Stefanus Kadepa, Guru Pahlawan Tanpa Jasa

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

5 Hari yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Foto ini diambil saat training berlangsung di ‘Balai Pelatihan Kodaa.Com’ di Kampung Toyaimuti Agadide.

 

 

Oleh: Marthen Kadepa*
 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM - -Menurut pengertian umum guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus memiliki semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru/pendidik.

 

Berawal dari pengertian kata yang luhur ini, secara sederhana, dapat kita katakan bahwa peran utama seorang guru/pendidik adalah mengedukasi, membimbing, mengajar, menasihati, menginspirasi, memovatasi serta mengarahkan murid-muridnya. Ini merupakan tugas dan tanggung jawab yang mulia oleh seorang guru/pendidik.

 

Guru/pendidik selalu di panggil untuk melayani bukan dilayani. Di kata lain, dia bukan otoriter untuk memerintah seperti raja yang berkuasa atas murid-muridnya. Akan tetapi, ia adalah seorang pelayan yang mesti melayani mereka dengan penuh pengabdian tidak peduli seberapa risiko yang harus ia pikul atau bayarnya.

 

Selain itu, guru/pendidik juga merupakan seorang pelindung untuk melindungi murid-muridnya. Oleh karena itu, sebagaimana induk ayam melindungi anak-anaknya oleh kedua sayapnya, demikian pula seorang guru/pendidik melindungi anak-anak didiknya dengan segala kerendahatian yang tulus. Hal ini sangatlah penting karena guru adalah faktor pembentuk karakter pemikiran dan pengetahuan utama bagi anak-anak didiknya baik secara secara mentalitas, spiritualitas maupun psikologis. Lagi pula, guru/pendidik merupakan satu-satunya penyalah lilin kecil harapan bagi anak-anak didik di masa depan mereka.  

           

Untuk dapat tercipta formasi karakter pemikiran dan pengetahuan yang benar dan humanis ini maka guru harus jadi orang yang berpengetahuan, berketerampilan dan berpengalaman yang luas atau kata yang lebih tepatnya lagi adalah guru mesti menjadi orang yang benar-benar memiliki keahlian yang matang di bidangnya sehingga siswa tidak hanya menjadi berkompeten dalam bidang yang mereka tekuni tetapi mereka pun mampu bersaing dengan negara-negara maju yang secara pendidikan maupun teknologinya dikatakan terkembang. Mengapa saya katakan demikian? karena mau menjadi seperti apa nantinya siswa tersebut akan sepenuhnya terletak pada kualitas seorang guru/pengajar/pendidik.      

 

Sesungguhnya, siapa saja bisa menjadi guru atau pengajar. Siapa saja bisa mengajar. Siapa saja bisa mendidik orang. Siapa saja bisa memotivasi atau menasehati orang serta memberi inspirasi kepada orang. entah itu pihak keamanan, pihak kesehatan, pihak pengusaha. siapapun bisa melakukan itu. Ya tentu saja. Anda dan saya pun bisa, bukan? Namun, menjadi guru bukan sekedar mengajar tetapi juga mendidik. Tugas utama guru adalah mendidik “memanusiakan manusia”. Jika tugas guru sebatas mengajar saja, sudah sejak lama panggilan menjadi guru punah. Terlalu banyak orang pintar tapi tak banyak orang minat menjadi guru.

 

Panggilan menjadi seorang guru yang mendidik dan memanusiakan manusia adalah panggilan Tuhan, panggilan nurani yang berhubungan erat dengan motivasi hati yang terdalam. Di gaji atau tidak, seorang guru yang memiliki beban mendidik akan terpanggil mencari “domba-domba yang tersesat”. Entah domba-domba tersebut sedang tersesat di kampung pedalaman atau tersesat di perkotaan atau di hutan belantara, ia pasti berjuang menemui mereka.

 

Jika kelas-kelas guru disebut pihak-pihak lain maka guru yang mendidik dan memanusiakan manusia akan mampu menciptkan serta melahirkan pelajar yang hebat dan berilmu dan berpengetahuan. Guru yang memiliki sikap edukatif ia tidak ‘mementingkan diri sendiri’. Ia dapat memandang jauh melampaui itu. Melihat jauh ke depan, ke masa yang akan datang dengan terus mendidik di masa kini demi pencerahan dan kecerlangan masa depan anak-akan didiknya.

 

Sesungguhnya, saya pernah melihat orang yang memiliki sikap dan karakter seperti ini. Namanya adalah STEFANUS KADEPA, S.kom. Menurut saya, ia adalah seorang guru hebat yang berpotensi, berilmu, berpengetahuan bahkan berpengalaman yang sangat ahli tidak hanya di bidangnya saja Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tetapi juga di bidang-bidang lainnya seperti Bahasa Inggris. Dia tidak hanya orang yang berbakat tetapi ia adalah orang yang berpotensi. Selain keahlian, ia pun memiliki sikap hati yang edukatif, adaptabel dan mau mengabdi kepada masyarakat tanpa menghiraukan seberapa harga yang ia bayarkan; Ia memiliki jiwa kaderisasi serta kepedulian terhadap orang lain; bahkan ia mempunyai hati yang mau berbagi kepada sesama dengan apa yang ada padanya.

 

Selanjutnya, ia memiliki kapasitas dan kepandaian yang baik dalam hal ini mengajar, mendidik serta melatih anak-anak. Melihat sifatnya yang lemah lembut dan kepribadiannya yang paling unik itu, saya benar-benar merasa terkagum dan bangga. Jujur, saya harus katakan bahwa dia memang guru hebat yang pernah saya lihat. Ia berhak menerima kekaguman dan kebanggaan dari saya. Dari didikan serta binaannya telah berhasil membuahkan banyak buah dan sebagian besar dari mereka sudah sukses. Dan saya adalah salah satu dari hasil didikannya dari sekian banyak itu.

 

Dengan penuh kegaguman mengakui bahwa ia adalah mentor, penyemangat, pendidik dan  penasehat hebat yang pernah saya lihat dalam hidup ini. Saya tidak akan pernah melupakannya semua kontribusi-kontribusinya yang tanpa syarat berupa pengalaman serta pengetahuan yang dikontribusikan kepada kami yang sangat mengagumkan dan bermanfaat itu.

 

Berikut ini penulis akan memaparkan 3 sikap yang di miliki oleh seorang guru tanpa jasa “STEFANUS KADEPA” berdasarkan apa yang penulis lihat, ketahui dan pelajari dari pribadinya yang sangat unik itu yang mungkin juga bisa menjadi teladan bagi kita:

 

1. Hati yang peduli

Menurut Akhmad Muhaimin (2010: 88) Kepedulian adalah sikap memerhatikan kebutuhan orang lain baik secara materi maupun non materi, mau berbagi, dan mendengarkan orang lain.  Jenis sifat dan karakter itulah yang dimiliki oleh Stef. Dia memiliki hati yang mau melayani dan berbagi dangan apa yang ada padanya kepada orang lain.

 

Menurut saya, sifat dan karakter peduli seperti ini penting sekali untuk dimiliki serta diteladani oleh semua orang terutama bagi para guru/pengajar. Karena faktanya banyak orang yang menyatakan dirinya pintar tapi pada kenyataannya egois dan egosentris dalam hal ini peduli terhadap sesama. Mereka tidak mau peduli dan tidak mau perhatikan dengan orang lain. Padahal tindakan peduli merupakan salah satu bentuk tindakan kasih terhadap orang lain.

 

Jadi, mari kita tinggalkan budaya ego lama kita dan membangun kembali budaya baru dalam diri kita untuk selalu belajar mencintai dan peduli terhadap orang lain dengan apa yang kita punya dan dengan apa yang bisa kita lakukan kepada mereka dengan senantiasa mengikuti teladan yang diajarkan dan ditunjukkan oleh abang Stef.

 

2. Hati yang mau berbagi

Ada pepatah kata mengatakan bahwa “ Ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan kepada sesama kita yang memerlukannya, tidak akan pernah kurang ataupun habis namun justru menambahnya”. Orang yang punya hati untuk berbagi kepada sesama manusia mengetahui dengan benar akan hal tersebut. Ia tahu dengan persis bahwa aksi berbagi adalah bukan suatu hal yang merugikan bagi dirinya sendiri melainkan justru lebih menguntungkan.

 

Sebaliknya, orang yang pelit berbagi atau memberi kepada sesama ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilkinya, maka hal itu tidak hanya merugikan baginya tetapi juga ia sama sekali tidak akan pernah mengoptimalkan pontensi yang dimilikinya itu semaksimal mungkin. Karena faktanya, bahwa saat dengan tulus kita berbagi ilmu pengetahun dan pengalaman yang kita miliki kepada orang yang membutuhkannya, justru akan berbalik kepada kita. Dan sebagai akibatnya, keunggulan potensi kita pun akan menjadi lebih maksimal lagi.

 

3. Hati yang rela berkorban

Saya masih ingat sebuah pengalaman luar biasa dan sangat menggembirakan yang tidak dapat dilupakan saat dimana abang STEF membuka “Balai Pelatihan Computer” di distrik AGADIDE tepat di kampong Toyaimuti/Kodaa pada tahun 2011. Tatkala saya masih berada di Sekolah Menengah Pertama (SMP).  Jujur, saya harus akui bahwa saat itu saya belum tahu apa-apa (masih dalam angan-angan) mengenai aplikasi computer itu sendiri. Hal itu disebabkan sekolahku juga memang di pedalaman jauh dari kota. Tidak seperti sekolah-sekolah di perkotaan yang fasilitasnya begitu serba lengkap termasuk jaringan internet sendiri.  

 

Namun, dengan kehadiran abang Stef di tengah masyarakatnya dan dengan membuka “Balai Pelatihan Computer” telah dibuktikan serta diaplikasikannya dengan nyata semua ilmu pengetahuan dan pengalaman yang ia miliki di publik.  Dengan bijak ia telah melihat kerinduan adik-adiknya yang sesungguhnya dan dengan berhasil ia telah mendidik mereka  tidak hanya anak-anak didiknya tetapi juga masyarakat banyak pada umumnya. Dan sebagai hasilnya, baik anak-anak didiknya maupun masyarakat pada umumnya telah berhasil memperoleh wawasan serta pengetahuan akan ilmu teknologi dan komunikasi (TIK) itu sendiri termasuk saya sendiri.

 

Itulah sebabnya, guru yang baik mau berkorban demi kepentingan dan kebahagiaan banyak orang. Ia harus mendahulukan atau memprioritaskan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Dengan rela dan sadar ia mengedepankan kebutuhan orang lain dengan cara mengajar, mendidik, melatih, menginspirasi dan  memotivasi kepada anak-anak didiknya ketimbang mencari, kebutuhan kepentingan dan kebahagiaannya sendiri. Mengakui bahwa tidak ada alasan lain hal itu didorongnya oleh hati yang mau peduli terhadap orang lain.

 

Saya mau menarik sebuah kesimpulan bahwa, sukses bukan hanya diukur secara materi, tapi saat seseorang berguna dan bernilai bagi banyak. Penilaian sukses yang paling objektif adalah orang-orang yang bersama kita. Jika kualitas hidup orang-orang di sekeliling kita menjadi lebih baik melalui kiprah kita ataupun kontribusi riil yang kita lakukan kepada mereka dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki, itulah kesuksesan kita. Saat kita bisa berbagi kepada orang lain dengan apa yang kita punya dan dengan cara yang bisa kita lakukan kepada mereka yang tentu saja berguna dan bernilai bagi mereka, itulah sukses.

 

Oleh karena itu, saya ingin katakan bahwa guru yang baik, handal, mampu serta patut diteladani adalah guru yang punya integritas serta hati nurani yang tulus dan bersih, peduli terhadap kepentingan dan kebutuhan orang lain lebih utama ketimbang dan kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri, punya jiwa kaderisasi, punya rasa social yang tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri.

 

Selain itu, guru/pengajar/pendidik yang handal adalah ia yang memberikan pengaruh positif dan nilai tambah kepada anak-anak didiknya sehingga kedepan mereka pun menjadi manusia manusia yang berguna, bernilai, berpengaruh dan bahkan bermakna tidak hanya bagi diri mereka sendiri tetapi juga bagi masyarakat banyak, bagi komunitasnya, bahkan bagi suatu bangsa dan negara. Inilah model guru yang tanpa jasa dan patut diteladani oleh semua orang.

 

Penulis adalah Mahasiswa Papua yang saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas STBA LIA di tanah rantauan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta, 23 November 2021: 12:59 WIB

 

#Mahasiswa dan Pemuda

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait