Suara Pahlawan Bergema di Mimbar Kebenaran

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Foto Alm. Mako Tebuni. Saat menyampaikan aspirasi di mimbar Kebenaran.

 

Oleh, Muyepimo Pigai*)

 

Opini, KABARMAPEGAA.Com--Masih saja aku duduk di gubuk derita perjuangan. Dengan secangkir kopi tua yang telah dingin. Memandangi setangkai sunyi kejujuran yang tumbuh dibenak hati dan pikiranku. Ketika langit telah benar-benar dibaluri kegelapan. Dan aku seperti kembali mendengar suara memanggil-manggil dari jarak yang jauh. Menjawab isi hati rakyat tertindas, yang tersimpan dalam lubuk hati, memory kisah perjuangan hidup rakyat di atas tanah leluhur Papua.

 

Suara itu terdengar lembut dan penuh menggema di jalan tua. Menjawab derita luka batin rakyat. Ya, itu suara para pahlawan sejati. Yang masih saja ada dalam ingatan rakyat. Sampai aku kerap berkeyakinan. Kalau pahlawan rakyat memang menjawab derita luka batin rakya tertindas. Dalam isi hatiku ini, memory kisah yang terputar kembali, karena adanya cinta terhadap revolusi itu selalu bangkit dari dalam jiwa patriot.

 

Ia adalah jiwa yang telah membebaskan diri lebih dahulu dari pikiran kerdil penguasa penjajah. Untuk memina bobokan dengan iming-iming uang dan jabatan. Dia tidak mudah dibeli oleh semua itu. Imannya selalu besar. Tidak tunduk menyembah pada hal duniawi yang dapat menyesatkan pikiran dan jiwanya menjadi tandus, kerdil, kering dan mati sudah!

 

Aktivitasnya menarik dan mendatangkan simpati rakyat. Perbuatanya radikal, siap diikuti dan mengajak rakyat mandiri tidak bergantun pada penguasa. Yang berupaya menanamkan pikiran kerdil membunuh kemanusian. Jiwanya yang sejati, relah menaru diri pada perjuang kemerdekaan, kebebasan dan cinta kasih.

 

Atas dasar ini, seorang revolusioner membangkitkan kesadaran perlawanan kepada mereka yang bermata dua, pura-pura cinta damai. Namun, sesungguhnya tidak tulus cintai kemenangan. Tidak pernah dia mengatasnamakan negara dan jabatan.

 

Perjuangan para pembelah kebenaran merupakan atas nama kemanusian di atas tanah leluhur, bumi Papua. Aktivis pemberani ini cerdas mengerti rantai ketertindasan yang mempertahankan sistem ketidakadilan. Karismanya akan membuat masyarakat bangkit dari kegelisahan. Tidak akan tinggal diam dan tidak takut kepada penguasa bertangan besi. Hidup dan mati itulah perjuangan suci dibalik kekejaman kaum tertindas.

 

Oleh sebab itu, seorang perjuangan harus mematahkan mata rantai penindasan terhadap kaum tertindas di atas tanah penuh kekejaman, kebodohan, kehancuran, kesengsaraan terhadap rakyatnya. Justru, melalui perjuangan suci, itulah akan tercipta kebebasan hidup sebagai manusia yang bermartabat di atas tanah sendiri. Lawan atau mati tak bermartabat ada di tangan setiap insan yang berjuang atas kebenarannya.

 

Penulis adalah Mahasiswa Jalanan

 

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait