Umat Katolik Papua Minta Uskup Jayapura dan Timika Harus Orang Asli Papua

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

4 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Umat katolik Papua saat menggelar petisi dukungan untuk uskup keuskupan Jayapura dan Timika agar diduduki oleh pastor orang asli Papua. Ist.

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com--Umat Katolik Papua minta Uskup Keuskupan Jayapura dan Timika harus diduduki oleh pastor orang asli Papua. Hal tersebut dikatakan umat Katolik Papua dalam jumpa pers dan penandatanganan petisi  yang dilaksanakan di Jayapura,  Papua.

Sebagaimana yang dikatakan Umat Katolik Papua, dalam liris yang diterima media ini, Jumat (16/06). pihaknya menyatakan hal tersebut bukan merupakan politisi kekuasaan tetapi untuk memprioritaskan pastor orang asli Papua.

Berikut adalah pernyataannya:

"Kami minta agar lebih memprioritaskan pastor katolik asli Papua"

Bukan politis! Cukup 2000 tahun lalu Allah menghendaki Yesus Kristus membangun gereja katolik di Roma diatas pundak Santo Petrus. Cukup 127 tahun, misionaris katolik, Pater Corneles de Cocq d'Armandville meletakan dan membangun Gereja Katolik di tanah Papua diatas dasar orang asli Papua.

Cukup hampir 60 tahun, keuskupan Jayapura dan 20 tahun keuskupan Timika, umat katolik Papua menjadi pondasi gereja katolik. Cukup. Bahwa kurang dan lebih dalam waktu yang sama, kedua keuskupan ini dipimpin oleh para klerus dari luar–asing.

Dua puluh hingga enam puluh tahun itu usia yang boleh dikatakan tua. Tapi juga cukup mudah. Dalam hal ini, paling tidak gereja menjadi benar-benar mandiri dari Papua. Geraja katolik dari Papua harusnya menjadi gereja katolik dari Papua.

Bukan berarti menyangkal hirearki gereja katolik yang universal, kudus dan apostolik–yang berpusat di Tahta Suci Vatikan. Siapapun harus mengakui hubungan tunggal gereja katolik di dunia.

Tapi apa yang mau disampaikan disini adalah begini: Gereja Katolik di Papua sudah lama. Setidaknya gereja secara institusional mampu memandirikan umatnya. Kemandirian yang berlandaskan pada kesadaran sejati.

Ratusan tahun itu sudah lama. Setidaknya, umat katolik pribumi sudah tahu hidup menggereja secara mandiri. Bahkan mampu untuk memimpin dirinya.

Siapapun harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada orang Papua. Bukan memarginalisasikan orang Papua atas nama Tuhan, agama, katolik dan orang asli Papua serta migran di dalam hirearki–segala bidang karya pastoral.

Kami tidak anti pendatang. Kami menghargai saudara-saudara kami dari non Papua, khususnya katolik. Kami tidak rasis dan tidak juga diskriminatif seperti yang kami alami. Buktinya kami menerima dengan hati, lapang dada dan hidup rukun dan damai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam hidup menggereja.

Kami juga tidak ambisi untuk harus pastor pribumi Papua yang harus menjadi uskup Keuskupan Jayapura dan Timika. Kami juga tidak menuntut ambil ahli seluruh bidang karya pastoral yang membuat kami terpinggirkan sedemikian rupa.

Pada satu sisi kami rasa aneh, sakit hati dan sedih. Tapi di lain sisi, kami hargai saudara-saudara kami yang tidak ada lapangan kerja; m nafkahi hidup–anak istri; menjadikan basis bisnis yang paling strategis serta menjanjikan. Kami rela menerima kenyataan itu. Buktinya selama bertahun-tahun kami tahu tapi diam saja.

Bukan karena kami bodoh atau buta. Tapi tidak tahu karena kami baik hati atau memang baik hati karena kebodohannya. Tapi lupakan itu. Kita masih hidup baik-baik saja sebagai saudara satu iman dan gereja katolik yang satu dan utuh.

Hanya mau katakan disini adalah, terlepas dari ambisi–kalau tahu kami lama menjadi pondasi gereja katolik, ya berikan kami kesempatan untuk memimpin dalam keuskupan Jayapura dan Timika sekarang.

Pada 2019 lalu, hampir 3000 umat katolik pribumi Papua meminta kepada Tahta Suci Vatikan agar sebelum mengumumkan siapa lima uskup baru di tanah Papua, lebih memprioritaskan pastor katolik asli–pribumi Papua.

Hari ini, setelah Pater Jack Mote, Pr; Nato Gobay, Pr; Neles Tebai, Pr; Yulianus Mote, Pr; Isak Resubun, MSC dan Andreas Trismadi, Pr, kami meminta kembali kepada Tahta Suci Vatikan, agar:

1. Uskup Jayapura dan Timika yang baru lebih memprioritaskan pastor katolik asli Papua

2. Pastor asli Papua dan non Papua yang lama bertugas di Papua; tahu situasi pastoral; tahu dinamika sosial, budaya, politik dan lainnya; tahu medan geografi, antropologis dan lainnya.

3. Kami tidak butuh uskup titipan penguasa dan pengusaha yang sarat dengan kepentingan politik dan ekonomi. Kami tidak mau pihak lain melakukan intervensi.

4. Kami menolak uskup baru yang buta akan situasi pastoral dan keluh kesah umat; kami tidak butuh uskup baru yang tidak memiliki kepekaan, kepedulian dan kemanusiaan. Kami tidak butuh uskup baru yang suka "selingkuh" atau lebih banyak menghabiskan waktu dengan penguasa, dan pengusaha.

5. Kami butuh pimpinan yang mampu menggembalakan domba-domba tanpa rasis–diskriminasi rasial. Kami hanya butuh seorang gembala mau menjadikan suka duka umat menjadi suka duka Gembala dan gereja katolik.

Admin/KM

Baca Juga, Artikel Terkait