Suku Mee, Dewasa Dalam Melihat Berpikir dan Bertindak

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

15 Hari yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Julianus Boma,

 

 

Oleh, Julianus Boma*)

 

1. Latar belakang

Manusia Mee adalah manusia sejati,” tidak asing lagi di telinga kita. Mengapa manusia Mee adalah manusia sejati?  Kesejatian  manusia Mee ada di mana? Apakah kesejatian manusia Mee masih dipertahankan hingga saat ini? dan  Apakah manusia Mee sudah memiliki  dewasa (meeibo)?.  Sebagai moto hidup Suku Mee adalah dewasa dalam Melihat (Dou), Berpikir (Gaii), dan Bertindak (ekowai).

 

Pernyataan dan pertanyaan tersebut masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab dan bahkan tetap akan memisteri dalam sanubari manusia Mee.  Jika  Manusia Mee dikatakan manusia, maka sebagaimana manusia yang lain: kita memiliki tubuh, jiwa dan roh. Manusia dari segi tubuh (ma atau epo) mempunyai fungsi tersendiri, sekaligus cara pemakaiannya pun tersendiri pula, ma doutou, ma muni, ma kaa keitai, ma kaa ekowai. Demikian juga dengan jiwa (aya) yang berkaitan dengan kejiwaan, sifat, sikap, karakter dan aklak atau kognitif. Selanjutnya perkataan dengan roh (ebe puu/dimi puu) lebih berhubungan dengan yang ilahi. Kemudian, Manusia Mee memikiki Dewasa (Meibo). Disini  penulis lebih mengulas tentang Manusia Mee adalah Manusia Dewasa dalam segala aspek kehidupan Manusia.

 

2. Apakah Manusia Mee Dewasa?

 

Manusia Mee adalah Manusia dewasa (Meeibo) tanpa memandang aneka dayanya seseorang baik ditingkat umur, pengalaman, pendidikan, pengetahuan (kemampuan) dan kekayaan barang dan jasa. Ketika seseorang menampilkan karakter pembicaraan dan tindakan yang akurat dengan keberadaan dan keadaan saat berlangsungnya sesuatu persoalan. Seseorang kalau pandai posisikan dirinya dengan kondisi dan situasi yang sedang terjadi sebab itu, manusia Mee memandang arti dewasa (Meibo).

 

Suku Mee di masa milenial ini sangat memerpengaruhi dengan budaya modern dan kurang mengerti makna budaya Mee yang aslinya sebab itu kemampuan-kemampuan yang selalu ada secara turun-temurun pula mulai menghindar dari pemilik. Pentingnya lestarikan dan merestorasi kembali keadaan dan kebiasaan yang semula atau zaman tete nenek moyang kami yang pernah menjadi kebiasaan murni yang tak pernah hidup lari dari budaya dan adat isti adat Suku Mee di Meeuwodide.

 

Manusia Mee sendiri memiliki beberapa kemampuan yang dimiliki oleh manusia Mee. Manusia Mee juga memiliki karakter kedewasan yang tanguh dan mampu untuk memaknai arti hidup dalam kebisaan sepanjang hidup. Disisi kedewasan terbentuk pada generasi tua, Perempuan dan generasi muda manusia Mee terlihat dewasa.

 

Manusia Mee memiliki  kedewasan dalam aspek kehidupan dengan gaya dan tindakan tersendiri yang di warisakan oleh Tuhan dan memberikan stafet nilai kedewasan ini melalui  para leluhur sejak manusia Mee ada. Kedewasan itu mendara daging, karena ajaran dan doktrin yang positif dari generasi ke generasi. Tidak mematakan api kedewasan dalam tetap menyala dan tidak akan pernah ada mematikan kebiasan kedewasan dalam kenikmatan didup dalam kehidupan Suku Mee.

 

Pemanfatan arti kedewasan Suku Mee itu sendiri mengajarkan manusia Mee terbentuk kedewasan sebelum dan sesudah menghadapi berbagai persoalan, baik Internal dan eksternal. Para orang tua Mee ajarkan kedeawsan yang akiki, dengan kaka bijak seperti: Melihat/Mendang masalah (Mana douu), berfikir (Dimigai), Berbicara ( Mana wegai) dan Bertindak, bekerja (Keitai/ekowai), Masalah kehidupan manusia (Umiitou Mana), dan kata-kata bijak yang diwariskan oleh para leluhur dari nene moyang suku Mee.

 

Dengan demikian, aspek karakter dewasa (Meeibo) suku Mee diikuti dengam kemampuan-kemampuan yang ada pada Individu yang unik dalam golongan, generasi tua, generasi muda dan perempuan. Sehingga  penulis menjelaskan secara detail. Bagaimana cara melihat, memahami dan melakukan manusia Mee di sisi dewasa yang mampu mengartikan nilai-nilai adat dan kultur yang ada pada manusia Mee yang diwariskan oleh Tuhan (Ugatame) kepada Manusia Mee.

 

3. Aspek Memandang Sebuah Pembahasan  (Manadou)

 

Suku Mee berprinsip dewasa tanpa memandang umur, pengalaman, dan pengetahuan pada prinsipnya Mee bicarakan pada kebiasaan (kemampuan) seseorang. Menurut  suku Mee  walaupun memiliki kekurangan dalam suatu hal jika seseorang pandai melihat atau memilah-pilahkan salah satu masalah dengan baik, benar, dan tepat pada sasaran atau berbicaranya terarah dengan persoalan yang sedang disinggung. Hal itu manusia Mee biasa dibilang bahwa (yoka atau ewoo mee kidiya mana dou epii), umurnya masih kecil atau kurang tahu dalam suatu hal  tetapi untuk melihat masalah ini pintar sekali dalam memandang letak persoalannya.

 

Kesetian dan kefokusan pada suatu pembicaraan membentuk kemampuan seseorang kemudian dirinya dewasa dalam segala hal lebih khusus sisi melihat sebuah masalah. Sebab demikian anak dibawah umur dan orang tidak tahu yang dimaksudkan diatas dinyatakan dewasa.

 

4. Dewasa Aspek  Berfikir (Dimii Gaii)

 

Manusia Mee menganggap seseorang dewasa kalau, seseorang mengirah suatu masalah bisa diselesaikan menggunakan (logika) berpikir sosial dan berpikir secara dewasa disertai hasil pengamatan sebuah masalah dan didukung oleh langkah-langka penyelesaian yang tepat pada sasaran "meibo ka dimii daiga gayake manaa wegai danaa keitai" artinya (Berpikir secara sistematis dan teratur kemudian berbicara). Menanggapi dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh seseorang, keluarga, dan masyarakat setempat dengan detail atau sesuai akar persoalan yang sedang dibicarakan dan menggunakan langkah-langkah yang bisa dipersoalkan dalam penyelesaian masalah yang dimaksud.

 

Hal itu, manusia Mee menganggap bahwa (dimii gaii epii mee) artinya, orang yang memiliki kemampuan pemikir  hal yang berguna bagi banyak orang dan berpikirnya pula lebih menyenangkan bagi banyak orang.

 

"kegiatan dimi gaiii adalah sebuah tugas dan  kewajiban yang mau tidak mau harus dilakukan oleh setiap orang selama kehidupan  di dunia ini, karena itu merupakan sebuah tugas kehidupan Manusia Mee. Dimi Gaii  pada hakikatnya adalah menyangkut apa yang harus dilakukan oleh manusia terhadap dirinya sendiri yakni terhadap akal budi, hati nurani, kehendak bebas, jiwa dan Rohnya".

 

Dimi Gaii, perlu mempersoalkan dalam kehidupan manusia karena segala hal yang berkaitan dengan hidup manusia terangkul dalam Dimi Gaii  itu sendiri. Baik itu penentuan suatu kegiatan ataupun program dalam hidup, dan mengambil keputusan dalam hidup, mengerjakan suatu pekerjaan dalam hidup dan mendapatkan nafkah hidup seseorang, keluarga, pada umumnya masyarakat.

 

Berpikirnya lebih banyak menyenangkan atau menguntungkan dalam hidup. Pada prinsipnya berpikir hidup bersosial perlu diwujudkan dalam kehidupan manusia. Berpikir sosial dengan sesama dalam menjalin hubungan yang baik atau berpikir dan bekerja menolong orang lain yang sedang membutuhkan bantuan dari pihak yang mampu atau telah terdaya perlu dilakukan pertolongan kepada orang atau mereka yang lemah atau kurang mampu dalam menjalani hidup melalui berpikir sosialnya ataupun melakukan kegiatan lainnya.

 

5. Dewasa Aspek  Berbicara (Mana Wegai)

 

Menurut suku Mee, dewasa dapat diartikan dengan berbicara yang baik, benar dan menggunakan etika berbicara dalam penyampaian artinya bahwa setis mendengar  saat orang lain berbicara, supaya dalam proses penyelesaian sebuah masalah yang harus ada solusinya, dapat diambil kesimpulan masalah dengan sesuai dan juga tanpa berasaskan belah-membelah kepada satu pihak saja.

 

Namun ia berjiwa netral dalam menghilangkan sebuah perdebatan (kontraversial) kemudian memuaskan bagi pihak A dan B. Hal ini dinamakan penyelesaian masalah sesuai dengan akar pembicaraan. manusia Mee biasa dikatakan dewasa kalau seseorang tahu dalam hal berbicara artinya penyampaiannya nyambung dan dapat dimengertikan bagi orang lain (publik) tanpa membingungkan  orang-orang yang berada disekitarnya. Hal ini manusia Mee sering dianggap dengan pengertian bahwa  menunjukkan seseorang bobot dalam penyampaian atau penyelesian  (kii mee kike mana wegai epii) menunjukkan bahwa orang tersebut pandai menyelesaikan masalah yang sedang ada.

 

6. Aspek  Bekerja/ Bertindak (Ekowai/keitai)

 

Persektif manusia Mee terhadap Dewasa (Meeibo) tanpa membahas umur dan pengalaman kerja. Semenjak manusia Mee mengetahui apa yang saya harus lakukan atau kerjakan akan menuju pada ( keitipeko naine danaa doune ) kemudian ( tekeitipeko tenaine danaa tedoune ) artinya jika seseorang berkerja, bertindak, dan berusaha tentunya akan mendapat hasil yang dicarinya kemudian seseorang tidak melakukan kegiatan berusaha atau bekerja  untuk mendapatkan sesuatu tentunya tidak akan dapat atau temukan hal yang dicarinya. Hal yang dimaksud diatas  Manusia  Mee biasa dikatakan dengan maksud ( keitai epii mee atau keitetai mee ) hal ini dinamakan dengan orang yang rajin dan pandai bekerja dalam pekerjaan apapun 

 

7. Aspek Kehidupan  (Umiitou)

 

Kacamata manusia  Mee terhadap  Dewasa (meibo) tanpa menggambarkan umur dan pengalaman yang dimiliki atau ada pada manusia Mee itu sendiri bahwa, jika siapa dia yang ingin bertahan hidup lama di dunia ini maka jelasnya diperlukan usaha yang  matang dalam mendapatkan kesejahteraan hidupnya sebab itu, membutuhkan proses pengadaan hidup yang akan muncul pada yang namanya perubahan dalam kehidupan baik perubahan berdampak negatif maupun positif.

 

Perubahan tersebut berdampak positif apabila mengarah pada kehidupan yang berdaya dalam pertahanan umii tou (hidup) yang baik dan benar.

 

Menurut manusia Mee (ubapeko doune danaa keitipeko naine), Artinya kalau seseorang melakukan tindakan untuk mendapatkan nafkah hidup jelasnya akan ditemukan atau mendapatkan jika seseorang bekerja hasil kerjanya pasti ada dan  menggunakan untuk kebutuhan hidupnya demi mencegah kelaparan dan kekurangan dalam kehidupan manusia sebagai bagaian dari proses  dalam kehidupan. Bagi manusia Mee, (Meibo) dalam kehidupan atau "umitou"  berarti tiga bagian sebelumnya atau diatasnya dari aspek umitouu (hidup) harus mengadakan dalam menjalani kehidupan manusia Mee khususnya dan pada umum bagi masyarakat selain orang Mee.

 

8. Apek Bahasa  (Managimo)

 

Manusia Mee dalam kehidupan manusia musti beralaskan dengan ajaran-ajaran dengan  bahasa-bahasa lokal  yang di wariskan pada setiap suku. Manusia Mee tersendiri memiliki bahasa (Mee Managimo), bahasa tersendiri dari generasi ke generasi, bahasa Mee sebagai pegangan dalam hidup seseorang maupun keluarga dan manusia Mee. Bahasa ini bersifat turunan yang telah dijadikan kebiasaan sejak tete nenek moyang yang mendahului kami maupun orangtua yang masih hidup pada jaman kami dan kami pula harus mengangkat dan melestarikan bahasa-bahasa yang dimaksudkan.

 

Tete nenek moyang suku mee telah mewariskan ajaran  bahasa Mee sepertinya, umii touu dubaa mee be tee ewii ( dalam menikmati hidup jangan berbuat hal yang tidak diinginkan oleh orang lain) mee kaa agiyo omaa teyamoti (jangan mencuri barang yang telah dimiliki orang lain) maksud ini mengandung arti bahwa ( akiya agiyoko akiya danaa okeiya akigiyoko okeiya) barang yang kita punya itu milik kita kemudian barang milik orang itu orang punya sebab jangan mencuri. Kata-kata bijak suku Mee merupakan  bersifat larangan kemudian dalam kehidupan seseorang, keluarga maupun manusia mee musti adakan perjuangan atau pencarian demi menjaga bahasa lokal yang ada pada manusia Mee.

 

Disi lain, (ubayake douyaa dana naiya). Hal itu mengandung arti bahwa dalam menjangkau mutu hidup yang baik perlukan usaha demi mencapai kesejahteraan dan kemampuan dalam hidup. Setelah itulah tercipta kehidupan sejahtera, aman, dan damai karena sudah memiliki apa diperlukan atau kekurangan dalam hidup.

 

Sebagai manusia suku Mee penulis menyarankan bahwa, perlu memiliki kemampuan-kemampuan yang musti dimiliki oleh seseorang Mee yang telah dimaksudkan kemudian  dalam kehidupan masyarakat suku Mee perlu adakan pengimplementasian pedoman atau pandangan hidup ( filosofi ) Mee dalam menjaga dan melestarikan pegangan hidup Mee itu  diharapkan juga untuk  seseorang sekeluarga, dan masyarakat suku Mee pegang teguh/kuat tanpa kepedulian lelah demi mempertahankan eksistensi Mee itu sendiri hal ini dimaksudkan demi mengangkat hidup manusia Mee yang, sejati dan berbudi.

 

8. Aspek Filsofi Manusia Mee

 

Filosofi manusia Mee menjadi patokan fundamental dalam kehidupan manusia Mee yang sejati dan berakal. Filosofi Manusia Mee yang dimaksud yakni sebagai berukut : Douu Melihat (Douu), berpikir (Gaii), bertindak/ kerja (Keitai/ekowai).  sebagai refleski Mengapa filosofi suku Mee perlu ada dalam hidup generasi milenial Mee? apa yang harus kami lakukan agar hidup dan filosofi tetap nyaman dan terlestari?

 

Dalam kehidupan semua manusia didunia pasti punya pegangan hidup. Maka manusia Mee juga mempunyai filosofi seperti berikut:

 

Melihat, berpikir, dan bertindak atau bekerja (Dou,Gaii Keitai/ Ekowai) merupakan pegangan yang harus dipelihara oleh generasi kami ( generasi milenial ) secara terus- menerus dalam kehidupan khususnya suku Mee itu sendiri agar tidak terjadi kepunahan kebiasaan kami yang sudah lama ada sejak tete nenek moyang, sedang ada, dan akan ada bagi generasi mendatang hingga seumur hidup selama suku Mee itu hidup.

 

Kami saling menceritan bersifat regenerasi agar tidak kabur dan buram dari kita sebagai pemakai hal yang dimaksudkan. Melihat, berpikir, dan bertindak. Memaknai bahwa Melihat hal yang baik dan buruk , berpikir sesuatu yang baik dan buruk kemudian bertindak atau bekerja  yang positif (baik) atau menguntungkan bagi manusia Mee dan orang Papua pada umumnya.

 

Penulis Adalah Anak Asli Suku Mee, Yang Sedang Menempuh Pendidikan Di UNCEN, Jurusan IKS Semester V Yang Tinggal Di Jayapura, Papua.

 

Sumber :

 Manfred chrisantus mote,S,Fil TOUYE pegangan hidup bersama Gai, Dimi Gai, dan Touye dalam kehidupan suku Mee papua hlm 102

#Budaya

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait