Usut tuntas Penembakan di Dogiyai, FPRMAM dan IPMADO Semarang Gelar Aksi

Cinque Terre
Ancelmus Gobai

6 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
"Melayani dengan hati"
Pelajar dan Mahasiswa yang tergabung dalam Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme (FPRMAM) dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) Semarang  melangsungkan aksi  dari  patung kuda peleburan universitas Ponegoro hingga depan kapolda jawa tengah  Semarang. Jumat (25/5/2018). (Foto: Anselmus Gobai/KM)

 

SEMARANG, KABARMAPEGAA.com—Pelajar dan Mahasiswa yang tergabung dalam Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme (FPRMAM) dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) Semarang  melangsungkan aksi  dari  patung kuda peleburan universitas Ponegoro hingga depan kapolda jawa tengah  Semarang. Jumat (25/5/2018).  Dalam aksi ini mereka minta negara segara usut tuntas pelaku penembakan di Dogiyai yang  menewaskan nyawa Geri Goo pada tanggal, 09 Mei 2018.

Aksi yang diikuti oleh  kurang lebih  62 pelajar dan mahasiswa Papua dan partisipan  ini, membawa poster-poster yang menuliskan tuntutan singkat terkait pelanggaran HAM di tanah Papua.

Mereka tuntut  supaya adili pelaku pelanggaran HAM yang dilakukan  pada 06 April 2018 di Desa Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai dipicu oleh beberapa oknum polisi yang membuang rentetan tembakan di atas jembatan kali Mauwa pada malam itu, pukul 20:00 WIT.

Koordinator Lapangan, Step Iyai mengatakan kami orang Papua punya hak untuk hidup, bukan militerisme  yang memcabut nyawa orang Papua dengan cuma-cuma.

“Kami tidak lupa dan tinggal diam atas segala pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi Papua terutama di Dogiyai. Dengan ini kami menuntut supaya negara bertanggungjawab dan adili pelaku penembakan di Dogiyai,”  jelas Step saat diwawancara media kabarmapegaa.

Sementara itu, perwakilan Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme (FPRMAM) Yekson Gwijangge mengatakan rakyat Papualah yang diburuh, rakyat Papua dibunuh diatas tanah mereka sendiri.

“Untuk mengentikan semua kekerasan dan pelanggaram  HAM yang tak kunjung usai ini, Papua harus merdeka dan negara Indonesia harus mendukung itu, sebagaimana yang terterah dalam UUD 1945,” teriak Yekson dalam orasinya yang dipetik media ini.

Ini adalah sikap  yang dibacakan Yekson Gwijangge depan kantor POLDA Jawa Tengah yang di sampaikan Pelajar dan Mahasiswa yang tergabung dalam Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme (FPRMAM) dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) adalah sebagai :

 

  1. Menuntut kaporli Tito Karnavian agar memerintahkan kapolda papua segera menyeret pelaku pembunuh Geri Goo ke pengadilan dan memprosesnya atas pelanggaran tindakan pidana penembahakan yang di lakukannya.
  2. Menurut keporles Nabire dicopot jabatannya, di tuntut pertangganjawabannya, diperiksa dan diseret ke pengadilan atas beberapa pelanggaran HAM yang telah di lakukannya di Dogiyai.
  3. Menuntut Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kabupaten Dogiyai dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) agar secara membentuk pansus yang tugasnya mengawal dan memastikan keadilan secara hukum atau permbunuhan Geri Goo. Pansus yang di tuntut arus di bentuk ini bertugas mendata dan melaporkan, membantu pihat berwajib dalam hal data, untuk menyelesaikan secara hukum atas semua pelanggaran HAM yang terjadi.
  4. Menuntut negera segera menarik militer dari Kab Dogiyai dan tanah papua. Papua dapat menjaga dirinya sendiri tanpa aparat militer Indonesia yang justru meresahkan orang Papua.
  5. Menuntut dicabutnya izin usaha atas perusahana perusahan yang beroperesi d tanah papua milik korporasi kapital nasional dan internasional dan oknum orang papua yang bersekonkol dengan kaputalis imperialis nasional dan multi nasional atau asin yang dalam prakteknya bersekonkol dengan milite indonesia terus menerus mengorbankan rakyat papuademi bisnisi uang keamanana dan kelanjutan ekploitas mereka.
  6. Menuntut di berikan hak menentukan nasip sendiri sebagai solusi demokratis bagi beragam persoalan atas tanah papua.
  7. Buka ruang demokrasi dan akses bagi jurnalis dan media internasional dan nasional di Papua.

 

Aksi ini diakhir dengan pembacaan pernyataan sikap pukul 12.10 WIB. Dan sikap diatas diterima   dalam bentuk tulisan oleh kepala sentral pelayanan kepolisian POLDA Jawa Tengah.

 

Pewarta: Anselmus Gobai/KM

 

Baca Juga, Artikel Terkait