Siempre: Rasisme dan Standarisasi Kecantikan

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Tahun yang lalu
TULISAN

Tentang Penulis
Borfose bersama usai diskudi. (Doc. Siempere.Ist)

 

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Tiga puluan peserta yang tergabung dalam Serikat Pembebasan Perempuan (Siempre) maupun partisipan, Selasa  (10/9/2019) pada puku 18:45-22:00 WIB, melangsungkan diksusi.  Dalam diskusi   sangat menarik, santai namun juga penuh antusias. Dalam diskusi ini dipandu oleh Natli Safkaur (Moderator), dan pemantik diskusi  Ulya Jamson.

 

 

Diskusi ini menarik karena dimulai dengan sebuah permainan, dimana para pesertanya diminta untuk menuliskan pengalaman mereka tentang persoalan standarisasi kecantikan dan rasis yang menjadi pengalaman masing-masing, lalu dibuka oleh moderator Natalia Safkaur tentang persoalan rasial yang menimpa mahasiswa Papua di Surabaya yang baru-baru ini. Kemudian berdampak pada aksi anti-rasisme yang dilakukan mahasiswa Papua maupun Indonesia dibeberapa kota di Indonesia (Semarang, Bali, Medan, Jogja, Jakarta dll) yang juga memanas sampai ke Papua di seluruh wilayah dengan ribuan jumlah aksi massanya yang juga mengutuk keras tindakan rasial yang terjadi terhadap mahasiswa Papua.

 

Kemudian hal-hal rasial ini juga berdampak terhadap standarisasi kecantikan di negara ini dimana cantik itu diidentikan dengan kulit putih, mulus, rambut panjang dan lurus dengan tinggi badan dan bentuk tubuh yang harus langsing (kutilang).

 

Kemudian ditambah penjelasan Mbak Pipin Jamson bahwa dari sejarah dunia pada zaman perbudakan sampai feodal (kerajaan). “Kita bisa melihat bahwa tak ada penindasan atas dasar rasial tetapi berdasarkan atas penaklukan satu bangsa terhadap bangsa lain sehingga yang kalah dijadikan budak, entah itu kulit putih, kuning maupun hitam.”

 

Rasisme mulai berkembang sekitar abad ke 16-18 Masehi, dilain sisi telah terjadi penghancuran terhadap monarki absolut (kerajaan) sistem dunia berubah menjadi pembentukan negara-negara baru yang dimulai di wilayah sekitar benua Eropa yang pada saat itu sistem perekonomiannya lebih berkembang dengan pesat dari wilayah lain di muka bumi hal itu jugalah yang membuat adanya pemikiran bahwa ras selain Eropa adalah ras bawahan untuk menunjukkan eksistensi mereka untuk menguasai dunia, sehingga pada abad 19-20 Masehi muncul istilah kebun manusia di wilayah sekitar Eropa, kebun manusia ini dibuat layaknya kebun binatang yang dikandangi dan di dalamnya dipertontonkan manusia-manusia yang berasal dari ras hitam, ras Asia maupun orang asli Amerika (suku Indian) hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan pandangan bahwa ada kelompok sekelompok spesies yang merupakan transisi dari hewan primata dan manusia (setengah manusia dan setengah binatang) yang juga secara tidak langsung menunjukkan adanya ras superior dan inferior di muka bumi ini.

 

Yang perlu digaris bawahi adalah akumulasi ekonomi dari monopoli beberapa orang di suatu wilayahlah yang mempengaruhi munculnya pandangan rasial terhadap bangsa lainnya agar mereka dapat mengontrol perekenomian suatu wilayah dengan akreditasi ras superior. Apa hubungannya dengan standarisasi kecantikan? Standarisasi kecantikan akan dikontrol sesuai dengan kebutuhan pasar (ekonomi) yang dapat dilihat contoh nyatanya di Indonesia kebutuhan pasar kecantikan di Indonesia disesuaikan dengan ras mayoritas sehingga dapat kita lihat di media iklan sehari-hari bahwa cantik harus putih, berambut lurus dll, yang juga berdampak negatif terhadap perempuan dari wilayah timur Indonesia yang membuat kebanyakan dari perempuan sana merasa tidak percaya diri, merasa malu, minder dalam segala hal dengan kecantikan alami yang dimiliki.

 

 Selanjutnya apa yang terjadi ? Yupsss, perempuan dari ras mayoritas maupun minoritas pun menjadi korban dari pasar kecantikan dunia, semua berlomba-lomba menjadi cantik sesuai dengan standarisasi pasar, dan secara tidak langsung para perempuan dijadikan objek sistem ekonomi untuk meraup akumulasi, tak hanya perempuan tetapi laki-laki juga menjadi korban standarisasi ketampanan yang banyak ditawarkan di iklan TV.

 

Tidak hanya itu,  hanya standarisasi berdasarkan kriteria cantik/tampan tetapi kita juga sering mendengar body shaming, kriteria cantik dan tampan sesuai bentuk tubuh ideal yang dipromosikan, kemudian momy shaming dll. Namun apa yang kita dapatkan setelah cantik? Terkadang kita juga menjadi korban kekerasan seksual karena kecantikkan dan kemolekan tubuh perempuan yang distandarisasikan, namun negara yang pastinya juga mengambil untung yang banyak dari pasar kecantikan belum mampu bertanggung jawab atas efek negatif yang ditimbulkan oleh standarisasi kecantikan tersebut, bahkan para perwakilan perempuan di senayan maupun ibu-ibu menteripun sampai saat ini belum finish menyepakati terkait RUU-PKS yang sebenarnya juga akan melindungi mereka. Namun mengapa? Karena negara dikontrol oleh sistem ekonomi segelintir orang yang serakah untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

 

Yang juga menjadi persoalan serius dari rasisme adalah ketidak setaraan dalam menghargai hak hidup manusia lain, contoh paling dekatnya adalah bahwa dengan anggapan rasis terhadap orang Papua Indonesia ( orang Papua dianggap masih terbelakang, belum mampu memimpin bangsanya sendiri, pemikirannya lebih rendah), Belanda dan PBB memutuskan secara sepihak terkait persoalan politik Bangsa Papua tanpa keterlibatan orang Asli Papua pada New York Agreement 15 Agustus 1962, pemaksaan Papua masuk ke dalam Indonesia pada 1 mei 1963 yang sesudah itu baru dilaksanakannya PEPERA (Pemungutan Pendapat Rakyat) pada 1969. Dan anggapan rasis ini pun dinyatakan dengan puluhan operasi militer yang dilakukan Indonesia terhadap Papua dengan sangat keji dan kejam menyiksa, membantai, memperkosa ratusan ribu orang Papua, yang sampai sekarang tragedi kemanusiaan ini pun masih di tutupi oleh negara dan pelakunya pun mendapat posisi penting di negara ini. Tak hanya itu, bahkan penyiksaan dan pembantaian  6 juta orang pada peristiwa 65 pun disembunyikan dan dimanipulasi sejarahnya oleh negara, kemudian juga kasus 98 yang juga mengorbankan etnis Chinese pun masih disembunyikan dan menjadi rahasia negara.

 

Perempuan seharusnya dapatkan menentukan standarisasi kecantikkannya sendiri dengan memerdekakan hak politia terkait dirinya sendiri, namun politis tanpa pemahaman ideologi yang jelas akan membuat juga ikut menjadi pelaku penindasan terhadap perempuan ataupun klas tertindas yang lainnya.

 

Hidup perempuan yang melawan!!!

Hidup perempuan yang bersolidarita dengan kaum tertindas di muka bumi!!!

 

#Tuisan ini hasi diskusi bersama Siemper, yang dubut oleh Julia Opky selanjutnya ditayang di Kabar Mapega.

  

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait