Uskup Timika Sahkan Paroki KSP Pupupapa Dakabo

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
MEEPAGO

Tentang Penulis
Admin Redaksi Kabar Mapegaa Online
Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr bersama umat paroki Dakabo, sebelum misa pemberkatan dan pengesahan. (foto: Yulianus/KM)

PANIAI, KABARMAPEGAA.com--Persiapan yang panjang, terhitung tahun 2015 pertama kali peletakan batu pertama yang dilakukan oleh pastor dekenat Paniai, Marten Kuayo, Pr  sampai dengan proses  pembangunan gedung Gereja usai pada akhir tahun  2017 dan pada tahun 2018 tepatnya pada tangg 16 Juni 2018, kerinduan masyarakat atau umat wilayah Dauwagu, Katuwo dan Bodatadi yang disingkat Dakabo itu terjawab setelah Uskup Keuskupan Timika, Jhon Pliph Saklil secara resmi sahkan quasi Dakabo menjadi sebuah Paroki Baru dengan nama Paroki Kristus Sang Penebus Pupupapa  Dakabo.

 

Untuk diketahui, sebelum mencetus quasi dan akhirnya menjadi paroki, ketiga wilayah ini tergabung di paroki Kristus Raja Komopa (paroki induk), keuskupan Timika. Pada yanggal 16 Juli 2018 secara adminitrasi keuskupan, resmi dinyatakan ketiga wilayah tersebut terlepas dari paroki induknya.

 

Hal ini tentunya melalui pengesahkan yang dilakukan oleh uskup keuskupan Timika dengan menyatakan “Dengan ini  saya mengesahkan quasi Dakabo menjadi paroki baru dalam nama Allh Bapa, Allah Putra dan Allah Rohkudus, Amin,” kata Uskup Keuskupan Timika saat mengesahkan paroki Dakabo.

 

Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr juga mengajak kepada umat Dakabo supaya tidak jual tanah adat kepada orang lain. Uskup  John, kepada umat yang dipimpinannya dalam satu tongkat pengembalaan ini mengajak supaya tidak menjual tanah adat atau dusung mereka kepada orang lain. “Orang Papua itu hidup dari alam bukan dari uang, kamu stop jual tanah sudah, kasihan anak cucu kita mau tinggal di mana setelah tanahnya dijual habis,” tegas Uskup.

 

Larangan keras jual tanah, tidak hanya disamapaikan kepada umatnya di Dakabo, akan tetapi sebelumnya pernah juga disampaikan  kepada umatnya di Modio, Distrik Mapiha Tengah, Dogiyai Papua, 26/6/2018) lalu.  Saat itu Uskup Timika deklarasikan gerakan “Stop Jual Tanah” .  Seperti yang dipetik dari tabloidjubi.com,  Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr  mengatakan, di atas bumi Papua terutama di wilayah yang dipimpinnya ada banyak kekayaan yang harus dijaga dan dilindungi oleh umat Katolik Meepago.  

 

"Stop jual tanah berarti menyelamatkan hidup kita dan generasi penerus. Karena orang asli Papua (OAP) tak bisa hidup tanpa tanah, walaupun banyak uang. Jangan menjual tanah agar tidak kehilangan harta benda berharga para pendahulu yang akan menyulitkan anak cucu di kemudian hari. Jaga baik dari ancaman jual beli tanah yang semakin marak dilakukan pemilik tanah dan menjadi kebiasaan baru. Tanah adalah mama  yang memberi hidup seperti lazimnya dinasehati leluhur," tegas Mgr. John Philip Saklil di hadapan ribuan umat, yang ditayang tabloidjubi.com  edisi Rabu, (28/6/2017).

 

Sementara itu, kepada umat Dakabo,  Mgr. John Philip Saklil  dalam kotbanya mengajak kepada umatnya agar menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghargai antar agama (kristen Protestan, Islam, Hindu, Budha ataupun Konghucu). “Keselamatan  itu melaui iman kita masing masing. Bukan kita diselamatkan oleh ketua Dewan Paroki, bukan Umat Katoliknya tetapi siapa yang memiliki Iman  dalam kehidupan dan pelayanan selanjutnya Ia akan memperoleh keselamatannya,” terang uskup.

 

Iman adalah percaya. Iman adalah karunia Allah, yang dikerjakan di dalam hati oleh Roh Kudus, yang menghidupkan dan memandu semua kemampuan kita menuju satu tujuan. Kita harus berdoa untuk memiliki iman, dan supaya iman kita bertumbuh. Iman kita juga akan diperkuat dengan selalu mengingat janji-janji Kristus yang berulangkali diucapkan bahwa doa-doa kita kepada Bapa, dalam nama-Nya, pasti akan dijawab kalau kita memintanya dengan iman, dan percaya sewaktu kita memintanya. Seperti kata Mgr. John,  iman kita itu bukan gedung Gereja atau simbol Paroki ataupun dewan paroki akan tetapi bagaimana kita bertindak sesuai iman adalah kita hidup damai secara pribadi ataupun sesama manusia.

 

Dengan disahkannya Paroki Baru dengan nama Paroki Kristus Sang Penebus Pupupapa  Dakabo, tentu memberikan semangat baru kepada umat paroki Dakabo yang dengan gigi mempersiapkan segala persiapan  guna memenuhi persyaratan, pembangunan gedung Gereja, serta semua yang dibutuhkan dalam membuat atau membagun Paroki Baru. Seperti yang disampaikan oleh ketua ketua Panitia Pengesahan Paroki Dakabo,  Fransiskus Bunai. “Kehadirannya Bpk Uskup Mgr Jhon Philip Saklil, Pr dan romongannya datang untuk mengesahkan quasi Dakabo menjadi Paroki Dakabo, sekaligus peletakan batu pertama pembangunan Aula Paroki Dakabo.”

 

Pengesahan paroki ini tidak semuda yang dibayangkan, sebab untuk mempersiapakan semua umat Dakabo berjuang selama kurang lebih empat tahun, terhitung sejak tahun 2015-2018. Dana Pemabangunan geraja Kristus Sang Penebus (KSP) Pupupapa Dakabo benar-banar hasil kerja dari Umat di wilayah Dauwagu, Katuwobaida, Bodatadi (Dakabo) yang masih di kampung maupun mereka yang hidup di kota. Serta sumbangan-sumbanagan yang datang dari berbagai peihak yang tak dapat disebutkan satu per satu. Dengan perjuangan yang panjang, akhirnya pihak keuskupan mengeluarkan SK penempatan paroki Baru.  Yohanes Wowudiyakebii Nawipa, Tim penggerak Deknat Paniai mengatakan  pemekaran quasi menuju paroki ini berdasarkan surat No: 044/Dekpan/2013.

 

Ibadah pengesahan dan  peletakan batu pertama pembangunan Aula Paroki ini dilakukan selama dua hari, terhitung tanggal 16 -17 Juni 2018.

 

(Manfred Kudiai/Yulianus Nawipa)

 

#Budaya

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait