Tolak Pekerja dari luar Papua, Warga Demo di Depan  Disnaker Kota Sorong

Cinque Terre
Manfred Kudiai

4 Bulan yang lalu
KABAR PAPUA BARAT

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Spanduk pendemo di depan Kantor Disnaker kota Sorong, Papua Barat. Ist

 

SORONG, KABARMAPEGAA.com--Perkumpulan Pekerja Migas (PPM) kota Sorong melakukan aksi damai di Depan Kantor DISNAKER kota Sorong, Papua Barat,  Selasa (24/9/2019).  Aksi tersebut dilaksanakan warga asli Sorong dengan tuntutan penolakan terhadap PPM yang buruh kasar  didatangkan dari luar Papua , yang oleh massa aksi menilai tindakan tersebut telah melanggar amanah  Undang-Undang Otsus  2001 yng bertujuan Untuk Pemberdayaan Orang Asli Papua.

 

Puluhan pencaker (pencari kerja) bersama Perkumpulan Pekerja Migas (PPM) kota Sorong, pada pada, pukul 11:30 WIT. Selanjutnya mendatangi kantor Disnaker kota Sorong, yang beralamat di Jl. ahmad Yani. 

 

PPM- Kota Sorong dan puluhan pencaker (pencari kerja) meminta kepada pihak Dinas Tenaga Kerja Kota (Disnaker), agar dapat memprioritaskan kebaradaan orang Papua dalam seleksi proyek Train III LNG-Tangguh yang dilakukan oleh di Disnaker kota Sorong.

 

“Selama dua tahun proyek LNG-Tangguh Train III berjalan sejak akhir 2016 sampai sekarang, keberadaan pemanfaatan orang asli Papua sebagai tenaga kerja masih terbukti sangat minim, proses penerimaan yang dilakukan masih tidak memberdayakan orang asli Papua, karena pada saat penerimaan yang dilakukan di Papua hanya 10-20 orang Papua yang diterima sebagai tenaga kerja, sedangkan orang yang datang dari luar berjumlah hingga ratusan orang pencaker,” ujar salah satu pendemo dalam orasinya..

 

Menurut keterangan sekretaris PPM-kota Sorong, Ray J. Waromi, aksi ini dilakukan untuk meminta respon pemerintah supaya ada kebijakan terhadap pemberdayaan orang asli Papua sesuai amanat undang-undang otsus yang bertujuan untuk memberdayakan orang asli Papua. Karena pada saat seleksi, orang asli Papua terhalang karena diharuskan memiliki sertifikasi MIGAS yang proyeknya dilakukan 2014 lalu dan katanya baru akan diadakan lagi ditahun ini.

 

 

“Sejak 2016, kami dari PPM sudah menyuarakan terkait persoalan keberadaan orang asli Papua di LNG-Tangguh, karena ada yang didatangkan dari luar hanya untuk menjadi tukang ambil barang (buruh kasar), padahal pekerjaan seperti ini bisa dilakukan oleh orang asli Papua sendiri, yang agak aneh, pada saat kami tanya kepada pemerintah terkait data jumlah pekerja Asli Papua dan Non-Papua di LNG-Tangguh, sampai saat ini pemerintah sendiri tidak memiliki data yang pasti terkait jumlah tenaga kerja orang asli Papua dan Non-Papua dari LNG-Tangguh, tegas Ray Waromi, saat diwawancarai,” katanyaa kepada awak media.

 

Kata Dia, bukannya kami tidak mau seleksi secara sehat, tetapi orang luar didatangkan untuk mengambil alih pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang Papua.

 

“Jumlah tenaga LNG-Tagguh sendiri sekitar 8000 orang, kurang lebih 2000 orang asli Papua dan 6000 sisanya adalah orang luar (Non Papua) sesuai data terakhir dari Perkumpulan Pekerja Migas kota Sorong,” pintanya.

 

Sampai berita ini ditulis, informasi terakhir terkait respon pemerintah belum ada sama sekali untuk menjawab persoalan yang di sampaikan Perkumpulan Pekerja Migas (PPM) kota Sorong.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait