Sungai Ikiyaione Kebo Banjir, Pemerintah Paniai Tolong Perhatikan Kami

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Sekitar Sungai Ikiyaione Kebo banjir.Jumat [19/9/2020]

 

 

PANIAI, KABARMAPEGAA.COM- Hujan lebat yang terjadi pada Jumat [19/9/2020]  sore hingga Sabtu [20/9/2020] subuh di Desa Kebo I, Distrik Paniai Utara, Kabupaten Paniai, telah  banjir dan longsong dari sungai Ikiyaione  dari hulu sungai gunung Takugi. Akibat dari banjir rumah warga hancur, ternak, sayur mayor serta pagar rumah warga setempat terendam dan syukur tidak ada nyawa manusia korban.

 

Marthen Gobai, warga setempat mengaku kaget dengan hujan yang turun tersebut karena pada pagi hari dirinya mendapat semua hancur akibat banjir.

 

Akibat dari banjir Marthen Gobai mengatakan,  rumah warga terendam, seluruh tanaman dan kandang ternak yang terletak di sepanjang sungai Ikiyaione Kebo hancur dihantam air banjir dan syukur belum ada nyawa manusia yang korban, jelasnya.

 

“Bangun pagi, saya kaget sekali karena bukan saja tanaman yang hancur, pagar yang saya buat juga rubuh. Terus kandang babi yang saya buat sebagian rusak lagi, pagar yang dibuat SMP Negeri kebo, SD Inpres juga dan jembatan utama Distrik kebo serta jembatan jalan raya pun rusak” beber Gobai. Selasa, (22/092020).

 

Athen mengaku musibah tersebut benar-benar telah merugikan. “Kalau mau dihitung-hitung uang saya keluarkan waktu itu untuk buat semua ini 7 sampai 10 juta. Lebihnya itu di pagar dan rotan ini, karena harga  seratus buah pagar 3.000.000 juta dan satu ikat rotan 500 ribu rupiah,” tuturnya.

 

Lanjut dia, “Sedangkan untuk sayuran memang tidak seberapa pengeluarannya, tapi sekali panen saya bisa dapat 1 jutaan lebih dan 5 ekor babi piarahan itu panen biasa saya dapat 5-10 juta dan bajir kali ini membuat saya rugi besar,” ujar dengan kesal.

 

Sementara itu, Mama Lince yang juga adalah warga setempat mengaku mengalami nasib sama.

 

“Saya sekarang bingung harus bagaimana lagi, semua tanaman saya tadi malam hancur. Tidak ada yang tersisa,” kata mama Degei, saat  konfirmasi media kabarmapega.

 

Dikatakan, sayur yang hancur itu beragam jenis yakni sayur kol, boncis, japan, daun petatas, keladi, pisang dan tebu dan lain lain.

 

Sehingga lanjut ibu, kejadian itu bukan saja telah merugikan saya saja melainkan seluruh keluarga setempat.

 

“Jadi bingung sekarang, suami saya petani sama dengan saya. Kami bingung bagaimana harus menghidupi kebutuhan keluarga,” tutur mama Degei.

 

Atas kejadian itu, Athen dan mama Degei  berharap, agar pemerintah Kabupaten Paniai di Distrik Kebo dapat segera revitalisasi sungai atau membuat bronjong di sepanjang sungai Ikiyaione.

 

Tempat yang sama Yosep Gobai, Kepala Suku Distrik Kebo dengan tegas mengatakan, musibah tersebut terjadi akibat pemerintah setempat tidak pernah memanfaatkan uang yang ada untuk pembangunan infrastruktur daerah.

 

“Dana APBD Paniai terbilang sangat besar yakni 1,3 Triliun lebih tidak terhitung dana Otsus, APBN dan Dana royalitx dari PTFI. Tapi fakta hari ini di lapangan masyarakat menderita dan menderita tidak ada pembangunan sama sekali. Semua uang itu dikemanakan,” kata Yosep dengan nada kesal.

 

Lanjut Yosep,  musibah sudah terjadi, tetapi pemerintah hingga saat ini belum memberi bantuan. Ini artinya pemerintah benar-benar sudah tidak lagi peduli dengan derita dan tangisan rakyat Paniai utara Kebo.

 

Lanjut yosep, “Yang lebih mengherankan dari sikap pemerintah saat ini adalah, pemerintah malah tidak memberi bantuan ke rakyat kecil yang sedang menderita, ini parah sekali.”

 

Untuk itu, ia meminta pemerintah daerah dapat meluangkan waktu untuk langsung dengar dan beri bantuan ke rakyat yang terkena musibah.

 

“Jangan sibuk terus dengan urusan politik, coba luangkan waktu sejenak lihat rakyat di Paniai Utara Kebo dan sekitarnya karena sudah rakyat menderita,” pinta yosep.

 

Pewarta:Yunus Eki Gobai/KM

 

#Pemerintahan

#Lingkungan dan Hutan

Baca Juga, Artikel Terkait