Syam Terrajana Membingkai Kolonialisme Lewat Lukisan

Cinque Terre
Aprila Wayar

7 Bulan yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Freelance Journalist
Syam Terrajana bersama dua lukisannya yang bertema Papua. (Aprila Wayar)

 

KABARMAPEGAA.com, Yogyakarta – Berbekal latar belakang jurnalis, Syam Terrajana nama popular dari Syamsul Huda M. Suhari, laki-laki campuran Jawa - Gorontalo ini mencoba merambah kota seni Yogyakarta pada 2018 silam. Semangat ini tidak sia-sia. Pameran tunggal bertajuk “pada Ruang yang berCerita” dengan menampilkan lukisan berlatar Kolonialisme Belanda, Hindia Belanda (baca: Indonesia) hingga Papua akhirnya terselenggara pada 5-15 Maret 2021 di RuangDalam Art House, Bantul, Yogyakarta.

“Pameran tunggal adalah mimpi bagi setiap pelukis dan ini semacam perkenalan karya saya kepada public untuk diapresiasi maupun dikritisi berbagai kalangan; baik individu, kelompok, komunitas dan masyarakat luas,” kata Syam kepada KABARMAPEGAA.com, Rabu (10/3/2021) melalui selular.

 

Pecinta Buku Sejak Kecil

Syam Terrajana lahir di Gorontalo, 3 Juni 1982. Ia mulai mencintai buku sejak berada di bangku sekolah dasar. Ayahnya yang bekerja di Kantor Departemen Agama Poso sering pulang membawa buku sangat mendukung semangatnya membaca. Salah satu bacaan yang masih diingat dengan jelas adalah novel biografi “Jejak Wolter Monginsidi” karya S. Sinansari Ecip.

Di usianya yang masih belia, ia sudah melahap berbagai jenis buku hingga karikatur. Sebuah karikatur yang membekas cukup mendalam adalah sebuah gambar wabah kelaparan di Etiopia terbitan Sinar Harapan. Karikatur tersebut menggambarkan seorang laki-laki kulit hitam dengan bentuk fisik seperti ikan duyung yang sedang duduk sambil makan dengan sendok dan garpu di tangannya. Hanya saja yang dimakan adalah ekornya sendiri.

“Gambar ini melekat kuat dalam ingatan. Saya bahkan bisa menggambarkan ulang pada kertas untuk saya tunjukan pada teman-teman di sekolah waktu itu,” kata Editor jubi.co.id ini.

Walau demikian, ia sadar kalau dirinya lebih suka membaca dari pada gambar. Menginjak bangku SMP, Syam mulai terbiasa membaca buku-buku tebal. Ia baru menyukai puisi pada saat berada di bangku SMA. Ia membuat puisi hampir setiap hari di buku catatan harian yang masih disimpannya hingga saat ini.

Berikut salah satu tema karya lukisan yang lebih menyerupai puisi terselip diantara lembar-lembar e-catalog pameran tunggal perdananya:

gunung,hutan,laut birubiru

paru paru penuh hirup haru

mama, mama

air pinang masih merah

puji tuhan, rahang masih kuat tertawa

 

Mengenal Sastra Lebih Dalam di Masa Kuliah

Saat menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), ia semakin mendalami dunia sastra. Syam memilih aktif di teater kampus. Ikut berperan dalam berbagai lakon, mulai dari karya dramawan Rusia, Anton Cekov hingga karya klasik Yunani, Antigone karya  Sophokles. Di komunitas teater Jamaah Fundamentalis Sastra (JFS) itulah ia berteman baik dengan Bandung Mawardi, seorang penulis sastra Indonesia yang kemudian menjadi penulis e-catalog pameran tunggal Syam. Sewaktu di JSF mereka memiliki acara membaca puisi yang dilakukan secara rutin.

“Padahal, saya kuliah Perbandingan Agama tetapi passion saya di sastra dan teater,” ujar kontributor di The Jakarta Post untuk Gorontalo ini.

 

Masuk Dunia Jurnalisme

Sadar bahwa sastra dan teater tidak memberikan keuntungan finansial bagi kelangsungan hidup, Syam banting setir. Ia memilih dunia jurnalisme. Ia ingin menghidupi sastra dan teater dengan menjadi jurnalis. Hanya saja ia tak menyangka kalau jurnalisme yang dimasuki sejak 2007 itu seperti candu yang menghanyutkan. Ia lupa pada tujuan awalnya, ia juga lupa pada sastra dan teater.

Waktu bergulir, antusiasme terhadap jurnalisme perlahan menemukan titik jemu karena rutinitas. Syam dan beberapa rekan jurnalis di Gorontalo kemudian mulai mencoba hobi baru di pantai seperti snorkeling dan diving tetapi Syam memilih mundur.

 

Tertarik Pada Dunia Lukis

“Waktu saya antar istri dan anak ke Gramedia Gorontalo sekitar tahun 2013, saat itulah pertama kali saya melihat buku sketsa,” katanya.

Buku tersebut dibelinya tetapi tidak langsung dibuka, dibiarkan begitu saja. Setelah dibuka baru dirinya mengerti kalau melukis itu bisa dimulai dengan membuat sketsa dan buku sketsa ini kemudian menjadi alat belajar pertamanya. Mula-mula ia membuat sketsa dengan melihat berbagai acuan gambar di internet. Setelah itu, ia mengaku kecanduan membuat sketsa. Apa saja dijadikan obyek sketsa olehnya. Termasuk teman jurnalis yang liputan bersama, barang teman juga.

“Pokoknya apa saja. Istri saya yang sedang tidurpun kakinya saya bikin sketsa, juga anak saya,” katanya sambil tertawa.

Dirinya mengerti sekali kebutuhannya untuk berkesenian tetapi ia tidak ingin melibatkan orang lain. Singkat cerita, bertemulah Syam dengan “Tupalo” yang adalah komunitas perupa di Gorontalo. Di sana ia bertemu dengan para perupa yang kebanyakan belajar melukis secara otodidak. 

Karya pertamanya di atas kanvas menyisakan cerita yang tidak akan pernah dilupakan. Ia salah memilih permukaan kanvas yang seharusnya menjadi permukaan lukisan. Mengingat kejadian tersebut, Syam selalu ingin tertawa karena bukan dirinya yang menyadari hal tersebut tetapi justru salah satu temannya yang mengingatkan kalau permukaan kanvas yang sedang dilukisnya itu salah.

 

Berkarir Sebagai Pelukis

Belum lama berkecimpung di dunia lukis, Syam memberanikan diri mengikuti Open Call Galeri Nasional pada 2015 dan ia dinyatakan lolos. Ini menjadi momen membahagiakan. Seperti sebuah tanda, Syam menganggap inilah saatnya menseriusi dunia seni lukis. Selanjutnya, ia mulai ikut bergabung dalam berbagai pameran lukisan bersama rekan-rekan perupa lainnya.

Pindah untuk menetap di Yogyakarta adalah bukti keseriusannya. Tanpa bekal ilmu melukis seperti banyak perupa di Yogyakarta, tiga tahun saja Syam dapat membuktikan kemampuannya ini. Tentu bukan dengan tanpa alasan ia meninggalkan Gorontalo. Di Gorontalo semuanya serba terbatas. Kebanyakan temannya  di sana juga belajar secara otodidak dan pengalaman yang juga terbatas.

“Di Yogya saya bertemu banyak orang hebat dengan banyak pengalaman. Mereka mau berbagi ilmu bahkan berbagi teknis melukis. Bahkan sampai memberi tahu di mana bahan-bahan tersebut bisa saya dapatkan,” kata laki-laki berkacamata ini.

Baginya, Yogyakarta sebagai denyut nadi perupa Indonesia dengan keberadaan Institut Seni Indonesia (ISI) tidak terlalu menyeramkan seperti dalam bayangan banyak pelukis pemula. 

 

pada Ruang yang berCerita

“Alasan memilih tema pada Ruang yang berCerita ini tidak lepas dari latar belakang saya sebagai jurnalis,” ungkapnya.

Judulnya sendiri diusulkan kurator yang melihat ada ruang di setiap lukisan Syam. Menurutnya, setiap orang memiliki ruang dan ia merasa mendapat kehormatan menjadi juru kisahnya.

Berbekal semangat membaca sejarah, hampir enam lukisan yang dipamerkan berlatar nyai, budak dan pergundikan pada meneer di jaman kolonial Belanda. Selain itu, lukisan lainnya bercerita tentang perempuan dan juga dunia jurnalistik. Tidak hanya itu, ia juga membingkai kolonialisme Hindia Belanda di masa sekarang terhadap Papua dalam lukisannya.

“Sebagai orang Indonesia, saya merasa berhutang terhadap Papua atas apa yang dilakukan Indonesia terhadap Papua hari ini. Saya akan mencicil hutang tersebut melalui karya-karya saya,” kata Syam mengakhiri wawancara. (Aprila Wayar)

#Budaya

Baca Juga, Artikel Terkait