Umat Katolik Papua Tidak Puas Terhadap  3 Tugas  Klerus: Diminta Uskup Jayapura Diganti

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

15 Hari yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Tanda Tangan Perwakilan Umat Katolik Tanah Papua. Ist

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com-- 23 April 2019 lalu mewakili seluruh umat Katolik Papua di Jayapura menyatakan sikap. Pernyataan ini lahir setelah  dinilai adalanya ketidakpuasan umat katolik di tanah Papua  terhadap tiga tugas  Klerus Uskup di Tanah Papua.  Tiga tugas klerus Uskup  yang dimaksud adalah: sebagai Nabi (mengajar), sebagai Imam (memimpin perayaan Misa), dan sebagai Raja (memimpin umat) di Keuskupan Jayapura.

 

Kepada semua pihak, Perwakilan Umat Dekenat Jayapura (Doni Gobay), Perwakilan Umat Dekenat Keerom (Robert Watae), Perwakilan Umat Dekenat Pegunungan Tengah (Benny Mawel), Perwakilan Umat Dekenat Pegunungan Bintang, (Apyimteam Gerald B. Kahibdana), Perwakilan Umat Katolik Keuskupan Agung Merauke (Maria Dedjan Winonop), Perwakilan Umat KatoliknKeuskupan Manokwari – sorong, (Benidiktus Bame)  menandatangani pernyataan sikap.

 

Pernyataan tersebut memuat 10 point doa dan harapan umat. Secara terbuka mereka pernah menyatakan di hadapan umat dan para pastor pada saaat  Perayaan 7 Hari Kepergiaan almarhum Pater Dr. Neles K. Tebai, Pr, di aula STFT Fajar Timur, Padang Bulan, Abepura, Papua, pada Rabu, 23 April 2019.

 

“Kami  tidak puas dengan segala bentuk kebijakan dan perubahan yang terjadi di dalam hirearki Keuskupan Jayapura pada belakangan ini. Kami sungguh merasakan betapa jauhnya hubungan antara umat, masalah, gembala, kebijakan dan 3 tugas klerus Uskup yakni; sebagai Nabi (mengajar), sebagai Imam (memimpin perayaan Misa), dan sebagai Raja (memimpin umat) di Keuskupan Jayapura,” paparnya dalam pernyataan sikap.

 

Saat penyataan itu dikeluarkan, perwakilan umat katolik di Papua juga telah mengadakan petisi. Petisi yang dilaksankan saat itu dengan tujuan bahwa seluruh  umat   Katolik Tanah Papua meminta  Bapa  Suci,  Paus  Fransiskus  di  Tahta  Suci  Vatikan  agar mengangkat Uskup Baru Keuskupan Jayapura dari kalangan Pastor Orang Asli Papua.

 

Untuk itu, Umat Katolik Papua Keuskupan Jayapura  dalam pernyataan sikap menyatakan bahwa dalam  misi  Klerus,  seorang uskup mengemban  3 tugas Kristus tersebut dinilai belum terlealisakan. “Belakangan ini umat katolik  sungguh “belum” merasakan itu di Keuskupan Jayapura ini. Justru dari waktu ke waktu kami mengalami beragam masalah tanpa ada ujung penyelesaiannya. Hingga banyak sekali orang – orang kami (pastor Orang Asli Papua)  meninggal dunia secara misterius dan tidak wajar. Cukup banyak tokoh Papua mati dalam kendali orang lain,” petik dari penyataan sikap.

 

Umat Katolik Papu di Keuskupan Jayapura, menilai  waktu ke waktu mengalami beragam masalah tanpa ada ujung penyelesaian. Hingga banyak sekali orang – orang kami (pastor Orang Asli Papua)  meninggal dunia secara misterius dan tidak wajar. “Cukup banyak tokoh Papua mati dalam kendali orang lain. Cukup 53 tahun kami dipimpin oleh orang lain. Saat ini kami sudah siap. Kami juga bisa memimpin,” katanya.

 

 Untuk itu,  momen peringatan 7 hari kematian Pater, Dr. Neles K. Tebai, Pr lalu, umat Katolik  minta dan mendesak Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM  untuk segera mengumumkan diri untuk mengundurkan diri dari Tahta Keuskupan Jayapura, dengan alasan usianya sudah menjelang 76 tahun.

 

Menurut Kitab Hukum Kanonik (Codex Luris Canonici), artikel 2 : Para Uskup Diosesan, yakni: Kan. 401 § 1 menyatakan bahwa: “Uskup Diosesan yang sudah berusia genap 75 tahun, diminta untuk mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Paus, yang akan mengambil keputusan setelah mempertimbangkan segala keadaan. Hukum Kanonik ini sangat membantu mereka untuk mempertanyakan usia dan jabatan Bapa Uskup, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM yang masih menakodai umat Katolik di Keuskupan Jayapura saat ini. Saat ini Bapa Uskup sudah mencapai usia 75 tahun. Pada Senin 4 Novemver 2019 mendatang, usianya tepat akan mencapai 76 tahun.

 

Pada 2015 lalu, tulis dalam pernyataan sikap,  umat Katolik Keuskupan Jayapura sudah mendengarkan berita terkait pergantian Uskup Keuskupan Jayapurtai. “Bapa Uskup sudah mengusulkan beberapa nama Pastor, termasuk almarhum Neles K. Tebai, Pr di Tahta Suci Vatikan untuk mengantikan posisinya. Tetapi sampai detik ini belum mengumumkan. Pertanyaannya, mengapa Bapa Uskup tidak mengumumkan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Uskup Keuskupan Jayapura? Mengapa Uskup tidak mengumumkan penggantinya pada 5 tahun belakangan ini? Apa alasannya? Apakah menunggu para colon Uskup (Dr. Neles K. Tebai, Pr) sakit, menderita dan meninggal dunia dan kemudian umumkan pengantinya?”

 

Belakangan ini, umat Katolik di Tanah Papua, banyak berdoa dan berharap supaya Pater Orang Asli Papua, Dr. Neles K. Tebai, Pr (kandidat/calon Uskup kuat) diangkat menjadi Uskup baru Keuskupan Jayapura. Dengan harapan dia mengembalikanwajah Gereja Katolik yang bercorak khas Papua. Tetapi hal itu semakin sulit karena beliau sudah pergi (meninggal dunia). Tentu saja doa dan harapan umat Katolik di jayapura perlahan terkikis dengan kepergiannya.

 

“Pada kesempatan ini, kami ingin bertanya lagi. Pastor siapa yang Uskup akan usul ke Tahta Suci Vatikan untuk mengantikan posisiPater, Dr. Neles K. Tebai, Pr yang baru menghadap Bapa di sorga?  Pastor yang akan mengantikan almarhum Neles itu, Orang Asli Papua atau non Papua?” paparnya.

 

Sampai saat ini, umat Katolik Keuskupan Jayapura sangat berharap sekali, agar para Pastor  Orang Asli Papua yang masih hidup dan memenuhi ketentuan – ketentuan Tahta Suci Vatikan dapat diusulkan dan diangkat menjadi Uskup Baru di Keuskupan Jayapura. “Kami minta supaya calon penganti Uskup Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM adalah Pastor Orang Asli Papua. Tetapi kami tahu itu sangat tidak mudah dan berat sekali. Karena prosesnya panjang dan rumit.Tetapi kami akan senantiasa berdoakepada Tuhan, supaya Vatikan mengangkat Pastor Orang Asli Papua yang pertama di Keuskupan Jayapura ini. Mengapa kami harus menyampaikan hal seperti ini? Tentu saja kami punya alasan.Kami ini pondasi Gereja Katolik Keuskupan Jayapura.”

 

Lebih tegasnya mereka mengatakan “Kami telah menjadi pondasi Gereja Katolik dan Keuskupan Jayapura selama 53 tahun. Tetapi kami rasa tidak seperti itu. Kami hanya rasa selayaknya simbol Gereja semata dan tamu di negeri orang lain. Kami yang dulunya dominan mengisi segala bidang karya pastoral, hari ini dikuasai oleh orang lain dan kami benar – benar terpinggirkan. Semua lini, baik di dalam hirearki maupun di luar seperti yayasan, instansi dan lain yang Gereja bangun dikendalikan oleh orang lain. Disini kami benar – benar mengalami marginalisasi secara sistematis dan berkelanjutan. Cukup kami sangat menderita dan sengsara dalam kendali orang lain. Kami tidak mau bertahan hidup seperti itu lagi.”

 

Oleh Karena itu, mereka (umat Katolik Papua) mohon, supaya semua orang/pihak yang terkait sudih membantu mengabulkan niat umat Katolik pada semestinya. “Karena kami rasa sangat tidak nyaman dengan kehidupan kami dalam hirearki ini,” katanya.

 

Umat Katolik Keuskupan Jayapura merasa sangat resah dengan kondisi Gereja hari ini. “Kami sangat bosan dengan berdoa dan mengharapkan perubahan di Keuskupan ini. Kami sangat muak dengan sikap dan kebijakan Gereja Katolik Keuskupan Jayapura yang tidak bijaksa napada saat ini.”

 

Untuk menindaklanjuti permohonan tersebut maka pada kesempatan momen perayaan 7 hari kepergian almarhum Pater, Dr. Neles Tebai, Pr lalu pernah menyatakan sikap dan mereka berharap segera diindahkan atas penyataan mereka.

 

Seperti yang terterah dalam pernyataan sikap yang diterima media ini, Umat Katolik Keuskupan Jayapura dengan tegas menyatakan bahwa:

 

Pertama, Kami umat Katolik Asli Papua, dengan tegas menyatakan pada hari ini,bahwa “Tahta Uskup Keuskupan Jayapura Segera Dikosongkan”. Mulai terhitung dari hari ini hingga Vatikan mengangkat Uskup Baru yang  berasal  dari  Pastor  Orang  Asli  Papua”.  Karena  kami  rasa,  Bapa  Uskup  sekarang  tidak menjalankan 3 pesan klerus yang menjadi tugas utamanya.

 

Kedua, Cukup 53 tahun berlalu. Mulai hari ini, dengan tegas kami menyatakan bahwa saatnya Keuskupan Jayapura dipimpin oleh pastor Orang Asli Papua.

 

Ketiga, Tidak boleh ada penyelamat “manusia” (umat)lain/baru di Kaeuskupan Jayapura, selain dari orang Katolik asli Papua.

 

Keempat, Kami  mengingatkan  dan  menegaskan  sejak  dini,  bahwa  kuota  penerimaan  siswa  (colon  imam)  di Seminari   Menengah   dan   Seminari   Tinggi   pada   tahun   ini   dan   seterusnya   harus   dan   wajib memprioritaskan Orang Asli Papua. Bahkan mulai hari ini juga kami tegaskan, agar tidak ada lagi calon imam Orang Asli Papua yang dipecat dan dikeluarkan dari Seminari Menengah dan Seminari Tinggi dengan alasan sepeleh, tidak masuk akal serta dikeluarkan tanpa alasan yang kurang logis!

 

Kelima, Kami  meminta  supaya  pihak  Seminari  Tinggi  (STFT  Fajar  Timur)  untuk  mempersiapkan  atau mengangkat beberapa dosen Orang Asli Papua sebagai dosen pengajar tetap. Untuk studi lanjut S2, S3 dan lainnya, ke depan harus dan wajib memprioritaskan Orang Asli Papua. Mulai sekarang stop menjatuhkan anak - anak Orang Asli Papua dari segi administrasi (nilai) dengan tujuan mempersempit langkah studi mereka pada jenjang studi lanjut/berikutnya.

 

Keenam, Kami  meminta  kepercayaan  untuk  duduk  di posisi  –  posisi strategis di dalam hierarki Keuskupan Jayapura, terlebih khusus di setiap yayasan seperti Dian Harapan, Rumah Sakit Dian Harapan, Yayasan Karya Mulia, Yayasan AMA, menghidupkan pendidikan berpola asrama dan lain sebagainya. Kami tidak menghendaki hirearki menjadi ciri kas tempat orang mencari makan dan basis kolonialisme.

 

Ketujuh, Jika  poin  1  –  6  terabaikan  atau  terbukti  tidak  mengindahkan,  maka  kami  akan  menyatakan  dan menfasilitasi diri untuk “menjadi bagian anggota Gereja Katolik Melanesia di Oceania (Pasifik).

 

Kedelapan, Untuk kuota Orang Asli Papua yang kalah jumlah, dipecat dan dikeluarkan dari Seminari Menengah dan Seminari Tinggi, kami pastikan bahwa ke depan kami akan bicara, bertindak dan kawal sebagaimana mestinya.

 

Kesembilan, Kami tegaskan pernyataan kami ini dari atas Makam Almarhum Pastor, tokoh Gereja Katolik Keuskupan Jayapura dan tokoh perdamaian bagi dunia, Dr. Neles K. Tebai, Pr,   di Halaman SFTT Fajar Timur, Abepura, Kota Jayapura, Papua, Indonesia.

 

Selanjutnya, dalam pernyataan sikap, tembusan ditujukkan kepada . 1)   Sri Paus di Tahta Suci Vatikan, Roma, 2) Bapa Duta Besar Vatikan Untuk Indonesia, 3) Para Uskup di Indonesia, 4) Pimpinan Seminari Menengah di Jayapura; 5) Pimpinan Seminari Tinggi di Jayapura, 6) Tokoh – Tokoh Umat Katolik, 7), Pihak – pihak yang berkepentingan, 8) Pimpinan Ordo Fransiskan OFM Di Papua, 9) Pimpinan Unio Projo, dan 10) Arsip.

 

Pewarta: Manfred Kudiai

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait