Terdengar Tangisan Rakyat dalam Suara Kegelapan Kekuasaan

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Mario Yumte

 

 

Oleh,  Mario Yumte*)

 

OPINI,  kabarmapegaa.com - Jeritan rakyat selalu terdengar di balik kegelapan suara kekuasaan. Papua itu surga bagi rakyat tertindas, namun para pemikir kepentingan belaka telah dan selalu menutupi mata batin untuk rakyatnya sendiri. Sehingga, jeritan dan tangisan selalu menemani kaum tertindas di atas tanah leluhurnya sendiri.

 

Rakyat jadi korban, elit-elit dan kaum borjuis telah memeras hak dan seluruh alam kekayaannya, sehingga rakyat selalu dipinggirkan atau tidak memiliki apa-apa dari haknya. Rakyat selalu tangis dibalik seluruh alam kekayaan bahkan seluruh hak atas adil dan sejahtera. Kerinduan rakyat akan kesejahteraan selalu dibahas dengan tangisan di bumi Papua.

 

Tangisan masyarakat sipil sebagai bukti untuk minta perhatian dari berbagai pihak merupakan lembaga atau organisasi kemanusiaan terutama dunia internasional yang mengangani kedaulatan bangsa adalah PBB dan organisasi sejaringan dengan masalah politik pembebasan Papua. Karena secara kerinduan tangisan ini membuktikan bahwa Papua meminta nilai kemanusiaan, keadilan, kebenaran dan kebebasan hak menentukan nasibnya sendiri di atas tanahnya sendiri.

 

Oleh sebab itu, tangisan dalam sebuah karya nyata atau tindakan secara realistis bisa menjadi sarana untuk mencapai pada suatu tujuan. Tangisan beruba lagi, tidak hanya sebagai bahasa komunikasi tentang aspirasi rakyat, melainkan juga menjadi sarana mendapatkan kebebasan secara berdaulat, dan ini kemudian menjadi kekuatan rakyat tertindas, pemuda dan mahasiswa Papua, bukan lagi organisasi kiri yang memaksakan tentang mendalami bahkan menindaklanjuti noilai keadilan, kebenaran dan kebebasan bagi bangsa Papua sendiri.

 

Sebab, tangisan dan suara rakyat menjadi sarana untuk menunjukkan kepada bangsa kolonial (Indonesia) bahwa nilai demokrasi di tanah Papua sudah kiamat, tidak lagi ada diatas tanah Papua, tetapi juga terjadi pada semua negara di belahan dunia. Ketika bangsa penguasa tidak memberikan penjelasan dan jawaban yang lebih tepat bagi rakyat Papua, maka dunia akan ikut menyuarakan terhadap kemerdekaan bangsa West Papua.

 

Praktek-praktek kolonial di atas tanah Papua melalui kaum kapitalis (penguasa)  untuk memperpanjangkan kebebasan bagi bangsa Papua merupakan tindakan yang sangat merugikan bahkan memperhambatkan bagi pergerakan perlawanan yang membendung adalah perusahaan PT.Freeport di Timika, hasil minyak di Sorong,  LNJ Tangguh di Bintuni, Kelapa Sawit di tanah Papua, Blog Wabu di Intan Jaya dan berbagai perusahaan milik kaum kapitalis kolonial di seantero tanah West Papua.

 

Sebab, protes dan demonstrasi adalah salah satu cara aspirasi rakyat Papua yang selalu menyuarakan kepada pemerintah Indonesia karena kita lebih menghargai dan menghormati nilai-nilai demokrasi, tetapi bangsa yang mempunyai nilai demokrasi tidak menghargai, menghormati dan menjunjung dengan baik malahan lebih brutal perlakuan terhadap nilai demokrasi.

 

Oleh sebab itu,  bersuara keras sangat sering menjadi wahana untuk menunjukkan kekuasaan bahwa rakyat tidak merasakan secara utuh atas hasil alamnya, ada juga kekuasaan hanya memberikan keuntungan secara kepentingan dan para kaum elit birokrat lainnya hanya menutupi ruang gerak dan kerinduan rakyat yang adil dan sejahtera, sehingga keinginan untuk beruara, berdialog dan demonstrasi hanya karena kepentingan pribadi dan kekuasaan akan tertutup bagi para pemilik suara lantang membela kaum tertindas. Ambillah keputusan dengan hatimu bukanlah dengan hati kawanmu.

 

Jalan kepedulian dan kebenaran hanyalah milik kaum yang peduli yang bisa mengerti realita rakyat tertindas di atas tanah sendiri.

 

Penulis adalah Aktivis Kepala Burung, Maybrat,  Sorong*)

 

Editor:Frans P/KM

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

#Komite Nasional Papua Barat (KNPB)

Baca Juga, Artikel Terkait