Vonis Enam Bulan Bagi Tahanan Korban Rasisme di Deiyai Amat Profesional

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Keterangan Foto: Enam Tahanan Korban Rasime berfoto bersama Kuasa Hukum serta Keluarga usai Putusan sidang di PN Nabire. (Foto: Facebook/KM)

Oleh : Hero Gobai

 

Perlu diketahui bersama, sejumlah penahanan Orang Asli Papua, khusus Mahasiswa dan aktivis Papua yang terlibat melakukan aksi serentak di daerah dan kota Provinsi Papua dan Papua Barat tentang Anti Rasisme. Aksi yang dilakukan adalah upaya untuk mengangkat harkat dan martabat Orang Asli Papua atas pelecehan dengan sebutan "Monyet" kepada Mahasiswa Papua yang kulia di  surabaya Jawa Timur pertengahan Agustus 2019 lalu.

 

Sebutan Monyet kepada Orang Papua, bukan baru terjadi di tanah air. Melainkan berkali-kali disebutkan kepada orang Papua, baik di dunia sepak bola, pemerintahan, Dunia Usaha dan di sektor-sektor lainnya. Sakit hati dengan sebutan Monyet  kepada orang Papua di tanah Papua mulai dibongkar ketika terjadi peristiwa  di Surabaya, Jawa Timur.

 

Rakyat dan Mahasiswa Papua gram akhirnya melakukan demonstrasi serentak yang terjadi di daerah dan kota Provinsi Papua dan Papua Barat hingga anarkis. Aksi serentar terjadi di akhir Agustus 2019.

 

Hingga akhinya Kapolri di bulan september 2019 lalu mengeluarkan pernyataan tentang menangkap aktor-aktor ricuh di Papua. Mulailah Proses penangkapan Korban Rasisme besar-besaran di mana-mana. diantaranya, Fak-Fak, Sorong, Manokwari, Deiyai, Jayapura, Wamena dan daerah lainnya.

 

Penahanan itu dituduh dengan pasal Makar, Penghasutan. iut Serta dan Mufakat. Hampir semua penahanan diberlakukan sama pasalnya.

 

Tepat pada Kamis, 19 Meret 2020, Pengadilan Negeri Nabire, Provinsi Papua memvonis enam bulan kepada enam tahanan korban Rasisme di Kabupaten Deiyai pada akhir september 2019 lalu.

 

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut satu tahanan hukuman penjarah. Namun, melihat konsistensi hukum dan keadilan maka, Majelis menjatuhkan hukuman 6 (enam) bulan hukuman tahanan.

 

Majelis hakim sangat profesional dalam memutuskan perkara. Dengan melihat pelaku Rasisme divonis hanya jalani hukuman lima bulan dan tujuh bulan hukuman penjarah. Sementara korban rasisme divonis enam bulan hukuman penjarah. Keputusan itu sangat bijak dan profesional.

 

Vonis enam bulan tahanan penjarah akan dikurangi dengan masa tahanan, maka di Hari Rabu 25 Maret 2020, enam tahanan Korban Rasisme akan dibebaskan demi hukum.

 

Dinamika tersebut dapat disandingkan dengan konsistensi  komitmen dan keberanian DPR Daerah Kabupaten Deiyai menjadi taruhan dalam persidangan. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran Wakil Rakyat kabupaten Deiyai sebagai saksi fakta dalam persidangan menjadi kesan tersendiri sepanjang sejarah hidup. bahkan DPR Deiyai pernah membacakan pernyataan dihadapan Hakim Majalis bahwa DPR Deiyai siap masuk tahanan bersama-sama dengan tahanan korban rasisme ketika usai memvonis enam tahanan rasisme.

 

Keberanian demi membela rakyat serta mahasiswa yang adalah aset deiyai kedepan menjadi taruhan garuda demi kepentingan pembanguan SDM Deiyai kedepan.

 

Dengan demikian, hampir penahanan korban Rasisme di berbagai daerah telah jalani proses persidangan hingga putusan. Sementara korban Rasisme yang ditahan di Jakarta, Balik Papan, Manokwari, Sorong, Jayapura sedang jalani proses persidangan hingga putusan.

 

Majalis Hakim, harus profesional putuskan perkara dengan seadil-adilnya. Karena tahanan rasisme adalah korban dari pada Rasisme bukan pelaku rasisme.  Pelaku Rasisme divonis hanya lima bulan dan tujuh bulan hukuman penjarah. Dan bahkan pelaku Rasisme sudah bebas. Sementara Korban Rasisme masih jalani persidangan.

 

Dengan demikian, harapan penulis,  Majelis Hakim harus profesional putuskan perkara ini.

 

Adapun Rekomendasi kepada pihak-pihak yang berwenang diantaranya:

 

1. DPR Papua, MRP, Gubernur Papua, Kapolda Papua dan Pangdam Papua segera bebaskan Tahanan Rasisme di Seluruh Indonesia

2. Virus Covid 19 telah merajala lelah di berbagai Negara bahkan di Indonesia dan telah masuk di berbagai wilayah di Indonesia. Tahanan Korban Rasisme di Balik Papan ditunda persidangan akibat virus covid 19.  Penundaan itu belum tentu akan berakhir dalam 14 hari kedepan sesuai libur Nasional. Maka, DPRP, MRP, Kapolda Papua, Pangdam Papua, Kejati Papua, Gubernur Papua segera pulangkan tujuh tahanan Rasisme di balik Papan. Agar bisa jalani persidangan di Papua.


Penulis Mahasiswa Papua Kulia di Jayapura.

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Mahasiswa Papua

#Belajar Menulis

Baca Juga, Artikel Terkait