Tanah Jangan di Jual Karena Tanah Milik Tuhan dan Mama Dari Semua Kehidupan Manuasia

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

22 Hari yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
(Gembala Dr. Socratez S.Yoman, MA)

 

Artikel Revisi ke-2 “Tanah Jangan Dijual Karena Tanah Milik Tuhan dan Mama/Ibu dari Semua Kehidupan Umat Manusia.”

 

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman, MA.

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--TUHAN berkata: "Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku" (Imamat 25:23).

 

Pesan keras ini, Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel ribuan tahun silam tetapi pesan keras ini tetap masih relevan dan hidup serta kuat bagi rakyat dan bangsa West Papua di Tanah Melanesia ini.

 

Dengan dasar ini, pada 27 Februari 2020, penulis pernah menulis dengan judul: DILARANG JUAL TANAH ATAU JANGAN MENJUAL TANAH (Kejadian 2:15).

 

Penulis tetap membagikan tulisan pertama dengan memodifikasi atau penembahan untuk pembobotan dan penguatan tulisan pertama.

 

Wakil bupati Mimika, Johanes Rettop menegaskan: "Tanpa hutan dan tanah orang Papua tidak bisa hidup, karena itu tanah dan hutan merupakan sumber kehidupan bagi orang Papua....Jangan kita hidup dari jual tanah,tapi bagaimana kita hidup dari mengolah tanah yang kita miliki" (SAPA Mimika, Jumat, 6 Maret 2020).

 

Karena, orang Sumatra punya tanah di Sumatra. Orang Kalimatan punya tanah di Kalimantan. Orang Bali punya tanah di Bali. Orang Jawa punya tanah di Jawa. Orang Madura punya tanah di Madura. Orang Nias punya tanah di Nias. Orang Betawi punya tanah di Betawi tapi tanah mereka sudah habis dirampok para maling. Orang Sunda punya tanah di Sunda. Sulawesi punya tanah di Sulawesi. Orang NTT dan NTB punya tanah di sana. Orang Ambon punya tanah di Ambon.

 

Orang Melanesia punya dan miliki tanah di West Papua dari Sorong hingga di Samarai sebagai pemberian Tuhan dan warisan leluhur kami.

 

Jadi, bagaimana orang-orang asing dan pendatang yang menamakan diri INDONESIA ini mau rampas, curi, rampok dan menjarah tanah kami atas nama NKRI?

 

Ada pengalaman hebat yang merupakan pelajaran berharga, sekaligus inspirasi dan semangat baru serta kekuatan untuk kita semua orang-orang terdidik Orang Asli Melanesia di Tanah West Papua yang sudah banyak kehilangan tanah sebagai harta berharga dan harta kehidupan.

 

Resmin Kogoya, S.SI adalah anak asli Tiom dari Gereja Baptis Dugume. Dia ahli waris tanah lokasi Koramil Tiom. Menurut saya kantor dan perumahan Koramil ini dibangun sebelum Resmin lahir.

 

Resmin lahir di Tepugi, Tiom pada 4 Februari 1987. Dari ayah bernama Simon Kogoya seorang pensiunan dinas Pekerjaan Umum (PU) dan ibunya bernama Hermina Wenda. Resmin anak ke-9.

 

Resmin menyelesaikan pendidikan di Universitas Cenderawasih pada 2010.

 

Pada saat Resmin ada di Jayapura, ia mendapat laporan dari keluarganya, bahwa tanah warisan leluhur dan orang tuanya sedang dibangun kantor dan perumahan Koramil. Resmin sampaikan kepada adiknya yang ada di Tiom, Lanny Jaya untuk melarang supaya kantor Koramil tidak dibangun perumahan di tanah keluarganya. Tetapi, adiknya Resmin tidak didengar dan bangunan terus berlangsung.

 

Kogoya berangkat dari Jayapura menuju Tiom. Ia langsung pertemuan dengan pimpinan Koramil dan anggotanya. Resmin bertanya kepada Komandan dan anggota Koramil yang sedang membangun peruhaman itu.

 

"Siapa yang ijinkan dan menyuruh bangun perumahan di atas tanah ini? Saya siap mati demi tanah warisan leluhur dan orang tua saya."

 

Masalah ini dibawah ke kantor kepolisian untuk penyelesaiannya. Peristiwa bersejerah ini terjadi pada September 2019.

 

Di kantor, anggota polisi yang menangani masalah ini sampaikan kepada pak Resmin Kogoya.  "Pak Kogoya, dengan jiwa besar lepaskan tanah itu."

 

Resmin Kogoya, S.SI menjawab kepada polisi: "Saya tidak mau anak dan cucu saya kehilangan tanah mereka. Saya tidak mau anak-anak dan cucu saya menjadi orang-orang pinggiran."

 

"Kalau bangunan masih diteruskan saya akan membawa mesin potong dan kasih roboh semua tiang-tiang itu. Jadi, jangan kamu teruskan."

 

"Saya mampu membangun sendiri di atas tanah saya itu."

Resmin Kogoya, S.SI menjadi model dan contoh untuk semua Orang Asli Melanesia di Tanah West Papua. Resmin Kogoya telah menjadi pahlawan bagi anak dan cucunya. Tanah tidak beralih ke tangan orang pendatang dan orang asing yang tidak punya hak atas tanah itu.

 

Ada contoh lain. Ada keluarga marga Wenda. Mereka ada hubungan darah langsung dengan saya. Karena tete kandung dan ayah kandung saya berasal dari keluarga marga Wenda ini. Sebagian besar anak-anak om dari tete dan ayah kandung saya orang-orang sukses dalam pendidikan dan berpenghasilan baik.

 

Mereka adalah penyokong/pendukung utama dalam tugas pelayanan pastoral dan kepemimpinan saya. Contohnya: Daud Wenda, S.SI, M.SI sekarang Sekwan Kabupaten Puncak Jaya dan kawan-kawan. Mereka adalah orang-orang hebat dalam hidup saya.

 

Ada saudara mereka yang bernama Yohanes Wenda yang tidak beruntung dan tidak berpendidikan tinggi. Dia menjual tanah dan dapat uang dari pemerintah Kabupaten Lanny Jaya. Karena itu, dari seluruh orang-orang yang sukses ini bersatu dan keroyok Yohanes Wenda. Dia hampir saja dibunuh tapi untung dari antara mereka ada yang lindungi Yohanes.

 

Tanah itu tidak berpindah tangan. Karena tanah itu tetap ada di tangan pewaris sebagai harta berharga.

Karena, "FILOSOFI HIDUP ORANG LANI TANAH ADALAH KEHIDUPAN KAMI. Tanah sebagai kekayaan dan warisan sangat berharga dalam hidup orang Lani. Tanah sebagai sumber hidup orang Lani. Tanah sebagai Mama orang Lani. Tanah sebagai roh orang Lani. Tanah sebagai investasi dan modal hidup anak dan cucu Orang Lani. Karena itu, tidak ada alasan untuk jual tanah atau serahkan tanah kepada siapapun, alasan apapun dan kepentingan apapun." (Ndumma Socratez S.Yoman, Ita Wakhu Purom, 13 Mei 2019).

 

Menjual tanah berarti kita menyerahkan dan mengantungkan hidup kita di tangan orang-orang pendatang. Menjual tanah betarti kita menanam kemiskinan dan kemelaratan seumur hidup. Menjual tanah berarti kita menghancurkan masa depan anak dan cucu kami. Menjual tanah berarti kita membunuh masa depan anak dan cucu kami.

 

Setelah ada pernyataan iman dari Uskup Keuskupan Timika alm. Mgr. John Philipus Saklil, Pr, kita semua disadarkan dari ketidaksadaran dan dari kenyamanan dan kemapanan semua dan zona nyaman yang hampa.

 

Alm. Uskup John pernah menyatakan: “Rakyat Papua bisa hidup tanpa uang, tapi mereka tidak bisa hidup tanpa tanah.”

 

Pada 1 September 2018, kita disadarkan kembali oleh alm. Uskup Saklil, bahwa ia menolak dengan tegas program transmigrasi di Papua, termasuk di Kabupaten Mimika dengan alasan apapun, termasuk kepentingan pemekaran.

 

“Untuk apa program itu ada kalau hanya menggusur masyarakat lokal? Karena itu, pada prinsipnya Gereja tidak setuju dengan program transmigrasi bukan hanya di Mimika, tapi juga di seluruh Tanah Papua.”

 

Uskup lebih jauh menegaskan: “Aneh sekali kalau program transmigrasi dianggap sebagai solusi. Justru itu yang menyebabkan kerusakan sumber kehidupan masyrakat lokal. Dusun-dusun masyarakat lokal habis.”

 

Ia memperkuat dan mendukung pernyataan gubernur Papua. ” Gubernur juga tidak setuju, karena masuknya transmigrasi itu, maka warga lokal akan semakin tersisih dan menjadi kaum minoritas di tanahnya sendiri. Transmigrasi ini juga akan menimbulkan konflik karena timbul kecemburuan sosial. Transmigrasi tidak bisa menjawab persoalan itu.”

 

Alm.Uskup Saklil sebagai wajah TUHAN yang nyata telah menghadirkan Kerajaan Allah di bumi nyata. Mantan Uskup Timika ini hadirkan Injil di bumi Papua. “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Matius 6:10).

 

Alm. Uskup Saklil menjadi suara dan wajah Tuhan yang nyata di bumi Papua. “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka” (Amsal 31:8-9).

 

Mengapa Uskup berdiri untuk umat Tuhan di West Papua sebagai kepanjangan tangan Tuhan Yesus? Karena, “…air mata orang-orang tertindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena dipihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan” (Pengkhitbah 4:1).

 

“Kalau engkau melihat dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan hukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu, karena pejabat yang satu mengawasi yang lain, begitu pula pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka” (Pengkhotbah 5:7).

 

Kongres Gereja Baptis Papua melarang menjual Tanah Salah satu keputusan Kongres ke-18 Gereja Baptis Papua pada 11-14 Desember 2017 di Wamena ialah dilarang menjual tanah di wilayah pelayanan Baptis, terutama di kabupaten Lanny Jaya. Karena sebelum ada kabupaten Lanny Jaya, wilayah ini sejak 28 Oktober 1956 adalah milik Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua.

 

Siapapun dan dengan alasan apapun, Tanah di wilayah Baptis di Kabupaten Lanny Jaya tidak ada yang dijual. Semua aset, terutama tanah yang digunakan pemerintah/aparat keamanan akan direnegosiasi (dibicarakan) ulang. Tanah tidak akan dijual tapi disewa dan dikontrak.

 

Sikap Uskup Timika dan Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua dalam upaya menegakkan apa yang disampaikan oleh TUHAN Allah kepada Manusia pertama, Adam, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkan dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15).

 

Dalam perintah TUHAN sangat jelas, yaitu taman Eden Papua ini bukan untuk dijual, bukan untuk Transmigrasi, bukan untuk bangun basis TNI/Polri dan bangunan lain-lain. Taman Eden di Papua diberikan TUHAN kepada Orang Asli West Papua untuk USAHAKAN dan MEMELIHARA.

 

TUHAN memberikan kuasa, mandat dan tanggungjawab kepada kita supaya memelihara & mengusahakan: bangun rumah, buat kebun, buat kandang ternak babi, dll.

 

Kutuk, malapetaka, murka dari TUHAN Allah turun-temurun kepada orang-orang yang melanggar Firman TUHAN & dan jual Tanah.

 

Karena bagi orang yang menjual Tanah adalah orang yang tidak berhikmat dan tidak berakal budi. Orang yang menjual Tanah adalah orang tidak berilmu dan bodoh. Orang yang menjual Tanah adalah yang menciptakan kemiskinan pemanen untuk anak dan cucunya.

 

Orang menjual Tanah adalah orang yang menjadikan anak dan cucunya menjadi budak-budak dan pengemis abadi di atas tanah leluhur mereka. Orang yang menjual Tanah adalah orang yang tidak menghormati TUHAN dan leluhur/nenek moyangnya.

 

Orang yang menjual tanah mengantungkan hidup dan harapan semu/sia-sia kepada orang-orang pendatang. Orang yang menjual tanah adalah orang-orang yang menjual tulang belulang leluhur dan nenek moyangnya. Terkutuklah mereka yang menjual tanah.

 

Tanah adalah mama/ibu kita. Tanah adalah hidup kita. Tanah adalah kekayaan sangat berharga bagi anak dan cucu kita. Tanah adalah investasi dan tabungan dan kekayaan masa depan anak dan cucu kita.

 

Dengan dasar ini, saya berkampanye: TANAH JANGAN DIJUAL ATAU DILARANG JUAL TANAH.”

 

TUHAN Allah menugaskan kepada Adam dan Hawa dan kita semua sekarang supaya Taman Eden Papua ini diusahakan dan dipelihara bukan untuk dijual dan diserahkan kepada orang-orang pendatang.

 

"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkan dalam taman Eden (Tanah Papua) untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (taman Papua)" (Kejadian 2:15).

 

Penulis: Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP). Ita Wakhu Purom, Minggu, 8 Maret 2020.

 

#Budaya

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Lingkungan dan Hutan

Baca Juga, Artikel Terkait