleh pria yang sudah menjadi wartawan Bernas sejak tahun 1986 ini. 

 

Tepat di  Yogyakarta, 16 Agustus 1996, Udian  di bunuh karena berita. Peringati goreasan penanya yang tajam, beberapa organisi menyatakan sikap.

 

Pernyataan sikap yang diterima media kabarmapegaa.com, via pesan eletronik, Kamis (16/04), sebagai berikut:

 

Jurnalis Harian Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin dibunuh karena menulis tentang korupsi saat rezim Orde Baru berkuasa. Selama 24 tahun kasusnya masih gelap, tidak ada upaya serius dari pemerintah Indonesia untuk mengadili pembunuhnya. Kejahatan terhadap jurnalis adalah serangan terbesar bagi kebebasan pers dan akses informasi. Jurnalis punya peran sebagai pengawas kekuasaan, mengungkap kejahatan, dan ketidakadilan.

 

Koalisi Masyarakat untuk Udin (K@MU) bersama Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta percaya bahwa setiap orang harus memiliki akses informasi yang bisa diandalkan dan berita yang independen. Jurnalis di seluruh dunia seharusnya bekerja di lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan, dan bebas dari sensor.

 

Pembunuhan Udin satu dari deretan kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia yang tidak dituntaskan oleh pengadilan. Di dunia, UNESCO mencatat hampir 90 persen dari yang bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis belum dihukum. Ada 1.109 jurnalis yang dibunuh di dunia sejak 2006 hingga 2018.

 

Pembunuhan jurnalis tidak bisa dibiarkan. Semua orang perlu berdiri untuk mengakhiri impunitas atau penghentian penyelesaian kejahatan terhadap jurnalis. Masyarakat perlu mendukung jurnalis di seluruh dunia dengan mengutuk segala tindakan kekerasan. Pemerintah Indonesia seharusnya bertanggung jawab dan berbuat banyak dengan memberikan jaminan hukum.Tidak bisa dibiarkan pejabat negara membenarkan kekerasan.

 

K@MU dan AJI Yogyakarta terus menerus mengajak masyarakat sipil untuk bergerak bersama, membangun koalisi yang lebih kuat untuk menolak impunitas atas kejahatan terhadap jurnalis. Kami melibatkan seniman Anti Tank, Andrew Lumban Gaol dalam koalisi. Poster bergambar Udin yang menyebar di berbagai penjuru dan muncul di kaus adalah karya Anti Tank.

 

Kampanye aksi 16-an digital adalah salah satu gerakan bersama yang melibatkan masyarakat sipil dari berbagai lembaga dan individu. Kampanye digital ini didesain oleh seniman Anang Saptoto yang merupakan bagian dari K@MU. Kami telah menerima 80 foto yang disertai dengan kalimat desakan penuntasan kasus pembunuhan Udin dan dukungan terhadap kerja-kerja jurnalis yang mengungkap kebenaran. Anang telah mengumpulkan seluruh foto dan membuat video sebagai bentuk kampanye digital menolak impunitas terhadap pembunuhan jurnalis Udin.

 

Foto dan video ini diunggah tepat pada tanggal 16. K@MU dan AJI Yogyakarta setiap tanggal 16 setiap bulan menggelar aksi tutup mulut di depan Gedung Agung Yogyakarta, menolak impunitas pembunuhan Udin. Tanggal 16 menjadi pengingat kejahatan terhadap Udin. Jurnalis berusia 32 tahun ini dibunuh pada tanggal 16 Agustus 1996.

 

Terima kasih untuk semua yang telah berpartisipasi dalam kampanye digital aksi 16-an Udin. Kebebasan pers dan demokrasi perlu terus diperjuangkan.

 

Kontak yang bisa dihubungi:

Koordinator K@MU, Tri Wahyu (087738557595)

Ketua AJI Yogyakarta, Shinta Maharani (082137190912)

Koordinator Divisi Advokasi, Rimbawana (085785307383)

Seniman perancang  kampanye digital aksi 16-an Udin, Anang Saptoto (0819040232203).

 

 

Admin/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait