Tiada Tangisi, Mabuk Kematian

Cinque Terre
Alexander Gobai

4 Bulan yang lalu
PUISI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Karya, Orgenes Bunai*)

 

Mentari pagi telah  tiba di tanah penuh keributan dan menyinari dunia kekejaman

Memanggilku olehnya, air tak bernoda untukku

Sekali pun kau dihianati, bagiku kau kadang fovaritku

Kecewa pun melanda bagimu, kau tetap sahabat sejati ditiap aku butuh

 

Aku anggap dirimu sebagai sahabatku

Sahabat yang menemani ditiap aku butuh darimu

Sahabat terdekat, sejati, dan sejuta harapanku

Tapi, kadang aku tak sadar akan kejamnya kau membunuh tubuhku

 

Aku tak akan biarkan perlu dariku

Aku memeluk erat, namun keeratanku tak pasti bagi hidupku

Kau bagiku abadi dan panorama keindahan kehancuran

Kau akan bersama selamnya, tapi tidak demikian yang kau bayangkan!

 

Biarlah dunia yang memisahkan kita berdua

Ketika aku telah tiada di dunia nyata

Ketika aku di jemput oleh maut kematian karena ulahanmu

Ketika aku kiamat dari dunia ini karena air tak bernoda bagimu

 

Tangisi mabuk kematian, dunia penuh dengan ancaman

Biarlah aku pergi ke belahan dunia, jauh dengan dunia penuh kehancuran

Kepergianku ini tak ada orang yang menangisiku

Hanya mautku disirami air tak bernoda itu (miras) bagi jiwa yang sirna

 

“...refleksi, miras membunuh tubuh bahkan menghilangkan nyawa, sadar akan jiwa yang hidup bagi manusia Papua...”

 

Karya anak muda Papua, tinggal di Papua

Papua, Maret 2018

 

Editor: Frans Pigai

Baca Juga, Artikel Terkait