Wanggi Hoed: Pantomim Itu Melawan Dengan Cara Damai

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

7 Bulan yang lalu
NASIONAL

Tentang Penulis
Wanggi Hoed Saat di Panggung (Dok. Pribadi)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Ketika pertunjukan Pantomim semakin langka di Indonesia di awal 2000-an, Wanggi Hoed, berusaha membawa kembali Pantomim ke panggung pertunjukan yang sudah lama ditinggalkan penontonnya. Namanya akrab di telinga pegiat seni di Jawa Barat dan juga di kalangan aktivis yang menyuarakan hak-hak kaum minoritas. Baginya, Pantomim itu melawan dengan cara damai.

 

“Saya mengenal Pantomi sejak 2004 dan sudah mulai tertarik. Tahun 2006 saya putuskan untuk lebih mengenal Pantomim,” kata laki-laki kelahiran Palimanan, Cirebon, 24 Mei 1988 ini kepada kabarmapegaa.com pada awal Desember 2018 lalu di Yogyakarta.

 

Lalu pada 2007, ia bersama beberapa rekannya membentuk komunitas Mixi Imajimime Theatre Indonesia. Di komunitas, ia dan rekan-rekan mulai belajar dasar-dasar pantomim seperti mengenal tubuh, seni menggerakan tubuh dan lain sebagainya. Dari sana, ia juga berusaha menggali lebih dalam Pantomim di Indonesia. 

 

“Saya tidak sengaja, pernah melihat salah satu buku yang membahas tentang Pantomim Jakarta dan Yogyakarta. Ada sebuah perjalanan yang diceritakan melalui buku itu oleh penulis buku Nur Ivantara yang kemudian memunculkan kegelisahan saya saat melihat Bandung terlewat dalam sejarah itu,” kata perintis Aksi Kamisan Bandung ini lagi.

 

Padahal, menurutnya ada satu sosok yang pernah belajar Pantomim langsung pada Seno Utoyo yaitu pendiri Sena Didi Mime yaitu Seno Utoyo dan Didi Petet Mime. Wanggi melihat ada garis sejarah yang putus yang menurutnya mungkin karena ada kepasifan dalam pengarsipan sehingga akhirnya Bandung terlewat. Hal ini menjadi titik tolak bagi dirinya untuk lebih mengembangkan kapasitasnya sebagai Pantomim profesional yang bisa membawa kembali nama kota Bandung ke sejarah Pantomim Indonesia.

 

“Beberapa waktu lalu, saya juga mencoba untuk masuk lebih dalam dengan program-program yang saya pikir efektif seperti backpacker di mana saya masukan unsur Pantomim sebagai bagian dari campaign,” ujar anak keempat dari lima bersaudara ini.

 

Dalam program ini, tujuan Wanggi dan rekan-rekannya adalah mengangkat sejarah dan budaya Indonesia melalui Pantomim dengan pendekatan ruang publik yang hadir di bangunan-bangunan tua bersejarah. Ini adalah bagian dari edukasi karena menurutnya, eksistensi manusia hari ini tidak terlepas dari masa lalu. Adapun thema yang diangkat saat itu adalah ‘Save Hatarige Bukan Hanya di Bibir Saja.’ Pihaknya merasa prihatin pada kondisi bangunan tua bersejarah yang tidak terawat dan bahkan ada yang dihancurkan.

 

“Bila sampai terjadi, kita akan kehilangan identitas. Khususnya kekayaan arsitektur warisan kolonial,” kata seniman Pantomim perwakilan Indonesia untuk World Mime Organisation yang berpusat di Beograde, Serbia.

 

Walaupun dibangun pada masa kolonial, menurutnya, bangunan itu adalah sejarah bangsa kita. Dalam prosesnya, ia mendapati kenyataan bahwa para pegiat warisan budaya itu hanya mengkampanyekan perlindungan bangunan-bangunan bersejarah tersebut hanya pada saat ada dana. Oleh karena itu, kami menggunakan momen tersebut untuk menjadi refleksi bagi semua pihak.

 

“Pantomim itu seni bahasa tubuh yang sunyi berbahasa universal, ada sebuah pesan yang tersembunyi dari tiap gerak dan imajinasi dalam kecepatan dan tempo tertentu. Pantomim itu bahasa perdamaian, bahasa untuk semua manusia yang hidup di bumi ini,”

 

Sementara dalam mengemas isu backpacker dengan pantomim, yaitu ketika kami mendapat peginapan, ia dan teman-teman komunitas memanfaatkan kesempatan itu dengan membuat pertunjukan di tempat menginap tersebut sebagai usaha mengenalkan pantomim dengan pesan-pesan kemanusiaan yang kami bawa. Sekaligus kami membangun networking.

 

“Pantomim itu melawan dengan cara damai,” ujar laki-laki Priangan yang baru saja menghadiri Festival Sastra Terbesar di Asia Tenggara, Ubud Writers and Readers Festival 2018.

 

Dirinya berkomitmen untuk terus memasuki ruang-ruang yang belum tersentuh dengan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan hal tersebut. Hal paling mudah dilakukan adalah, misalnya ada warga yang merekam pertunjukannya, ia akan menyebar ulang melalui media sosial.

 

“Beberapa kali saya memasuki ruang-ruang kemanusiaan berawal dari ketidaksengajaan yang akhirnya melahirkan narasi baru,” kata Wanggi saat ditanya tentang ketertarikannya dalam isu-isu kaum minoritas, termasuk juga isu-isu di wilayah konflik seperti Aceh dan Papua.

 

Laki-laki bernama asli Wanggi Hoediyatno ini dalam perjalanan karirnya kemudian bertemu kelompok penyintas, kelompok minoritas dan korban-korban diskriminasi yang kemudian menjadi bagian dari inspirasi bagi dirinya dalam berkarya. Ia berharap, pesan-pesan yang disampaikan di atas panggung dapat menjembatani masalah kemanusiaan karena menurutnya, negara ini masih diselimuti oleh kekerasan, termasuk militerisme.

 

“Dengan Pantomim ini, saya berharap dapat terjadi proses healing. Saya ingin menjadi bagian dari mereka, ingin meyakinkan bahwa mereka tidak sendiri,” ujar alumnus STSI Bandung ini.

 

Baginya, mengeksplore lebih dalam persoalan di wilayah-wilayah konflik seperti Aceh, Papua dan lain-lain adalah untuk menemukan cahaya. Cahaya yang melambangkan harapan. Di mana ia berharap agar kehadirannya dapat menjadi kekuatan. Ketika kata-kata sudah tidak lagi bermakna, bahasa diamlah yang harus lebih lantang, tentu harus dengan mengikuti aturan tata tertib yang ditetapkan oleh negara. Walau sudah menjadi rahasia umum bahwa kondisi Indonesia hari ini semakin buruk tetapi ia tetap optimis bahwa seni dapat menjembatani hal ini, mulai dari hal-hal kecil.

 

Ia berharap, semoga apa yang dilakukannya melalui gerak tubuh di panggung dengan pesan-pesannya dapat direalisasikan oleh pengambil kebijakan di negara ini. Pesan lain bagi teman-teman yang masih mencari, apa yang disuarakannya di berbagai even dapat mewakili komunitas Pantomim. Baginya, Pantomim bukan hanya sekedar lucu-lucuan karena saat ini Pantomim sudah menjadi virtual realism.

 

“Menghadapi kekerasan harus dengan cinta,” pungkasnya. (Admin/Aprila)

 

Editor: Manfred Kudiai/KM

 

#Budaya

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait