Tong Kembali ke Budaya dengan Alam, Pasti Tong Sehat

Cinque Terre
Alexander Gobai

10 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Yosep Riki Yatipai*)

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.com – Papua adalah salah satu kepulauan yang kaya akan SDA-nya di dunia. Papua juga menjadi sorotan dan pengembangan ekonomi dunia. Ketika melihat situasi di Papua, kita akan merasa sangat tidak wajar dengan keadaan kesehatannya. Sebab, Papua yang kaya alamnya, namun miskin akan kesehatannya. Sebagaimana realitas ini menampar dengan cukup keras kepada Orang Asli Papua (OAP) untuk kembali kepada budaya dan alamnya. Persoalan kesehatan merupakan persoalan alam dan budaya OAP. “Kita dikagetkan dengan berita kematian 67 anak Papua karena serangan campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat”, tulis Pastor Neles Tebai - Ketua Sekolah STFT “Fajar Timur“(Tabloidjubi.com, 05/02/2018).

 

Orang Asli Papua (OAP) mulai melupakan budaya lokal dan alamnya. Oleh karenannya, kita menjadikan budaya luar sebagai budaya sendiri, tanpa adanya keseimbangan. Sebenarnya, alam papua telah menyediakan semua yang kita butuhkan. Tetapi, kita justru mencari kebutuhan lain, yang lebih instan (cepat jadi). Kebudayaan ini sejatinya membuat kita malas dan tidak mau berusaha. Selayang pandang kebudayaan Papua antara lain; kepribadian Orang Asli Papua yang adalah pribadi mandiri dan kuat. OAP juga bekerja dan mencari makannya sendiri. Sebagaimana juga OAP mempunyai pribadi yang religius dan mistis, sangat menghargai nilai-nilai dan norma kehidupan. Namun, kini menjadi pribadi yang bergantung pada kebudayaan lain, pribadi yang berbanding terbalik dari kebudayaannya.

 

Filosofi sosio - kultural masyarakat adat Papua memang berbeda satu dengan yang lainnya, namun sebenarnya memiliki kesamaan nilai-nilai sosial budaya (sifat dan sikap dasar). Salah satu representasi dari budaya masyarakat (kearifan lokal) papua yaitu pohon sagu. Sifat dan sikap dasar manusia papua, salah satunya dipengaruhi oleh jenis makanan utama yang dikonsumsi. Bagi orang Papua sagu adalah makanan pokok dan khas yang sudah ada turun-temurun dari nenek moyang, sejak mengenal dunia tanam-menanam. Perlu diketahui bahwa tanaman sagu merupakan tanaman one for all, yang artinya punya banyak kegunaaan multifungsi yang sangat pro dengan kehidupan masyarakat dan pro-sustainable development (ecologycal sector). Bagaimana kebudayaan terhadap alam hadir dan memberikan kehidupan bagi Orang Asli Papua?

 

Dalam pandangan khalayak ramai, Orang Asli Papua dipandang sebagai manusia kuat dan mandiri. Hal ini dilihat dari dirinya dan kebudayaannya, mereka mencari makan dan minumnya sendiri, tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Sejauh memandang, mereka merupakan manusia hulk yang siap menggiling apa saja dengan kekuatan dan energi mereka. Kekuatan dan semangatnya didapat dari alam dan kebudayaannya. Semua yang mereka butuhkan disediakan oleh alam. Maka dari itu, kita akan merasa kecewa dan berpikir tidak masuk di akal, ketika campak dan gizi buruk melanda masyarakat di Papua, Agats-Asmat. Ketika hal ini terjadi, bersamaan juga muncul pertanyaan kepada pemerintah dalam pemberdayaan sandang-pangan lokal. Bagaimana pemberdayaan sandang-pangan lokal dilakukan atau dikerjakan?

 

Pelaksanaan dan pemberdayaan Orang Asli Papua (OAP) merupakan hal yang terpenting dalam meningkatkan kesehatan. Sebab, tidak dapat dipungkiri dengan situasi yang terjadi di Agats-Asmat. Dengan situasi yang sama juga terjadi di beberapa wilayah, misalnya pada April-Juli 2017, sebanyak 50 anak Papua meninggal di Distrik Tigi Barat, Deiyai, dan Juli-Oktober 2017, sebanyak 35 anak Papua meninggal di Kampung Yigi, Distrik Inikgal, Nduga. Maka tahun 2017 hingga Januari 2018, paling kurang 175 anak Papua (Asmat, Pegunungan Bintang, Deiyai dan Nduga) meninggal dunia. Situasi ini sebenarnya mendesak kita semua, baik dari pihak masyarakat maupun pihak pemerintah untuk tidak ‘main-main’ dengan situasi ini.

 

Menurut hemat saya, pemerintah mesti bekerjasama dengan masyarakat untuk meningkatkan mutu hidup sehat dengan bekerja langsung di lapangan. Dengan ini, hendaknya masyarakat diajak kembali kepada budayanya masing-masing dengan melepaskan diri dari ketergantungan tak teratur. Artinya, masyarakat diajak dan diproteksi oleh pemerintah dalam kelahiran kembali. Kembali ke budaya. Bagi saya hanya dengan ini, masyarakat papua akan mendapatkan kesehatan yang lebih baik. Selain itu, pemerintah harus mampu menyentuh masyarakat dari aspek budayanya, hingga sampai ke pelosok-pelosok papua. Sebab jiwa Orang Asli Papua (OAP) adalah kerja dan bekerja, bukan baca-tulis pada umumnya. Baca-tulis bukan merupakan kebudayaan orang papua, mereka akan sangat cepat mengerti dengan langsung bekerja atau praktek.

 

Dengan demikian, saya mengajak kita semua untuk saling percaya. Pemerintah mesti mempercayai masyarakat agar masyarakat pun mempercayai pemerintah, begitupun sebaliknya. Sehingga, terjadi suatu korelasi dan keseimbangan antara keduanya. Keseimbangan itu dirasa suatu usaha agar menjaga keharmonisan dan kesejajaran dalam mengemban tugas secara sinergi (bersama-sama) dan simultan(serentak). Masyarakat dan pemerintah harus saling memandang sebagai subjek, bukan objek di antara satu. Dalam artian, pemerintah adalah subjek (agen of change - agen perubahan) dan masyarakat subjek (agen of change - agen perubahan). Dengan begitu, kedua-duanya akan duduk bersama mencari solusi dengan saling percaya dan bekerjasama, sebagaimana satu keluarga yang harmoni.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura Jayapura, Papua

Editor: Frans P

Baca Juga, Artikel Terkait