Sosialis Papua Bukan Kelompok “Freedom Dream”

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Victor Yeimo, Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB). (Sumber:radiodogiyaifm.blogspot.com)

 

Oleh, Victor Yeimo, (Ketua Umum KNPB)

 

Ada kegagalan memahami Sosialis Papua ketika menyamakannya dengan kelompok (gerakan) sion kids, mesianis, dan sejenisnya. Pejuang Papua Merdeka yang terdidik dengan filsafat sosialis akan menjawab, bahkan lebih utuh dan tuntas sampai ke akar-akarnya.

 

Ketika mengkritisi seluk beluk gerakan sosialis (apapun jenisnya), harus melihat pangkal filsafat. Kritisilah pada filsafat materialisme dialektika sebagai metode yang dipakai sosialis untuk memahami  dan menelah seluk beluk kehidupan. Apakah ia menghidupi gerakan perlawanan atau tidak?

 

Mengapa demikian harus, karena Karl Marx buat filsafat Materialisme Dialektik bukan untuk dipergunakan untuk kaum intelektual (akademisi) filsafat. Tetapi, filsafatnya diperuntukan untuk kaum tertindas yang hendak melawan dengan cara-cara praksis.

 

Seorang sosialis tidak buta, utopis, atau berkhayal tentang pembebasan Papua. Karena segala bidang persoalan West Papua dapat dipelajari sepenuh-penuhnya, sedalam-dalamnya dengan materialisme dialektik.

 

Makanya sangat salah bila sosialis Papua dipandang sebagai kelompok Freedom Dream (kelompok yang memimpikan kebebasan). Kenapa salah, karena filsafat yang dipakai kaum sosialis tidak berjuang dalam impian-impian atau mimpi. Ia berjuang objektif dalam realitas secara progresif dan revolusioner. Sementara yang khayal-khayal, mimpi-mimpi, dll adalah kelompok yang dalam teori filsafat disebut idealisme. Filasafat idealisme sangat dilawan oleh filsafat marxisme.

 

Kelompok (gerakan) Koreri, Zion Kids, mesianik, dll, adalah gerakan yang masuk dalam kategori idealisme, karena melihat realitas Papua (dunia) sebagai refleksi dari ide, pemikiran, atau jiwa seorang manusia atau makluk maha kuasa.

 

Sudah lama, rakyat terpenjara dalam idealisme kolonial dan kapitalis. Ini penyakit, yang dalam Bahasa Antonio Gramski disebut Hegemoni. Banyak rohaniawan, akademisi, politisi, penguasa, juga yang menyebut diri pejuang Papua Merdeka telah lama menjadi korban hegemoni. Ciri-ciri mereka tidak susah untuk diketahui.

 

Banyak Organisasi Gereja yang menjerumuskan dan melanggengkan sistem dan segala kebijakan kolonial dan kapitalis. Itu bisa kita lihat dari khutbah-khotbah, doa-doa, dan segala pernyataan-pernyataan di muka umat Tuhan di Papua Barat.

 

Banyak pengajar, akademisi kampus,  yang  bangga pada intelektualitas lalu menjadi penyalur ide-ide hegemoni dari sistem dan kebijakan kolonial dan kapitalis. Selain itu, ada penyakit yang lebih bahaya adalah kelompok yang melihat perjuangan dengan pendekatan metafisik. Ini lebih bahaya dan sangat ditemukan dalam filsafat sosialis Karel Marx.

 

Kelompok ini menggunakan ide-ide metafisik, takhayul-takhayul, mimpi-mimpi, untuk menggerakan rakyat berjuang Papua Merdeka. Mereka suka mengkultuskan sesuatu atau seseorang sebagai nabi, penyelamat. Sosialisme sangat menolak ini.

 

Kesadaran utopis ini telah membiusi rakyat Papua untuk tidak bergerak secara objektif melihat realitas dan bergerakan dengan metode-metode revolusioner. Kesadaran seperti itu tidak akan pernah membuat perjuangak bergerak maju. Ia justru stagnan (tinggal di tempat) dalam budaya-budaya dogmatis, seremonial, formalitas, birokratis, egois, sukuis, apatis, pragamtis,dan penyakit-penyakit lainnya.

 

Kaum sosialis Papua memandang kesadaran seperti itu adalah hasil dari keberadaan (realitas hidup) orang Papua yang terjajah dan tertindas oleh kolonial dan kapitalis (imperialis). Selain terhegemoni, kesadaran seperti itu adalah pelarian dari ketakutan melawan penindas (kolonial dan kapitalis).

 

Kaum sosialis dengan filsafat materialisme dialektik memberi kesadaran objektif, yakni melihat realitas penindasan bukan sebagai sesuatu yang abadi dan kekal. Keabadian menjajah dan terjajah adalah filsafat kolonial dan kapitalis. Kita akan bangkit hancurkan surga abadinya dengan filsafat perubahan, sosialisme.

 

Apakah Sosialis Papua adalah adobsi Barat?

 

Filsafat sosialis – materialisme dialektika- tidak mengenal, dan sangat tidak dianjurkan untuk adobsi-adobsi. Filsafat sosialis berisi tentang teori-teori kesadaran materi (objek) serta hukum-hukum dialektika (perubahan) yang menjadi basis dalam memformulasikan metode-metode perlawanan revolusioner.

 

Artinya, kalau metode-metode perlawanan revolusioner itu tidak sesuai dengan, dari dan untuk kondisi objektif (realitas) maka ia bukan sosialis yang berlandaskan materialisme dialektik. Sosialis Mao berbeda dari Lenin. Sosialis Tan Malaka, Che Guevara, Fidel Castro, Hugo Chaves, Walter Lini di Vanuatu, Xanana di Timor Leste, Tanzania, dan sebagainya berbeda-beda sesuai kondisi objektif bangsanya dalam melawan imperialisme beserta anak kandungnya kolonialisme.

 

Karena itu, sosialis Papua adalah jalan dalam menemukan dan memformulasikan kembali antara teori dengan basis objektif orang Papua di Melanesia, sebagai senjata dalam melawan dan menghancurkan musuh sosialis yakni, imperialisme-kapitalisme yang telah melahiran dan menjaga keabadian kolonialisme di West Papua.

 

Teori sosialis penting, karena musuh yang kita lawan bukan turun dari langit, tetapi kolonialisme yang adalah anak kandung imperialisme. Sejarah dan realitas kolonialisme di Papua tidak datang begitu. Sistem dan segala kebijakan itu milik setan tua bernama Imperialisme yang telah dilawan dan terus dilawan oleh kaum sosialis dunia.

 

Apakah Sosialis Papua Anti pada Kebudayaan dan Gereja di Papua?

 

Harus ada pemilahan dalam menolak dan mendukung Budaya dan Gereja di Papua. Ada hal yang harus ditolak (dan yang ditolak adalah tentu yang berkaitan dengan akar-akar dan kebiasaan-kebiasaan yang melahirkan penindasan dalam budaya dan gereja  di West Papua).  Ada hal yang harus didukung (yang tentu berkaitan dengan bagaimana rakyat Papua melepaskan diri penindasan).

 

Sosialis Papua anti pada kebudayaan dan gereja yang melanggengkan (mengabadikan) penindasan di West Papua. Sosialis Papua menolak eksploitasi budaya (identitas) dan Gereja untuk mendukung aktivitas kolonialisme dan kapitalisme di West Papua. Sosialis Papua menolak kelas-kelas sosial budaya yang akan (bahkan sudah) menjadi agen dan aktor borjuis kapitalis yang mendukung kolonial Indonesia.

 

Sosialis Papua menolak tradisi budaya yang melemahkan semangat perjuangan revolusi West Papua. Sosialis Papua menolak kelas-kelas sosial dalam hirarki organisasi maupun dalam pelayanan. Sosialis Papua menolak Gereja yang membuat umatnya hanya duduk terlelap dalam ruang gereja sambil meratapi penderitaan bangsa, tetapi tidak menyuruh umatnya keluar berjuang, bergerak, melawan dalam realitas  (kenyataan).

 

Sosialis Papua tidak anti pada identitas budaya dengan tradisi-tradisinya, sepanjang itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai kesetaraan, keadilan, kebersamaan (kerja sama/kolektifisme). Sosialis Papua menolak mengkultusan orang-materi. Sosialis Papua menghargai dan partisipatif terhadap keaneka ragaman suku-dan budayanya di West Papua, tetapi menolak sukuisme dalam membangun kebangsaan-negara Papua.

 

Sosialis Papua menghargai, bahkan ikut memajukan budaya dan nilai-nilai hidup orang Melanesia di West Papua, sepanjang itu bermanfaat untuk membentuk rakyat bangsa West Papua yang setara, adil, dan kolektif dalam berbangsa dan bernegara West Papua. Sosialis Papua menolak patriarki dan seksisme.

 

Intinya, Sosialis Papua tidak bertentangan dengan budaya dan gereja di Papua sepanjang keduanya menjadi kelompok sosial yang mendorong segenap rakyat West Papua untuk berjuang dalam realitas penindasan dengan kesadaran revolusioner, bukan dalam angan-angan, mimpi-mimpi, dan gerakan-gerakan utopis.

 

Tulisan ini sebelumnya di sebar luas  lewat media masa (FB, Line dan WA) kemudian ditayang kembali lewat website kabarmapegaa.com, Minggu (3/6/2018), Pukul: 17:02 WIB.

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait