Victor  Yeimo: Menuju MSN,  Mogok Makan Nasi

Cinque Terre
Manfred Kudiai

3 Bulan yang lalu
KABAR PAPUA BARAT

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Viktor Yeimo, mantan Ketua umum Kominte Nasional Papua Barat (KNPB). Ist

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com- Victor Yeimo, mantan Ketua umum Kominte Nasional Papua Barat (KNPB) mengatakan mulai awal tahun 2019, dirinya telah memutuskan mogok makan Nasi dan kembali mengkonsumsi pangan lokal Papua setiap hari. Ini adalah bentuk dari kesadaran dan komitmen dirinya menuju Mogok Sipil Nasional (MSN).


Victor menjelaskan, ini sikap saya yang saya beritahu kepada Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang sedang persiapkan agenda "Mogok Sipil Nasional" bahwa untuk menuju kesana kita sendiri (pejuang) mulai boikot makanan milik kolonial dan kapitalis.


"Memang Nasi tidak beracun. Telah menjadi makanan pokok masyarakat dunia. Saya dibesarkan dengan Nasi dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai guru di kampung. Lambat laun, baru saya sadari bahwa beras (Nasi) adalah paket politik kolonial dan kapitalis (neoliberal)," jelas Vicor aktivis Papua Medeka ini saat dihubungi kabarmapegaa via pesan eletronik, J'umat, (8/2/2019).


Menurutnya, penguasa kolonial Indonesia, sejak orde baru menasionalisasi beras sebagai pangan nasional, menggantikan dan membunuh pangan lokal. Tujuannya agar orang Papua (yang berkebun) tidak berdaulat atas pangan lokal dan tetap tergantung pada beras milik para petani dari persawahan di Jawa dan negara lain.


"Juga agar politik ketergantungan pada pangan nasional (Nasi/beras) tetap terpelihara demi memperkokoh kedaulatan NKRI agar hubungan saling membutuhkan antara orang Papua dan kolonial dan kapitalis tetap kokoh. Agar sagu, keladi, ubi, singkong, pisang tidak menjadi komoditi yang unggul di bidang agrobisnis. Agar orang Papua tidak lagi berkebun. Dan kelak, orang Papua tidak lagi memiliki ketahanan pangan, sebagai faktor pertahanan kebangsaan-jati diri orang Papua," katanya.


Kalau kita tinggalkan beras dan mulai mengkonsumsi pangan lokal warisan leluhur moyang Papua, jelas Victor kita menghargai tanah air kita. "Kita membeli pangan lokal dari pedagang asli Papua (terutama mama-mama Papua) yang berkebun dan menjual di bawa terik matahari, bermandikan debu jalanan. Berarti kita hargai dan sayang, juga sebagai langkah membangkitkan pendapatan pedagang asli Papua, yang kian termarginal di bawa raksasa agrobisnis milik kolonial dan kapitalis."


Lanjut Victor, "Meninggalkan beras itu sama dengan meninggalkan kolonialisme Indonesia. Putus dengan Nasi itu sama dengan putus dengan kolonial dan kapitalis. Sebab kemerdekaan Papua tanpa ketahanan pangan lokal itu adalah kemerdekaan yang gagal kelak. Cintai pangan lokal itu sama dengan cintai jati diri kebangsaan Papua yang harus dibangun. Konsumsi pangan lokal itu adalah landasan pembangunan kebangsaan Papua dari dominasi hegemoni kolonial dan kapitalis di Papua,".


Mogok makan Nasi kata aktivis kemanusiaan Papua Barat ini, adalah suatu sikap perlawanan. "Kita tunjukkan dengan kesadaran yang dimulai dari pribadi pejuang rakyat, dan rakyat pejuang yang hendak menggalang kekuatan mengusir kolonial Indonesia dari Papua. Yang hendak merdeka, harus merdeka dari ketergantungan pangan dari luar Papua."


"Keputusan saya bulat. Semoga saya tetap komitmen, konsisten dan konsekuen untuk tidak mengkonsumsi nasi. Saya hanya akan makan nasi bila kelak ada "swasembada" beras dari sawah milik orang Papua, dengan corak produksi pangan bangsa Papua," jelasnya.


Kemudian, Victor juga minta kepada para pejuang kemerdekaan Papua Barat terlebih dahulu menyadari hal ini. Sebab menurutnya, Kita sadar dan boikot maka rakyat juga akan ikut kita untuk kembali ke makanan lokal Papua dan usir Nasi.


"Kemudian, rakyat Papua harus tahu bahwa bahwa agenda mogok sipil harus dimulai dengan memutuskan produk makanan milik kolonial dan kapitalis," tururnya mengakhiri.


Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Politik

#Komite Nasional Papua Barat (KNPB)

Baca Juga, Artikel Terkait