Tanah Adalah Kehidupan, Tidak Menanam Berarti Tidak Ada Kehidupan

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Yosep Bunai, Mahasiswa Pasca Sarjana STFT, Abepura - Jayapura.


Oleh: Yoseph Bunai


Tanah Papua biasa disebut dengan cendrawasih (The Bird Of Paradice), pulau yang juga biasa disebut dengan ‘surga kecil yang jatuh ke bumi’. Secara administrasi politik, tanah papua telah dibatasi dengan Tujuh Wilayah adat, MeePago, LaaPago, Animha, Saireri, Domberai, Tabi, dan Mamta. Ketujuh wilayah tersebut didiami dengan jumlah penduduk dua ratusan suku dan ribuan sub suku asli Papua adalah tuan tanahnya. Dalam suku dan sub suku telah dikelompokan dengan fam dan marga. Keturunan dari setiap suku dan sub suku Orang Asli Papua hampir sulit dihitung jumlahnya.  Mereka yang adalah pewaris hak ulayat dan menamakan identitas tanahnya sebagai mama, benar bahwasannya tanah ialah mama yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan. Orang Asli Papua (OAP) entah itu lahir dan besar dari luar Papua maupun di Pulau Papua memiliki roh hidup yang sama yakni kecintaan kepada Tanah, Alam, dan Kampung.


Tanah bagi Orang Asli Papua adalah mama. Mengapa Orang Asli Papua menyebut tanah adalah mama?, karena di antaranya:


1. Sejak manusia dilahirkan sebagai Orang Asli Papua entah itu orang yang terlahir di kota maupun di pedalaman, mempunyai modal hidup yaitu tanah, alam, dan kampung.


2. Setelah lewat umur BaliTa Orang Asli Papua (OAP) akan dibiarkan oleh kedua orang tua untuk bersahabat dengan alam bebas, dibawa perlindungan kedua orang tua.


3. Masa kanak-kanak, Orang Asli Papua mulai meniru dan mengikuti pekerjaan Ayah dan Ibunya sebagai petani, pekerja ladang atau sebagai nelayan, pemburuh yang akan diajari oleh orang tua dalam bidang apa saja, entah itu pekerja sebagai petani atau pemburuh yang berdasar pada tanah.


4. Orang Asli Papua memiliki sebidang tanah di setiap kampung entah anak kecil maupun orang besar bahkan sekarang pejabat yang sedang bekerja di kota maupun tinggal di luar negeri. Sebab semua dibagi berdasarkan hak ulayat dan adat istiadat setempat.


Kemudian hal lain boleh ditambahkan sesuai pengalaman sendiri sebagai Orang Asli Papua, atas dasar pembagian tanah dalam adat kebiasan masing-masing suku atau marga.


Modal hidup  yang telah diberikan kepada setiap pribadi sejak lahir bukan untuk dijual tetapi kita diajak untuk mewujudkan bentuk cinta dan bersahabat terhadap tanah, alam, dan kampung dengan mengelolah tanah sesuai kebutuhan hidup dan melindunginya. 


Sejak kecil Orang Asli Papua (OAP) telah diajak oleh orang tuanya untuk bersahabat dengan Alam. Anak dibiarkan bermain dihutan, main pecek, berenang di air, panjat pohon, dan permainan lainnya. Kemudian anak-anak mulai mengolah tanah dan mencari sesuatu yang bisa dihidangkan untuk keluarga melalui hasil alam. Kegiatan menanam secara filosofis bermakna arif, sebab benih, menjaga, merawat, dan menuai hasil adalah gerak mutlak dari kehidupan tanah dan manusia serta tumbuh-tumbuhan di atas tanah.


Maka itu lokasi atau tempat di dusun Orang Asli Papua mesti diberi tempat untuk produk makan dan minum, tempat belajar dan mengajar mengenai kehidupan, tempat kekuatan hidup Orang Asli Papua. Pusat hidup Setiap marga yang tinggal di luar kampung atau yang tinggal di tempat adalah pemilik hak ulayat. Dari sini bentuk dan cara mencintai dan melindungi tanah dan kampung serta mewujudkan iman akan Allah yang memberi  hidup melalui kearifan lokal, semestinya menjadi tanggapan intim dan kesungguhan manusia kepada pencipta kita. Salah satunya adalah kerja tanah atau berani memulai dengan mengelola tanah. ‘Mari kitong kerja, kerja bukan karena virus crona-19 tetapi kerja adalah mengakui akan Orang Papua Itu Pekerja’.


Penulis adalau Mahasiswa Pasca Sarjana STFT “Fajar Timur” Abepura-Papua   

#Budaya

#Mahasiswa dan Pemuda

#Mahasiswa Papua

#Warisan Budaya Papua

#Pandemi Covid-19

Baca Juga, Artikel Terkait