TPN-PB Kodap VIII Nyatakan Perang Serang PTFI Tembagapura

Cinque Terre
Manfred Kudiai

13 Hari yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Markas Pusat Komando Daerah Pertahanan, Tentantara Nasional Papua Barat (TNPB), Kodap VIII (Delapan) Kemabu, Intan Jaya, Papua Barat. (Doc.Prib/TNPB)

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com-- Markas Pusat Komando Daerah Pertahanan, Tentantara Nasional Papua Barat (TNPB), Kodap VIII (Delapan) Kemabu, Intan Jaya, Papua Barat menyatakan perang serang PT. Freeport Indoesia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Panglima, Bridgjen Ayub Waker  dalam press release yang diterima kabarmapegaa.com , Senin (6/5) via pesan elektronik.

 

 

Siaran Perss KOMNAS TPNPB-OPM   6 Mei 2019,  ultimatum perang ini pun telah dikeluarkan dalam bentuk video yang direkam langsung dari  Markas KODAP VIII Kemabu Intan Jaya pada panggal 10 April 2019 belum lama ini, dan telah ditonton oleh kurang lebih 956x penguna YouTube  dengan judul The War statement by Defense Region Commander of TPNPB-OPM Bridgen Ayub Waker on April 10st 2019.

 

Meningdaklanjuti pernyataan ini, kabarmapegaa.com telah menghubungi Juru Bicara (Jubir)  KOMNAS TPNPB-OPM, Sebby Sambom. Dirinya mengaku pertnyataan tersebut resmi dikeluarkan dari TNPB Kodad VIII.

 

“Ya benar, itu  statement resmi yang dikeluarkan oleh TNPB Kodad VIII dibawa komando Bridgjen Ayub Waker,” jelas Jubir KOMNAS TPNPB-OPM, Sebby Sambom saat dihubngi, Selasa (7/5/2019).

 

Katanya, pernyataan resmi  tersebut  dikeluarkan terbuka kepada Pemerintah Republik Indonesia, agar Pemerintah Indonesia untuk dapat   diketahuinya   bahwa   Bridgjen   Ayub   Waker   telah perintahkan untuk  kembali melakukan serangan terhadap PT. Freeport Indonesia di Tembagapura Papua.

 

“Pernyataan perang ini keluarkan resmi dalam sebuah upacara penjerahan Surat Keputusan (SK) KODAP Kemabu Intan Jaya, denganTtongkat Komando dan atribut pimpinan militer yang berlaku pada Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat,” tulis dalam pernyataan Sikap.

 

 

Brigadir Jendral  Agus Ayub  Waker  adalah  selaku panglima KODAP VIII Intan Jaya yang beroperasi meliputi wilayah sekitar Tembagapura. Dan beliau telah lama memimpin pasukannya melakukan serangan terhadap militer Indonesia di  wilayah Tebagapura, Papua.

 

Dalam laporan lisannya Ayub Waker klaim telah menembak puluhan militer Indonesia di sekitar Tembagapura saat perang pada tahun 2012-2018.

 

Pasukan Ayub Waker memiliki senjata canggih standar militer. Senjata tersebut dari hasil rampasan milik Militer dan Polisi Indonesia dan dan juga diperoleh dari hasil beli dari senjata militer Indonesia. “Ayub Waker mengungkapkan sumber kepemilikan senjata saat pelaksanaan upacara penjerahan SK KODAP di Markas Kemabu Intan Jaya.”

 

Dalam sebuah rekaman video pernyataan Ayub Waker, umumkan terbuka kepada Indonesia bahwa dirinya telah keluarkan perintah perang, lawan militer Indonesia. Hal serupa masih dalam pernyataan rekaman video pernyataan  dilanjutkan  oleh  Komandan  Operasi  KODAP  VIII Intan Jaya,   menentukan   sasaran   perang   meliputi   wilayah Temabagapura Papua.

 

Pengumuman perang ini menyatakan bahwa akan serang kembali perusaaan raksasa pertambangan emas di Temabagapura, dan pernyataan ini disampaikan langsung oleh Komandan operasi atas perintah Panglima KODAP VIII  Intanjaya.

 

“Perang ini masih tetap terpaku pada peraturan perang yang telah berlaku umum pada Komando Nasional TPNPB,” katanya dipetik dari pernyataan sikap.

 

Katannya, tuntutan dari perang gerilya atas perintah ini adalah tetap pada peraturan prinsip-prinsip perang TPNPB Komando Nasional yang telah diatur dalam 12 pasal, dan yang telah umumkan oleh Kepala Staf operasi Markas Pusat Mayjend. Lekagak Telenggen pada Januari 2018 lalu di Makrkas Gimagi Yambi Puncak Jaya Papua.

 

“Tuntutan dari pada perang TPNPB di seluruh wilayah Papua Barat adalah tetap sama pada yang telah diatur dalam peraturan perang TPNPB. Maka pasukan dari Brigjend Ayub Waker sebagaimana perintah perang  yang telah secara resmi terbuka diturunkan sebagai  tanggungjawab  tugas  revolusi  yang  harus dilaksanakan dari pasukannya.”

 

Untuk itu, Komandan operasi telah nyatakan siap pimpin pasukan memasuki medan perang pada sasaran perusahaan PT. Freeport Indonesia di Tembagapura. “Sejak perintah ini dikeluarkan sebaiknnya bagi karyawan perusahaan yang bukan bersenjata meninggalkan pekerjaan,” ajaknya.

 

Dikatan didalam pernyataan sikap bahwa, apabila terjadi perang dan karyawan yang bukan bersenjata terjadi korban, untuk hal itu TPNPB umumkan dan sampaikan sebelum terjadi perang agar setiap orang yang bukan bersenjata atau warga sipil wajib kosongkan wilayah Tembagapura.

 

“TPNPB akan menembak mati seorang yang bukan bersenjata tetapi yang masih berada di wilayah Tembagapura sesudah pengumuman pernyataan perang ini dikeluarkan. Pernyataan ini akan berlaku terhitung dari hari pernyatan ini publikasi kepada publik sampai pada perang memulai,” katanya.

 

Jadi, jika terdapat korban warga sipil atau seorang yang bukan bersenjata, adalah resiko akibat dari tidak mengindahkan dari pengumuman perintah perang ini. “TPNPB inginkan aktifitas pertambangan emas di Tembagapura harus dihentikan sebelum Indonesia melaksanakan  tuntutan TPNPB, untuk hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua Barat.”

 

Menurut TPNPB, sebelum terwujud tujuan TPNPB untuk kemerdekaan bangsa Papua,  perang  tidak  akan  pernah  berhenti,  jika  sampai Indonesia tidak inginkan Kemerdekaan Papua maka perang sampai pada dunia kiamat. “Pernyataan ini disampaikan langsung melalui rekaman video yang telah diterima Markas Pusat KOMNAS TPNPB pada hari Senin tanggal 6 Mei 2019.”

 

Juru Bicara KOMNAS TPNPB-OPM Tuan Sebby Sambom mengatakan, pernyataan sikap dapat disaksikan pada video yang disampaikan langsung oleh Panglima KODAP 8 Intanjaya dari Markas Kemabu.

 

“Siran perss ini dikeluarkan dari Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM pada hari Senin, tanggal 6 Mei 2019, guna dapat menjadi perhatian oleh semua pihak. Terima kasih atas Perhatian dan kerja sama yang baik,” jelanya mengakhiri

 

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait