Tidak Semua Rakyat Indonesia Menghina Rakyat Papua Monyet Separatis Makar OPM

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

28 Hari yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Dr. Socratez S.Yoman

 

 

“Tidak Semua Rakyat dan Bangsa Indonesia Menghina Rakyat dan Bangsa West Papua: Monyet, Separatis, Makar, Pemberontak, OPM dan KKSB”

 

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman

 

1. Pendahuluan

 

Jika kita cermati dengan hati yang sejuk, pikiran yang tentang seluruh dinamika dan realitas yang menghina dan merendahkan martabat rakyat dan bangsa West Papua dengan stigma-stigma: monyet, separatis, makar, pemberontak, OPM dan KKSB itu kita bisa lihat dengan jelas yang sudah muncul di depan publik. Para penguasa yang menjadi penghujat dan penghina rakyat dan bangsa West Papua berasaskan rasialis yang merusak dan membuat tercoreng muka seluruh rakyat Indonesia seperti: H. Muhammad Jusuf Kalla, wakil Presiden Republik Indonesia H. Dr. Wiranto, Ryamizad Ryacudu dan kader pengejek dan pencemooh baru seperti Letkol Muhammad Aidi dan sebagian besar dari aparat keamanan TNI-Polri.

 

Rakyat dan bangsa Indonesia belum banyak mempunyai pemimpin penguasa yang berwawasan luas, global, rasional dan realistis seperti Dr. Muhammad Karnavian Tito Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Pengamatan pribadi saya bahwa seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, terutama generasi muda berpikiran rasional, realistis dan amat manusiawi.

 

Seluruh rakyat dan bangsa Indonesia dicemarkan nama baik dan kehormatan mereka dari penguasa dan juga sekaligus memiliki bisnis besar di seluruh Indonesia, lebih khusus di West Papua. Mereka selalu menciptakan mitos-mitos dan stigma-stigma & memeliharanya dengan bersembunyi dibalik atas nama kepetingan nasional dan jargon NKRI. Padahal sesungguhnya mereka memelihara basis-basis usaha dan bisnis ekonomi mereka. Rakyat dan bangsa Indonesia sudah tertipu lama oleh para pengusaha dan bisnisman yang sedang berada di puncak kekuasaan.

 

Salah satu contonya: H. Muhammad Jusuf Kalla, wakil presiden Republik Indonesia selalu tampil di publik sebagai penyebar kebencian dan penyubur rasialisme terhadap rakyat dan bangsa West Papua. Karena ia mempunyai bisnis di West Papua. Seluruh rakyat dan bangsa Indonesia tertipu dan telan mentah-mentah apa yang disampaikan oleh Muhammad Jusuf Kalla.

 

Kalau rakyat dan bangsa Indonesia ikut-ikutan menyerbu dan menghina dan merendahkan martabat rakyat dan bangsa West Papua, sebenarnya yang dibela rakyat Indonesia ialah bisnisnya Muhammad Jusuf Kalla dan beberapa Petinggi TNI-Polri di West Papua. Seluruh Rakyat Indonesia menjadi korban kepentingan ekonomi para penguasa Indonesia.

 

Karena itu, saya mempunyai keyakinan dan mengatakan bahwa tidak semua rakyat dan bangsa Indonesia yang merendahkan dan menghina martabat kemanusiaan rakyat dan bangsa West Papua. Jadi, masalah besar dan penyakit kronis di Indonesia ialah para penguasa Indonesia sekaligus pembisnis yang paranoid dan hypocricy yang selalu mengatasnamakan kepentingan nasional dan keutuhan kedaulatan wilayah NKRI. Sesungguhnya penguasa ini memelihara kedaulatan bisnis dan ekonomi keluarga dan anak-anak cucu ke depan. Pantaslah, rakyat dan bangsa Indonesia miskin tetap miskin dan kaya tetap kaya. Ada gap/jurang semakin melebar antara orang-orang kaya dan rakyat Indonesia yang miskin dan melarat.

 

2. Kita Jangan Menjadi Sama Dengan Mereka

 

Rakyat dan bangsa West Papua memang benar-benar disakiti, dihinakan, direndahkan martabat kemanusiaan selama 57 tahun, bahkan sampai sudah 74 tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2019. Mahasiswa di Surabaya dan Malang mengalami penghinaan dan penyiksaan diluar batas-batas kemanusiaan.

Realitas ini membuat saya menangis melihat perlakuan terhadap anak-anak kami yang sedang mencari ilmu untuk masa depan yang lebih baik untuk rakyat dan bangsa mereka.

 

Kalau mereka bilang kami monyet dan apapun sebutannya, kita jangan membalas dengan caci-maki dan penghinaan. Karena pesan SALIB sangat jelas dan tegas: "Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka katakan." Ketika kita tidak membalas seperti kata-kata dan tindakan mereka, berarti kita sudah menang dan kita adalah bangsa yang bermartabat dan terhormat. Kita telah menyatakan iman kita kepada orang banyak. Kita telah menjadi saksi bagi Yesus Kristus yang pernah mati disalib di Golgota, dikuburkan dan telah bangkit.

 

Kita harus dan mempunyai kewajiban iman dan moral serta hati nurani untuk mengubah cara pandang dan tindakan rakyat dan bangsa Indonesia dengan kasih dan damai. Anda harus berbahagia karena Anda telah menjadi pahlawan cinta kasih dan kedamaian untuk semua orang. " Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9).

 

Walaupun rakyat dan bangsa West Papua dihina, dilecehkan dan direndahkan martabat kemanusiaan kita, kita tetap berdiri pada iman dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus untuk mendidik, mengajar dan mengubah karakter dan tabiat penguasa Indonesia yang jahat, kejam, brutal dan kriminal itu supaya mereka menjadi orang-orang yang bermoral dan memiliki perasaan kemanusiaan.

 

Anak-anakku dan adik-adikku di Asrama Surabaya dan Malang, Anda, saya berpegang pada kebenaran dan kasih dan kedamaian yang akan terbukti dengan sendirinya ke depan; bahwa semua manusia diciptakan setara dan diberkati hak-hak asasi tertentu oleh Sang Pencipta; dan diantaranya hak hidup, kebebasan, dan usaha mencapai kebahagiaan sesama.

 

Anak-anakku, dalam keadaan tersakiti dan dihinakan seperti itu, Anda sendiri harus hadir untuk menjadi agen perubahan yang kita dan semua orang inginkan di dunia ini. Anda adalah pahlawan perubahan. Anda sedang berusaha mengubah mereka. Anda juga perlu melihat cahaya dan sinar kebaikan di hati semua orang Indonesia. Karena tidak semua rakyat dan bangsa Indonesia menghina dan merendahkan martabat dan harga diri kami.

 

3. Kita Tidak Melawan Sesama Manusia

 

Kalau seorang pejabat publik mengatakan bahwa semua mahasiswa di pulau Jawa dipulangkan ke tanah air West Papua, itu bukan ide dan pendapat umum rakyat dan bangsa Indonesia. Itu pendapat seorang yang tidak mengerti kemanusiaan. Itu pendapat yang rendah dan tidak manusiawi dan lebih tepat seorang pejabat yang bermoral rendah.

 

Perjuangan Rakyat dan bangsa West Papua bukan melawan kemanusiaan. Bukan berjuang untuk pulangkan orang-orang Indonesia, terutama kaum transmigran di seluruh West Papua. Kita berjuang sebuah keyakinan ideologi sebuah bangsa. Kita berjuang untuk melawan pendudukan dan penjajahan. Kita berjuang melawan ketidakadilan dan kejahatan kemanusiaan. Kita melawan penghinaan dan pelecehan seperti sebutan monyet, separatis, KKSB, makar.

 

Yang jelas dan pasti: Rakyat dan bangsa West Papua berjuang demi keadilan, kemanusiaan, martabat manusia, kesamaan derajat, dan perdamaian dan harmoni untuk semua orang tanpa membedakan latar belakang, keyakinan iman, agama, ras dan etnis. Perjuangan rakyat dan bangsa West Papua menempatkan manusia sebagai gambar dan rupa Allah.

 

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita..."(Kejadian 1:26).

 

Anda Islam atau Kristen. Anda Hindu atau Kristen. Anda Budha atau Kristen. Anda Konghucu atau Kristen. Anda Atheis atau Kristen. Anda Kafir atau Kristen. Anda kulit putih atau hitam. Anda kulit sawo matang atau kuning. Anda rambut lurus atau rambut keriting. Kita Semua Sama-Sama Ciptaan TUHAN dan Milik TUHAN.

 

Seluruh rakyat dan bangsa Indonesia dan semua rakyat dan bangsa West Papua yang mencintai keadilan dan kedamaian, kesamaan derajat dan martabat manusia, marilah bergabung dengan kami, supaya kita bersama-sama melawan dan memerangi para penguasa dan penguasa yang berlindung dan mengeksploitasi keamanan nasional dan kepentingan NKRI.

 

Doa dan harapan saya, supaya tulisan ini menjadi berkat pencerahan. Ita Wakhu Purom, 18 Agustus 2019.

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait