Upaya Intelejen Negara Menghancurkan Perjuangan Papua Melalui Slogan Pemecahan Gerakan

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

10 Hari yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
ilustrasi

 

Oleh Step Pigai*)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.COM--Kita masih belum merdeka. Kita masih dalam tahapan-tahapan perjuangan yang panjang. Sejarah bangsa kita tidak akan padamkan oleh siapa pun. Kitalah pemilik sejarah bangsa. Jangan kita menganggap biasa dengan perjuangan ini, tetapi kita harus pupuk baik nilai perjuangan yang sedang kita berjuang dan konsisten dalam perlawanan yang murni, karena saat ini terjadi dalam perjuangan bahwa semua individu (para perjuang) merasa bahwa saya yang terbaik (terhebat), padahal kondisi tersebut memupuk nilai keegoan yang berdampak pada strategi (taktik) perlawanan yang sudah ada.

 

Kita boleh tahu, perjuangan semakin tercecer oleh kejarnya kedudukan jabatan (pangkat) dan mengaku diri sebagai tokoh (aktivis) dalam perjuangan. Maka kita harus sadari, kita ini masih belum mendalami apa itu arti perjuangan yang sebenarnya sesuai sejarah penimdasan yang panjang. Dan kita harus tahu jika gengsi tumbuh subur dalam pergerakan, maka musuh mudah saja memanfaatkan momentnya untuk melakukan perpecahan antara kita sendiri.

 

Penulis hanya merefleksikan atas realita perpecahan yang sedang berupaya untuk mengadu domba antara pergerakan perjuangan murni? Pertanyanya merupakan apakah kita berjuang ini untuk hanya mencari popularitas nama? Ataukah demi membawah keselamatan bangsa dan tanah air Papua?

 

Penulis hanya mengkwatirkan atas kejadian (kondisi) pergerakan yang semakin runtuh. Sebab, ada orang Papua yang mengaku dirinya pejuang dan pimpinan bagi rakyat dan tanah, tetapi kita sendiri tidak sadar dalam realita perpecahan kita dimanfaatkan oleh kepentingan para Intelejen negara Indonesia.

 

Oleh sebab itu, kita jangan mudah terpengaruh dengan beberapa orang yang menjadi aikon, aktor utama penghambat (pengacau) dan datang sebagai penghancur gerakan perjuangannya. Kita harus jeli melihat dari latar belakannya, siapa itu dia yang kita sanjungkan sebagai seorang pimpinan (sang revolusioner). Maka, dalam tulisan singkat ini saya tegaskan bahwa KTT di Totiyo itu sudah melanggar prinsip-prinsip organisasi dalam perjuangan, karena sudah jelas bahwa ada kepentingan-kepentingan tersembunyi yang dimanfaatkan oleh Intelejen melalui beberapa oknum untuk menghancurkan gerakan pertahanan (gerilya). Seperti yang terjadi beberapa tahun lalu, ada oknum-oknum yang mengaku diri sebagai aktivis murni. Kondisi seperti ini berupaya menghancurkan gerakan sipil kota, namun upaya itu tidak mencapai target sehingga kini mereka membelok arah untuk meredamkan semangat perlawanan gerilya. Situasi seperti itu kerap kali terjadi dalam tahapan-tahapan sejarah perjuangan bangsa Papua. Jelasnya, orang-orang yang sama lagi muncul untuk melakukan KTT di Totio, ini bagian dari sebuah strategis Intelejen negara Indonesia.

 

Dalam kondisi demikian, salah satu tindakan yang dilakukan oleh Intelejen Negara Indonesia yaitu selalu berupaya keras untuk menghancurkan perjuangannya melalui tindakan mendualiskan pertahanan agar semangat api perlawanan dan perhatian publik di tingkat dunia Internasional, Nasional bahkan di tanah Papua terhadap TPNPB  OPM agar semakin menipis, karena saat ini aksi perlawanan semakin panas di beberapa wilayah yang dilakukan langsung oleh TPNPB OPM. Sangat miris, melihat dengan tindakan tersebut Intelejen selalu manfaatkan situasi dengan melibatkan beberapa oknum untuk melakukan KTT di Totiyo Paniai agar ada perpecahan dalam tubuh pertahanan.

 

Situasi seperti ini rakyat secara luas harus mengetahui bahwa KTT di Totiyo ada suatu upaya intelejen untuk menghancurkan semangat perjuangan dan untuk memecahkan kepercayaan rakyat terhadap TPNPB OPM murni yang sedang bergerilya di medan pertempuran.

 

Penulis adalah Aktivis Papua*)

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait